Siapa
Dia
Di
awal bulan ini banyak harapan yang sudah aku tulis dalam buku harianku,
diantaranya aku harus mendapatkannya dipertengahan bulan ini. Bukan Riski
namanya jika tidak bisa mendapatkan apa yang ia mau. Pagi hari yang cerah
saatnya mencari nafkah, jadwal siaranku dimulai pukul tujuh sampai jam sapuluh
nanti, aku biasa siaran radio dipagi hari karena aku memilih bangun pagi dan
bekerja, siangnya aku gunakan untuk istirahat dan sabtu-minggu aku siaran di
malam hari. Pekerjaan yang sangat menyenangkan ini membuat aku betah tetap
menjadi penyiar radio meski banyak tawaran pekerjaan lain.
“selamat pagi, Riski........??”
sapa Mirna, salah satu teman kantorku. “sembilanpuluhenam
poin tujuh Rabit Radio.. radionya anak muda,,!! Selamat pagi guys balik lagi nih barengan sama Riski yang siap untuk
menemani aktifitas dipagi hari anda para pemuda..disini Riski bakal muterin
musik-musik yang asiik untuk didengerin juga yang bisa membuat pagi anda lebih
bersemangat, tentu juga anda bisa kirim salam dan minta putaran lagu kesukaan
anda..oke langsung ajah yuk kita dengerin lagu yang satu ini dijamin nambah
semangat anda semua...”.
Beberapa hari ini aku agak riang gembira
menyambut bulan kelahiranku, banyak harapan yang ingin aku dapatkan dibulan
ini, “tungkling.....” suara hp ku
berbunyi tanda pesan masuk, aku mendapat tawaran untuk jadi MC disuatu acara,
langsung sikat lumayan untuk uang tambahan. Seseorang meminta ketemuan untuk
membahas kerjasama. “haii... Riski..?”
seorang cowok tinggi putih menyapa, “ohh..
haii juga ?? Andra ya .. yang tadi sms?”. Satu Setengah jam berlalu
perbincangan kami sampai pada kesepakatan, aku harus meluangkan hari minggu ku
untuk jadi MC diacara festival makanan yang diadakan Andra bersama timnya.
Aku
tetap menunggu notice dari seseorang, berharap ia menanyakan kabarku, sudah
lama sejak ia pergi keluar kota untuk bekerja ia tak lagi mengabari keadaannya,
tapi dilihat dari postingannya di medsos sangat tidak mungkin ia menderita atau
kesusahan diluar sana, tampak raut wajah yang ceria tanpa suatu masalah. Tri
nama kakak tingkat yang dulunya pernah menyemangatiku untuk bergelut didunia
siaran, karena dia pula aku bisa sampai sesukses ini jadi penyiar radio.
Setidaknya ia berperan penting dalam kehidupanku meski tidak ada hubungan yang
spesial diantara kami, berkomunikasipun cuma lewat medsos, jarang ketemu
apalagi jalan bareng, mungkin dia tidak menganggapku lebih dari seorang teman,
dia terlalu sibuk dengan berbagai komunitasnya dulu sewaktu di kampus.
Air
mataku mengalir tiba-tiba, ternyata aku sangat mengharapkannya, kesedihan ini
sungguh tidak beralasan, sebagai seorang wanita aku tidak bisa seterbuka itu
dengannya, aku punya prinsip untuk selalu mendapatkan apa yang aku inginkan
dengan berbagai cara, tapi tidak dengan yang satu ini, aku bahkan tidak punya
rencana apapun untuk terus dekat dengan dia, yang aku ingat aku meminta doa
untuk kelulusanku dan jawaban yang ku terima bukanlah dari dia melainkan wanita
yang mungkin lebih dekat dengan dia, masih teringat jelas kata-katanya padaku
untuk tidak menghubunginya lagi. Kenapa tidak? Rasa gengsi ku juga tinggi aku
tidak menghubunginya lagi sampai ia yang menanyakan kembali kabarku, sekalipun
aku tidak merasa dikhianati aku menerima sikap ramahnya kembali, sebenarnya
komunikasi kami juga tidak lancar, sama sekali tidak ada topik pembahasan yang
tepat intinya kami tidak nyambung saat berkomunikasi, tapi kekagumanku padanya
memaksaku untuk terus merespon pesan darinya. Saat dia berangkat keluar kota
dan meneruskan karirnya beberapa kali aku melihat postingannya bersama wanita yang
mungkin lebih dekat dengannya, aku hanya diam dan menunggu, saat ia tiba-tiba
muncul dan menghilang. Mungkin salahnya kami pernah bertemu, tapi rasanya aku
tidak keberatan untuk menunggu dia, sekalipun aku kalah saing dengan beberapa
wanita. Alasanku diam ?aku juga tidak paham betul apa yang aku rasakan, satu
sisi aku sangat mengaguminya tapi sisi lain aku tidak punya kepercayaan diri
bisa menjadi seseorang yang ia anggap spesial.
Tangisan
dan khayalanku terhenti saat hpku berdering,
“ hallo...?”, aku menjawab panggilan hp ku ”hallo... Riski??, maaf mengganggu..ini Andra yang tadi ketemu,,”..suara
laki-laki ini berbeda dengan aslinya, “oohhh
Andra....?? iya ada apa Ndra ?”, “gini
loo.. kata temen-temen kita mau gladi resik hari sabtu besok,,gimana kira-kira
kamu bisa gak ?”, “hari sabtu..bisa
aja sih jam berapa sama tempatnya dimana?”. “nanti aku jemput kamu aja jam dua siang ya ?gimana?” Andra
menawariku “oohh gitu? Oke gak masalah”,
jawabku senang, “yaudah makasih ya?”.
Beberapa menit setelah percakapan telepon barusan hp kembali berdering, tanda
pesan masuk. “kamu tadi lagi apa? Maaf
kalo ganggu”.. Andra mengirim pesan, kirain siapa dalam hatiku menyebut
nama seseorang.
Hari
berlalu dengan cepat, sampai dihari dimana aku harus gladi resik, disela-sela istirahat
aku membuka medsos, tak salah lagi postingan Tri lewat, tulisannya bertemakan
bola bidang olahraga yang sangat ia gemari, aku bingung bagaimana sikapnya pada
wanita lain, apa sekaku sikapnya padaku, atau mungkin aku yang tak seberuntung
wanita lain yang bisa lebih dekat dengan dia. Lamunanku pecah saat Andra
menggoyangkan tangannya didepan mataku. ”Mikirin
apa?” tanya dia hangat, “enggak, gak
mikirin apa-apa”, “terus ngelamunin
apa,sampai bengong gitu?”tanya dia penasaran, “emang aku bengong? Enggak kok cuma lagi konsentrasi ngapalin
skript..hehe” jawabku ngeles. Beberapa menit berlalu dengan obrolan yang
ringan. Membuat hatiku semakin miris, orang yang baru saja aku kenal kemarin
mengajakku ngobrol dengan nyaman dan santai, obrolan ku dengan Andre juga
nyambung bahkan bisa berlanjut kalau saja tidak ada acara yang mengikat waktu
kami. Sedangkan orang yang sudah kukenal beberapa tahun mana pernah terjadi
obrolan panjang yang membuat keduanya nyaman.
Akhirnya
tiba hari ulang tahunku, bersama keluarga dan beberapa teman kami merayakan
pesta kecil-kecilan, malam semakin larut tidak ada tanda-tanda kabar dari Tri,
aku menunggunya mengucapkan selamat padaku cuma ini kesempatanku agar bisa
berkomunikasi lagi dengan dia, banyak dari teman medsos yang mengucapkan, dan
disela ucapan dari kawan-kawan terselip ucapan dari dia “selamat ulang tahun”,
tiga kata yang terlalu singkat aku baca, saking singkatnya ucapan itu, aku
sampai tidak mampu membalasnya. Aku biarkan tulisan itu berlalu terkubur dengan
ucapan dari kawan-kawan. Sadar sesadar sadarnyaa inilah kesempatanku, tapi
rasanya hatiku tidak rela untuk membalas ucapan itu bahkan sekedar menjawab
terimakasih, mungkin karena yang terjadi tidak sesuai harapan, aku
membiarkannya, tidak memikirkannya lagi, setidaknya dia masih menganggap aku
ada dengan mengingat hari lahir ku.
Sepulang
siaran di malam hari, aku berjalan menuju halte bus, sembari membuka medsos,
kembali postingan Tri muncul, terlihat jelas betapa semangatnya dia
menceritakan tentang acara kantornya yang baru saja membuka event. Hatiku
berkata, mungkin aku tidak ada didalam kehidupan bahagianya, mungkin aku hanya
orang yang dia kenal waktu dulu, waktu dia masih berada dimasa remaja, mungkin
sekarang aku bukanlah orang yang berpengaruh dalam kehidupannya, mungkin aku
tidak ada dalam daftar orang untuk masa depannya. Sangat lama mengenalnya,
sangat lama pula untuk melupakannya, seakan dia menganggapku ada namun tidak memperlakukanku
sama seperti dia memperlakukan teman-temannya yang lain.
Hpku
kembali berdering tanda pesan masuk, ”haii..
Riski selamat ulang tahun ya,,maaf telat, semoga karirmu maskin sukses”.
Pesan dari Andra sedikit menghiburku. Beberapa hari aku masih memikirkan Tri
haruskah aku balas atau tidak mengingat sudah lama aku dan Tri tidak berkomunikasi,
postingannya kembali tayang, sepertinya dia aktif di medsos tapi sekalipun
tidak menyapaku, fotonya bersama wanita, salah satu komentar yang aku baca,”wah
akhirnya bisa foto dengan idola”, jauh berbeda dengan style ku wanita yang ada
disampingnya mungkin lebih hits dimatanya dibanding aku. Baiklah aku akan
mengalah kali ini, aku tidak bisa mewujudkan keinginanku yang satu ini, biar
dia bertingkah sesukanya, aku tidak perlu berdoa lagi untuk dia, mungkin doa
orang lain lebih mempan, aku memutuskan untuk mendoakan diriku sendiri agar
secepat mungkin melupakannya.
“keikhlasan hatiku
bukanlah untuk dibalas cukuplah sekedar jadi kenangan waktu berjauhan...”,
“yeeeiiii berikut lagu yang spesial dari
penyanyi cantik Siti Nur Haliza, kupersembahkan buat anda yang masih setia
dengerin Riski siaran dimalam minggu ini, semoga lagu barusan bisa menghidupkan
suasana hati yang sedang galau, kita lupakan masalah, dan mencoba untuk tetap
bergerak maju, so.. tetap semangat dan jangan putus harapan bagi galauers di
malam minggu, Riski bakal stay lagi dimalam dan dijam yang sama buat nemenin
malam minggu anda, Riski undur suara, terimakasih and bye..bye...”.
Aku
menunggu taksi, karena sudah larut malam tidak ada lagi bus yang lewat, “Heii.. Risk, mau pulangkah ? bareng yuk ?”,
ternyata Andra yang entah datang dari mana, tiba-tiba menawariku tumpangan. Aku
bersedia saja karena memang sudah malam, tapi bukannya diantar pulang Andra
malah mengajak ku makan di salah satu tempat makan yang indah. “Aku ajak makan dulu ya ? habis siaran pasti
laper kan ? itung-itung hadiah uang tahun dari aku walaupun udah kelewat
jauh,,, hehe”, ajakan yang ramah dan membuatku tersanjung.
“Selain siaran gaya mc
mu juga bagus loh, aku dan teman-teman sangat berterimakasih atas kerja kerasmu
bisa membuat acara kami jadi lebih meriah” ungkapan Andra
yang kembali membuatku tersanjung. “Aahh...
biasa aja masih perlu banyak belajar, tapi terimakasih juga atas pujian nya”
jawabku sambil tersenyum.
Malam
berlalu begitu cepat padahal serasa masih beberapa menit kami mengobrol dan
menghabiskan makanan. “Ternyata cukup
singkat juga pertemuan kita kali ini, udah hampir tengah malam, yuk aku anter
pulang” ucap Andra, ini merupakan pertemuan yang membuatku sangat nyaman.
Di tengah-tengah perjalanan aku kembali memikirkan Tri, tidak bisakah dia
bersikap seperti ini padaku, membuatku nyaman dan tidak canggung. Tapi
sebenarnya siapa yang benar-benar membuatku nyaman orang yang kini barada
bersamaku atau dia yang kini nun jauh disana. Siapa dia yang mampu membuatku
nyaman.
“Baiklah Riski, cepat istirahat yaah, dan
sampai ketemu besok”, ucap Andra membuatku penasaran memang kita mau ketemu
lagi besok. “Iya terimakasih kamu juga
hati-hati dijalan ya ?”kataku sambil melangkah masuk rumah. Di atas ranjang
aku memikirkan mengapa aku jadi dekat dengan Andra, dia begitu perhatian dan
membuat ku nyaman, tetapi bagaimana perasaan ku yang sesungguhnya, siapa
sebenarnya yang aku suka, siapa dia yang akan menjadi pendampingku, siapa dia
yang membuatku nyaman berada didekatnya, siapa dia yang akan jadi pilihan
hatiku.
“Tok tok tok.... “
suara ketukan pintu di pagi hari “Riski,
dapet undangan dari Tri, dateng ya?” tamu pembawa surat undangan pernikahan
Tri. Aku membuka undangan itu sembari melahap sarapanku, sangat sulit bagiku
menelan makanan, bahkan aku harus menghantam dada ku agar air yang ku teguk
dapat masuk dalam perut.
“sembilanpuluhenam poin
tujuh Rabit Radio.. radionya anak muda,,!! Selamat pagi guys jumpa lagi sama Riski yang
pastinya akan setia nemenin pagi kalian, pagi-pagi harus semangat ya jangan
sampai harimu mendung kalian juga bisa kirim salam dan minta lagu ya, nah
sekarang Riski mau muterin salah satu lagu yang mewakili hati Riski, hehe
dengerin ya dari Sheila On 7 Lapang dada.” Selesai siaran aku langsung
pulang, aku duduk di teras dan kembali berpikir, sudahlah aku tidak boleh
berlarut-larut dalam kesedihan, mungkin memang bukan dia, bukan dia yang
diciptakan untuk ku. Pasti ada salah satu di sana yang memang tercipta untukku,
yang pasti bukan Tri, siapapun dia aku berharap dia adalah yang terbaik.
#Syta_DwyRiskhi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar