KENANGAN
KHUSUS
Rasa
bosan mulai menggelayuti ketika aku tetap duduk manis menantinya selesai
membaca, meski perpustakaan bukan tempat favoritku bahkan bisa dibilang tidak
pernah membuatku nyaman, tapi hampir
dipastikan setiap hari aku berada disini dibangku yang sama dan dimeja yang
sama dengan seseorang yang tentunya sama juga. Dua jam berlalu ia tidak
bergeming, terus menunduk, menatap setiap halaman dan membaca tiap kalimat yang
terangkai. Tentu ada alasan kuat yang membuatku tetap bertahan disisinya,
dengan ini aku menyatakan selalu ada untuknya.
“sudah
selesaikah ?”... anggukkan kepala menjadi penentu akhirnya aku bisa bernafas,
matanya tak lagi tertuju pada novel yang ia anggap telah berjasa dalam
hidupnya. “sampai mana ceritanya ?”.. “baru sampai pertengahan dimana konflik
antara Tegar dan Risa dimulai keduanya akan berpisah untuk melanjutkan studi
diluar negeri..” ia membaca dari awal sampai akhir dan berhenti sejenak ketika
matanya lelah, giliran bibirnya yang bergerak menceritakan kembali apa yang dia
baca kepadaku, momen ini yang aku suka ketika aku sudah bosan pada tingkat
tinggi ia akan menghilangkannya dengan bercerita tentang isi novel yang ia
baca, menanyakan pendapatku dan meminta saran cerita mana yang cocok untuk
dijadikannya bahan menulis cerpen. Sudah jadi hal rutin untukku membaca cerpen
karya Mutia, agar aku bisa memberi komentar dan masukan padanya. Bukannya
terpaksa karna aku tidak suka membaca, hanya karna perlu usaha dan kerja keras
untuk mendapatkan sesuatu.
“Kak
Berlian....?!!!!” teriakan Mutia sudah pasti karna ia mendapat Novel baru.
Mutia biasa nitip novel pada kakaknya yang juga suka koleksi buku. “kenapa ..
sms dari kak Meme ..? ada novel baru ?”.. “kali ini bukan itu,, cerpen ku
akhirnya dimuat dimajalah !!..yeeiii “ sorakan Mutia membuatku bangga tidak
sia-sia juga aku terus mendukungnya untuk tetap menulis dan mengirim cerpen
meski sudah berkali-kali ditolak. Kali ini Mutia pasti lebih bersemangat
membaca malah bisa jadi ia akan meningkatkan karya tulisnya, bukan cerpen lagi
melainkan jadi sebuah novel, apapun itu
aku tetap mendukungnya, sampai ia menyadari arti keberadaanku. Aku bukan
pengangguran seabrek pekerjaan masih menunggu. Hanya aku beruntung punya
pekerjaan yang fleksibel bisa ditinggal kapanpun.
Setelah
bersorak ia menelfon seseorang kayaknya teman sekolahnya, gaya bicaranya santai
dan akrab. Senyumnya merekah seakan seluruh keinginannya sudah tercapai. Aku
berdiri untuk pamitan “Mutia..? selamat atas dimuatnya cerpen Tia,, kakak
bangga akhirnya cerpen Tia bisa dibaca banyak orang, sekarang Mutia bisa
mendapat saran dari lebih banyak orang, yaudah kakak tinggal ya ? mau nerusin
kerjaan dulu..bye?”.
Bukan
kerjaan yang memaksaku pergi tapi rasa yang memaksa, saat HP nya diletakkan
setelah menelfon, nama kontak yang tertera membuat ku tak lagi bersemangat, “My
Love.. mungkin itu kontak seseorang yang ia cintai tapi dugaan awal ia adalah
teman sekolah bisa saja naik level menjadi pacar” anggapan dalam hati
bermunculan, tak mau pikiran jadi kacau lebih baik pergi menenangkan diri.
Biarpun itu pacarnya tak apa asal dia baik dan membuat Tia bahagia aku tak
keberatan toh Mutia menganggapku sebagai kaka dan orang yang akan memberi saran
pada cerpen hasil karyanya. Karna hati tak ikhlas untuk tersenyum dan pikiran
tak mau menanyakan siapa pemilik nomor kontak itu. Lebih baik pergi, setidanya
aku pernah ada disisinya memberikan kenangan khusus dan membantunya menjalani
hidup dengan baik, sadar diri saja orang yang sudah bekerja apalagi aku yang
penuh toleransi ini mana bisa harus berurusan dengan anak sekolahan karna
wanita, kalau saja aku yang punya hubungan itu, tapi sayangnya bagaimana jika
aku yang menjadi pengganggu. Sudahlah pergi dan bersikap sewajarnya adalah
pilihan terbaik, mungkin Tia akan merindukan kenangan khusus itu, bukan
sekarang atau nanti, tapi jika sudah ada disaat ia mengingat waktu itu.
#Syta_DwyRiskhi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar