Lampu
Kamar Itu
Belum lama ini aku pindah kos, kamar
baru lingkungan baru dan para tetangga baru, awal perkenalan dengan para
tetangga berlangsung saat papasan mungkin ke kamar mandi atau ke dapur, saling
menyapa dan bertanya nama , kamarku punya tetangga kamar kanan dan kiri sebelah
kanan bernama Elsa, dan tetangga kiri entah belum ketemu penghuninya, dia tidak
punya tetangga selain kamarku karena sebelah kirinya kamar mandi, sebelah
kanannya kamarku, dan kamar Elsa, sebelah kanan kamar Elsa dihuni oleh tiga
orang mereka kakak adik yang rukun Nana,Nini dan Nunu. Lorong kos kami hanya
ada empat kamar dengan dua kamar mandi dan dapur.
Aku bersiap untuk tidur karena waktu
menunjukkan pukul sebelas malam, aku tidak bisa tidur dalam keadaan terang,
selalu lampu kamar aku matikan, saat mata hendak terpejam, diwaktu yang sama
kamarku diterangi oleh lampu yang menyelinap dari kamar tetangga sebelah
kiriku, aku menoleh ke jendela yang berada di tembok atas sebelah kiri, “duh..bakal susah tidur nihh”..pikirku,
meski remang-remang aku tidak bisa tidur. “untung
hanya ada satu jendela disebelah kiri, bagaimana jika kedua tembok ada
jendelanya..? bagaimana jika tetangga baru ini tidak mematikan lampunya saat
tidur..?” aku bergumam dalam hati sambil merengut kenapa nyalakan lampu jam
segini. Dua puluh menit berlalu lampu kamar itu padam keadaan menjadi gelap
gulita, aku tersenyum dan memejamkan mata, tapi dalam hatiku bertanya siapa
tetangga baruku ini, apakah baru pindah juga atau penghuni lama, tapi sudah
tiga hari kamar itu kosong dan baru kali ini lampunya menyala, mungkin memang
tetangga baru.
Hari ini kelas pagi, seperti biasa
kesiangan, aku sudah mengalungkan handuk dileher, pintu kamar mandi tertutup,
terpaksa antri. Pintu terbuka seseorang dengan piama biru keluar dari pintu
tanpa menoleh kearahku ia langsung berlalu melewatiku dengan menggosokkan
handuk kekepalanya yang berambut basah, ada rasa penasaran siapa wanita itu
tetapi aku tidak terlalu perduli karena waktu yang sudah hampir siang. “Ohh.. hari ini sangat melelahkan kenapa
aku selalu mendapat kelompok yang tidak membuatku nyaman, saking sebalnya aku
benar-benar tidak bisa mengerjakan tugas-tugas itu”. Hari sudah sore saat
aku berjalan dari kamar mandi menuju kamar tidur aku menoleh ke kamar yang
semalam lampunya menyala tidak ada tanda bahwa ada orang didalamnya lampu mati,
pintu tertutup rapat dan hening tiada suara. Aku masuk kamar menyalakan lampu,
merebahkan diri ditempat tidur,,”ahh...
gini banget kehidupanku kuliah pulang,kuliah pulang, mau bagaimana lagi tidak
satupun kegiatan kampus yang membuatku tertarik..” pintu kamar Elsa terbuka
aku berkunjung dengan maksud menanyakan tetangga baru. “tidak aku tidak melihat siapapun hari ini kecuali Nana, dan tidak ada
yang masuk ataupun keluar dari kamar itu” jawaban Elsa membuat aku
penasaran siapa penghuni kamar itu.
Tepat jam sebelas malam waktunya tidur
dan mimpi indah, kejadian yang sama seperti malam sebelumnya, lampu kamar itu
menyala, sinarnya sedikit menerangi kamarku melalui jendela, aku terganggu dan
berniat mengetuk kamarnya apakah ia baru pulang atau bagaimana, tapi rasanya tidak
enak hati menegurnya. Tubuhku berbolak balik tidak bisa tidur, sangat
menyebalkan ketika sudah malam begini tapi aku belum tidur, besok pasti
kesiangan lagi. Sekitar duapuluh menit berlalu lampu kamar itu padam, aku lega
dan berusaha tidur karena hampir jam duabelas malam. Lagi dan lagi aku
kesiangan berlari menuju kelas dimana dosen tidak memberi toleransi
keterlambatan. Jam pertama aku habiskan dikantin mau bagaimana lagi aku sudah
terlambat masuk. Hari berlalu dengan cepat setelah mandi aku berkunjung lagi
kekamar Elsa menanyakan lagi soal penghuni kamar itu. Jawabannya sama, Elsa
tidak bertemu atau melihat siapapun dikamar itu pintunya selalu tertutup.
Malam kunikmati dengan bermain game
mendengarkan musik dan mengkhayal sampai jam sebelas, sebenarnya aku belum
mengantuk tapi aku harus tidur daripada kebiasaan terlambatku meningkat, soal
tugas aku biasa mengerjakan di waktu pengumpulannya sudah mepet, aku juga tidak
tertarik untuk belajar, lampu kamar itu kembali menyala, sepertinya sipenghuni
pulang tiap jam sebelas malam, kamarku harus benar-benar gelap agar aku bisa
tidur. “aneh tidak ada suara yang
menandakan kedatangan seseorang, kamarnyapun senyap, tapi selalu menyalakan
lampu dijam segini”. Penasaran tapi
sayangnya aku tidak pernah lagi bertemu dengannya semenjak ia keluar dari kamar
mandi pagi itu, tetangga kamar yang lainpun tidak pernah melihatnya. Tidak
lebih dari duapuluh menit lampu kamar itu mati, “akhirnya gelap..”.
Mungkin ini hari sialku aku ditegur
dosen karena sering terlambat, rasanya aku ingin berubah aku juga punya rasa
malu pada teman-teman. Sepulang kuliah aku berpikir keras bagaimana caranya
agar aku bisa berangkat pagi, “aha....aku
harus tidur sebelum penghuni kamar itu menyalakan lampu yang sangat
menggangguku,” aku juga berniat membaca buku, tidak salah lagi rasa ngantuk
menggelayuti, pukul sembilan aku mematikan lampu kamarku bersiap untuk tidur
sebelum terganggu oleh lampu kamar sebelah yang menyala .Benar saja aku bisa
bangun pagi dan berangkat tanpa terburu-buru. Malam selanjutnya aku berusaha
mengerjakan tugas, aku harus selesai sebelum lampu kamar itu menyala, dan
membuat tidurku terganggu. Aku sudah terbiasa tidur dibawah jam sebelas malam,
sekarang aku tidak lagi terganggu dengan lampu kamar itu yang menyala setiap
jam sebelas malam, ditambah lagi aku tidak merasakan keberadaan penghuni
dikamar itu, aku terlalu sibuk dengan tugas-tugasku yang mulai sekarang aku
cicil pengerjaannya, aku tidak lagi bertanya tentang sipenghuni kamar itu, aku
sudah memulai hidup baru.
Di suatu sore aku bertemu dengan ibu
kos yang sedang menyapu halaman, aku menyapanya dan sedikit berbincang, tidak
lama aku teringat dengan sipenghuni kamar itu, aku bertanya pada ibu kos siapa
yang menghuni kamar sebelah ku tepat disamping kamar mandi, apakah mahasiswa
atau sudah bekerja, aku rasa ia sudah bekerja karena jadwal pulang malamnya
yang terlalu larut bagi seorang mahasiswa.
Aku berjalan pelan menuju kamar, dahiku
mengkerut dengan langkah yang berat, jawaban ibu kos bagaikan petir disiang
bolong, bagaimana mungkin kamar itu tidak berpenghuni sedangkan aku melihat
dengan jelas lampu kamar itu menyala setiap malam, dan wanita yang keluar dari
kamar mandi pagi itu, aku benar-benar melihatnya.
Semua yang ada dalam pikiranku membuat
ku enggan untuk menoleh kekamar itu, lagipula jika ada penghuninya mana mungkin
ibu kos berbohong. Tapi kejadian aneh selama ini sudah merubahku menjadi yang
lebih baik entah itu karena magic atau apapun aku merasa lebih nyaman menjalani
aktivitasku sebagai mahasiswa. Aku tidur sebelum lampu kamar itu menyala, mandi
sebelum mengantri, berangkat tanpa terburu-buru, dan tugas-tugasku kelar dengan
hasil yang lumayan.
Sekarang aku tidak lagi tahu lampu kamar itu menyala tiap
jam sebelas malam atau tidak, kamar itu ada penghuninya atau tidak atau
mengenai siapa yang menyalakan lampu dikamar itu aku tidak mau tahu daripada
aku merinding membahasnya, lebih baik lupakan saja dan menganggapnya sesuatu
hal lain yang memang harus ada untuk saling berdampingan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar