Selasa, 03 Oktober 2017

CERPEN "Kenangan Khusus"



KENANGAN KHUSUS


Rasa bosan mulai menggelayuti ketika aku tetap duduk manis menantinya selesai membaca, meski perpustakaan bukan tempat favoritku bahkan bisa dibilang tidak pernah membuatku  nyaman, tapi hampir dipastikan setiap hari aku berada disini dibangku yang sama dan dimeja yang sama dengan seseorang yang tentunya sama juga. Dua jam berlalu ia tidak bergeming, terus menunduk, menatap setiap halaman dan membaca tiap kalimat yang terangkai. Tentu ada alasan kuat yang membuatku tetap bertahan disisinya, dengan ini aku menyatakan selalu ada untuknya.
“sudah selesaikah ?”... anggukkan kepala menjadi penentu akhirnya aku bisa bernafas, matanya tak lagi tertuju pada novel yang ia anggap telah berjasa dalam hidupnya. “sampai mana ceritanya ?”.. “baru sampai pertengahan dimana konflik antara Tegar dan Risa dimulai keduanya akan berpisah untuk melanjutkan studi diluar negeri..” ia membaca dari awal sampai akhir dan berhenti sejenak ketika matanya lelah, giliran bibirnya yang bergerak menceritakan kembali apa yang dia baca kepadaku, momen ini yang aku suka ketika aku sudah bosan pada tingkat tinggi ia akan menghilangkannya dengan bercerita tentang isi novel yang ia baca, menanyakan pendapatku dan meminta saran cerita mana yang cocok untuk dijadikannya bahan menulis cerpen. Sudah jadi hal rutin untukku membaca cerpen karya Mutia, agar aku bisa memberi komentar dan masukan padanya. Bukannya terpaksa karna aku tidak suka membaca, hanya karna perlu usaha dan kerja keras untuk mendapatkan sesuatu.
“Kak Berlian....?!!!!” teriakan Mutia sudah pasti karna ia mendapat Novel baru. Mutia biasa nitip novel pada kakaknya yang juga suka koleksi buku. “kenapa .. sms dari kak Meme ..? ada novel baru ?”.. “kali ini bukan itu,, cerpen ku akhirnya dimuat dimajalah !!..yeeiii “ sorakan Mutia membuatku bangga tidak sia-sia juga aku terus mendukungnya untuk tetap menulis dan mengirim cerpen meski sudah berkali-kali ditolak. Kali ini Mutia pasti lebih bersemangat membaca malah bisa jadi ia akan meningkatkan karya tulisnya, bukan cerpen lagi melainkan  jadi sebuah novel, apapun itu aku tetap mendukungnya, sampai ia menyadari arti keberadaanku. Aku bukan pengangguran seabrek pekerjaan masih menunggu. Hanya aku beruntung punya pekerjaan yang fleksibel bisa ditinggal kapanpun.
Setelah bersorak ia menelfon seseorang kayaknya teman sekolahnya, gaya bicaranya santai dan akrab. Senyumnya merekah seakan seluruh keinginannya sudah tercapai. Aku berdiri untuk pamitan “Mutia..? selamat atas dimuatnya cerpen Tia,, kakak bangga akhirnya cerpen Tia bisa dibaca banyak orang, sekarang Mutia bisa mendapat saran dari lebih banyak orang, yaudah kakak tinggal ya ? mau nerusin kerjaan dulu..bye?”.
Bukan kerjaan yang memaksaku pergi tapi rasa yang memaksa, saat HP nya diletakkan setelah menelfon, nama kontak yang tertera membuat ku tak lagi bersemangat, “My Love.. mungkin itu kontak seseorang yang ia cintai tapi dugaan awal ia adalah teman sekolah bisa saja naik level menjadi pacar” anggapan dalam hati bermunculan, tak mau pikiran jadi kacau lebih baik pergi menenangkan diri. Biarpun itu pacarnya tak apa asal dia baik dan membuat Tia bahagia aku tak keberatan toh Mutia menganggapku sebagai kaka dan orang yang akan memberi saran pada cerpen hasil karyanya. Karna hati tak ikhlas untuk tersenyum dan pikiran tak mau menanyakan siapa pemilik nomor kontak itu. Lebih baik pergi, setidanya aku pernah ada disisinya memberikan kenangan khusus dan membantunya menjalani hidup dengan baik, sadar diri saja orang yang sudah bekerja apalagi aku yang penuh toleransi ini mana bisa harus berurusan dengan anak sekolahan karna wanita, kalau saja aku yang punya hubungan itu, tapi sayangnya bagaimana jika aku yang menjadi pengganggu. Sudahlah pergi dan bersikap sewajarnya adalah pilihan terbaik, mungkin Tia akan merindukan kenangan khusus itu, bukan sekarang atau nanti, tapi jika sudah ada disaat ia mengingat waktu itu.

#Syta_DwyRiskhi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar