Senin, 02 Oktober 2017

CERPEN 'Siapa Dia'



Siapa Dia

Di awal bulan ini banyak harapan yang sudah aku tulis dalam buku harianku, diantaranya aku harus mendapatkannya dipertengahan bulan ini. Bukan Riski namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau. Pagi hari yang cerah saatnya mencari nafkah, jadwal siaranku dimulai pukul tujuh sampai jam sapuluh nanti, aku biasa siaran radio dipagi hari karena aku memilih bangun pagi dan bekerja, siangnya aku gunakan untuk istirahat dan sabtu-minggu aku siaran di malam hari. Pekerjaan yang sangat menyenangkan ini membuat aku betah tetap menjadi penyiar radio meski banyak tawaran pekerjaan lain.
“selamat pagi, Riski........??” sapa Mirna, salah satu teman kantorku. “sembilanpuluhenam poin tujuh Rabit Radio.. radionya anak muda,,!! Selamat pagi guys balik lagi nih barengan sama Riski yang siap untuk menemani aktifitas dipagi hari anda para pemuda..disini Riski bakal muterin musik-musik yang asiik untuk didengerin juga yang bisa membuat pagi anda lebih bersemangat, tentu juga anda bisa kirim salam dan minta putaran lagu kesukaan anda..oke langsung ajah yuk kita dengerin lagu yang satu ini dijamin nambah semangat anda semua...”.
 Beberapa hari ini aku agak riang gembira menyambut bulan kelahiranku, banyak harapan yang ingin aku dapatkan dibulan ini, “tungkling.....” suara hp ku berbunyi tanda pesan masuk, aku mendapat tawaran untuk jadi MC disuatu acara, langsung sikat lumayan untuk uang tambahan. Seseorang meminta ketemuan untuk membahas kerjasama. “haii... Riski..?” seorang cowok tinggi putih menyapa, “ohh.. haii juga ?? Andra ya .. yang tadi sms?”. Satu Setengah jam berlalu perbincangan kami sampai pada kesepakatan, aku harus meluangkan hari minggu ku untuk jadi MC diacara festival makanan yang diadakan Andra bersama timnya.
Aku tetap menunggu notice dari seseorang, berharap ia menanyakan kabarku, sudah lama sejak ia pergi keluar kota untuk bekerja ia tak lagi mengabari keadaannya, tapi dilihat dari postingannya di medsos sangat tidak mungkin ia menderita atau kesusahan diluar sana, tampak raut wajah yang ceria tanpa suatu masalah. Tri nama kakak tingkat yang dulunya pernah menyemangatiku untuk bergelut didunia siaran, karena dia pula aku bisa sampai sesukses ini jadi penyiar radio. Setidaknya ia berperan penting dalam kehidupanku meski tidak ada hubungan yang spesial diantara kami, berkomunikasipun cuma lewat medsos, jarang ketemu apalagi jalan bareng, mungkin dia tidak menganggapku lebih dari seorang teman, dia terlalu sibuk dengan berbagai komunitasnya dulu sewaktu di kampus.
Air mataku mengalir tiba-tiba, ternyata aku sangat mengharapkannya, kesedihan ini sungguh tidak beralasan, sebagai seorang wanita aku tidak bisa seterbuka itu dengannya, aku punya prinsip untuk selalu mendapatkan apa yang aku inginkan dengan berbagai cara, tapi tidak dengan yang satu ini, aku bahkan tidak punya rencana apapun untuk terus dekat dengan dia, yang aku ingat aku meminta doa untuk kelulusanku dan jawaban yang ku terima bukanlah dari dia melainkan wanita yang mungkin lebih dekat dengan dia, masih teringat jelas kata-katanya padaku untuk tidak menghubunginya lagi. Kenapa tidak? Rasa gengsi ku juga tinggi aku tidak menghubunginya lagi sampai ia yang menanyakan kembali kabarku, sekalipun aku tidak merasa dikhianati aku menerima sikap ramahnya kembali, sebenarnya komunikasi kami juga tidak lancar, sama sekali tidak ada topik pembahasan yang tepat intinya kami tidak nyambung saat berkomunikasi, tapi kekagumanku padanya memaksaku untuk terus merespon pesan darinya. Saat dia berangkat keluar kota dan meneruskan karirnya beberapa kali aku melihat postingannya bersama wanita yang mungkin lebih dekat dengannya, aku hanya diam dan menunggu, saat ia tiba-tiba muncul dan menghilang. Mungkin salahnya kami pernah bertemu, tapi rasanya aku tidak keberatan untuk menunggu dia, sekalipun aku kalah saing dengan beberapa wanita. Alasanku diam ?aku juga tidak paham betul apa yang aku rasakan, satu sisi aku sangat mengaguminya tapi sisi lain aku tidak punya kepercayaan diri bisa menjadi seseorang yang ia anggap spesial.
Tangisan dan khayalanku terhenti saat hpku berdering, “ hallo...?”, aku menjawab panggilan hp ku ”hallo... Riski??, maaf mengganggu..ini Andra yang tadi ketemu,,”..suara laki-laki ini berbeda dengan aslinya, “oohhh Andra....?? iya ada apa Ndra ?”, “gini loo.. kata temen-temen kita mau gladi resik hari sabtu besok,,gimana kira-kira kamu bisa gak ?”, “hari sabtu..bisa aja sih jam berapa sama tempatnya dimana?”. “nanti aku jemput kamu aja jam dua siang ya ?gimana?” Andra menawariku “oohh gitu? Oke gak masalah”, jawabku senang, “yaudah makasih ya?”. Beberapa menit setelah percakapan telepon barusan hp kembali berdering, tanda pesan masuk. “kamu tadi lagi apa? Maaf kalo ganggu”.. Andra mengirim pesan, kirain siapa dalam hatiku menyebut nama seseorang.
Hari berlalu dengan cepat, sampai dihari dimana aku harus gladi resik, disela-sela istirahat aku membuka medsos, tak salah lagi postingan Tri lewat, tulisannya bertemakan bola bidang olahraga yang sangat ia gemari, aku bingung bagaimana sikapnya pada wanita lain, apa sekaku sikapnya padaku, atau mungkin aku yang tak seberuntung wanita lain yang bisa lebih dekat dengan dia. Lamunanku pecah saat Andra menggoyangkan tangannya didepan mataku. ”Mikirin apa?” tanya dia hangat, “enggak, gak mikirin apa-apa”, “terus ngelamunin apa,sampai bengong gitu?”tanya dia penasaran, “emang aku bengong? Enggak kok cuma lagi konsentrasi ngapalin skript..hehe” jawabku ngeles. Beberapa menit berlalu dengan obrolan yang ringan. Membuat hatiku semakin miris, orang yang baru saja aku kenal kemarin mengajakku ngobrol dengan nyaman dan santai, obrolan ku dengan Andre juga nyambung bahkan bisa berlanjut kalau saja tidak ada acara yang mengikat waktu kami. Sedangkan orang yang sudah kukenal beberapa tahun mana pernah terjadi obrolan panjang yang membuat keduanya nyaman.
Akhirnya tiba hari ulang tahunku, bersama keluarga dan beberapa teman kami merayakan pesta kecil-kecilan, malam semakin larut tidak ada tanda-tanda kabar dari Tri, aku menunggunya mengucapkan selamat padaku cuma ini kesempatanku agar bisa berkomunikasi lagi dengan dia, banyak dari teman medsos yang mengucapkan, dan disela ucapan dari kawan-kawan terselip ucapan dari dia “selamat ulang tahun”, tiga kata yang terlalu singkat aku baca, saking singkatnya ucapan itu, aku sampai tidak mampu membalasnya. Aku biarkan tulisan itu berlalu terkubur dengan ucapan dari kawan-kawan. Sadar sesadar sadarnyaa inilah kesempatanku, tapi rasanya hatiku tidak rela untuk membalas ucapan itu bahkan sekedar menjawab terimakasih, mungkin karena yang terjadi tidak sesuai harapan, aku membiarkannya, tidak memikirkannya lagi, setidaknya dia masih menganggap aku ada dengan mengingat hari lahir ku.
Sepulang siaran di malam hari, aku berjalan menuju halte bus, sembari membuka medsos, kembali postingan Tri muncul, terlihat jelas betapa semangatnya dia menceritakan tentang acara kantornya yang baru saja membuka event. Hatiku berkata, mungkin aku tidak ada didalam kehidupan bahagianya, mungkin aku hanya orang yang dia kenal waktu dulu, waktu dia masih berada dimasa remaja, mungkin sekarang aku bukanlah orang yang berpengaruh dalam kehidupannya, mungkin aku tidak ada dalam daftar orang untuk masa depannya. Sangat lama mengenalnya, sangat lama pula untuk melupakannya, seakan dia menganggapku ada namun tidak memperlakukanku sama seperti dia memperlakukan teman-temannya yang lain.
Hpku kembali berdering tanda pesan masuk, ”haii.. Riski selamat ulang tahun ya,,maaf telat, semoga karirmu maskin sukses”. Pesan dari Andra sedikit menghiburku. Beberapa hari aku masih memikirkan Tri haruskah aku balas atau tidak mengingat sudah lama aku dan Tri tidak berkomunikasi, postingannya kembali tayang, sepertinya dia aktif di medsos tapi sekalipun tidak menyapaku, fotonya bersama wanita, salah satu komentar yang aku baca,”wah akhirnya bisa foto dengan idola”, jauh berbeda dengan style ku wanita yang ada disampingnya mungkin lebih hits dimatanya dibanding aku. Baiklah aku akan mengalah kali ini, aku tidak bisa mewujudkan keinginanku yang satu ini, biar dia bertingkah sesukanya, aku tidak perlu berdoa lagi untuk dia, mungkin doa orang lain lebih mempan, aku memutuskan untuk mendoakan diriku sendiri agar secepat mungkin melupakannya.
“keikhlasan hatiku bukanlah untuk dibalas cukuplah sekedar jadi kenangan waktu berjauhan...”, “yeeeiiii berikut lagu yang spesial dari penyanyi cantik Siti Nur Haliza, kupersembahkan buat anda yang masih setia dengerin Riski siaran dimalam minggu ini, semoga lagu barusan bisa menghidupkan suasana hati yang sedang galau, kita lupakan masalah, dan mencoba untuk tetap bergerak maju, so.. tetap semangat dan jangan putus harapan bagi galauers di malam minggu, Riski bakal stay lagi dimalam dan dijam yang sama buat nemenin malam minggu anda, Riski undur suara, terimakasih and bye..bye...”.
Aku menunggu taksi, karena sudah larut malam tidak ada lagi bus yang lewat, “Heii.. Risk, mau pulangkah ? bareng yuk ?”, ternyata Andra yang entah datang dari mana, tiba-tiba menawariku tumpangan. Aku bersedia saja karena memang sudah malam, tapi bukannya diantar pulang Andra malah mengajak ku makan di salah satu tempat makan yang indah. “Aku ajak makan dulu ya ? habis siaran pasti laper kan ? itung-itung hadiah uang tahun dari aku walaupun udah kelewat jauh,,, hehe”, ajakan yang ramah dan membuatku tersanjung.
“Selain siaran gaya mc mu juga bagus loh, aku dan teman-teman sangat berterimakasih atas kerja kerasmu bisa membuat acara kami jadi lebih meriah” ungkapan Andra yang kembali membuatku tersanjung. “Aahh... biasa aja masih perlu banyak belajar, tapi terimakasih juga atas pujian nya” jawabku sambil tersenyum.
Malam berlalu begitu cepat padahal serasa masih beberapa menit kami mengobrol dan menghabiskan makanan. “Ternyata cukup singkat juga pertemuan kita kali ini, udah hampir tengah malam, yuk aku anter pulang” ucap Andra, ini merupakan pertemuan yang membuatku sangat nyaman. Di tengah-tengah perjalanan aku kembali memikirkan Tri, tidak bisakah dia bersikap seperti ini padaku, membuatku nyaman dan tidak canggung. Tapi sebenarnya siapa yang benar-benar membuatku nyaman orang yang kini barada bersamaku atau dia yang kini nun jauh disana. Siapa dia yang mampu membuatku nyaman.
Baiklah Riski, cepat istirahat yaah, dan sampai ketemu besok”, ucap Andra membuatku penasaran memang kita mau ketemu lagi besok. “Iya terimakasih kamu juga hati-hati dijalan ya ?”kataku sambil melangkah masuk rumah. Di atas ranjang aku memikirkan mengapa aku jadi dekat dengan Andra, dia begitu perhatian dan membuat ku nyaman, tetapi bagaimana perasaan ku yang sesungguhnya, siapa sebenarnya yang aku suka, siapa dia yang akan menjadi pendampingku, siapa dia yang membuatku nyaman berada didekatnya, siapa dia yang akan jadi pilihan hatiku.
“Tok tok tok.... “ suara ketukan pintu di pagi hari “Riski, dapet undangan dari Tri, dateng ya?” tamu pembawa surat undangan pernikahan Tri. Aku membuka undangan itu sembari melahap sarapanku, sangat sulit bagiku menelan makanan, bahkan aku harus menghantam dada ku agar air yang ku teguk dapat masuk dalam perut.
“sembilanpuluhenam poin tujuh Rabit Radio.. radionya anak muda,,!! Selamat pagi guys jumpa lagi sama Riski yang pastinya akan setia nemenin pagi kalian, pagi-pagi harus semangat ya jangan sampai harimu mendung kalian juga bisa kirim salam dan minta lagu ya, nah sekarang Riski mau muterin salah satu lagu yang mewakili hati Riski, hehe dengerin ya dari Sheila On 7 Lapang dada.” Selesai siaran aku langsung pulang, aku duduk di teras dan kembali berpikir, sudahlah aku tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan, mungkin memang bukan dia, bukan dia yang diciptakan untuk ku. Pasti ada salah satu di sana yang memang tercipta untukku, yang pasti bukan Tri, siapapun dia aku berharap dia adalah yang terbaik.

#Syta_DwyRiskhi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar