Mental Kuli
Lampu
merah tanda berhenti, aku menyebrang saat semua kendaraan mulai berhenti,
berjalan ditrotoar menuju ibu-ibu yang membawa seabrek koran, “beli satu bu, berapa?” tanya ku sambil
milih-milih koran yang akan kubeli, “tiga
ribu aja mbak”, satu bandel koran ditanganku kumasukkan dalam tas, aku
kembali menyebrangi jalan, kembali pulang ke kos dan mulai membuka lembar demi
lembar koran yang kubeli tadi, tujuan utamaku pada lembar loker, dengan teliti
aku membaca satu persatu lowongan pekerjaan yang tercantum aku lingkari yang
sekiranya menerima lamaranku, beberapa nomor yang tercantum sudah aku hubungi,
karena aku termasuk orang yang malas aku tidak tertarik dengan persyaratan
lamaran yang terlalu ribet lagipula jadwal kuliahku masih padat aku hanya
mencari pekerjaan paruh waktu yang tidak memerlukan lamaran resmi atau
pekerjaan yang mengikat. Satu perusahaan yang merespon ku dengan cepat,
sesegera mungkin aku mencari tahu profil tentang perusahaan ini.
“Ahhh...berapa jauh
lagi aku harus berjalan”, alamat yang berada ditanganku tak
kunjung kutemui, kubertanya pada tukang bangunan yang sedang istirahat, dimana
letak perusahaan yang kucari, “lurus
terus saja mengikuti jalan ini, nanti akan ketemu”. Baiklah aku terus saja
berjalan, akhirnya sampai, papan nama perusahaan terpampang, aku melihat
perusahaan yang kutuju lebih tepatnya
seperti kios yang dijadikan seperti kantor, “selamat siang ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang bapak yang
berpakaian rapi menyambutku, aku duduk dihadapannya seolah sedang wawancara, “nama saya Riri dewisa, status mahasiswa,
berniat melamar kerja diperusahaan ini, saya mendapat informasi dari koran, dan
langsung menghubungi nomor yang tercantum, lalu saya disuruh datang langsung ke
alamat ini”, si bapak kemudian menjelaskan profil perusahaannya, dengan
sesekali menanyakan pertanyaan padaku. Kemudian
aku disuruh membayar sepuluh ribu rupiah untuk administrasi, perasaan sudah
aneh, si bapak mengarahkanku untuk masuk kedalam ruangan menghadap seseorang,
terlihat bapak-bapak berpakaian rapi duduk menantiku, tanpa basa-basi ia
menjelaskan sistem kerjanya, aku mendengarkan dengan seksama, sibapak terus
saja mengoceh sampai menceritakan kisah karyawan-karyawan yang sudah ikut
bergabung dengannya, aku tersenyum dan mengangguk-anggukkan kepala seolah
mengerti. Di akhir cerita sibapak menawarkanku beberapa pilihan untuk bergabung
dengannya dengan sejumlah uang yang harus aku bayarkan, tanpa pikir panjang aku
menolak untuk membayar saat itu juga aku beralasan belum pegang uang dan masih
pikir-pikir dulu apakah aku yakin akan bergabung atau tidak, dengan senyuman
ramah tamah aku permisi dengan sopan, sesampainya diluar aku mengoceh tiada
henti, bagaimana bisa ada pekerjaan seperti itu, aku harus membayarkan sejumlah
uang untuk bergabung kemudian pekerjaanku hanya mencari orang untuk aku mintai
uangnya, dan menyuruhnya mencari orang lagi untuk membayarnya, apapun itu meski
orang-orang disana sukses dan berjaya, aku tidak tertarik dengan pekerjaan
untung-untungan seperti itu.
Sesampai
dikos kurebahkan tubuhku, merenggangkan otot-otot, “oohhh capek sekali” wajahku lesu melihat kakiku lecet akibat
sepatu yang aku pakai untuk berjalan jarak jauh. “Aku harus mencari pekerjaan yang pasti-pasti saja, tidak perlu
diperusahaan besar atau apalah yang tidak jelas” kata-kata dalam hati
membuatku semangat mencari pekerjaan lagi, kakiku sudah kuplester aku sudah
sanggup berjalan lagi, pekerjaan sekeras apapun akan kuterima asal jelas dan
pasti, dari kejauhan sudah terlihat tulisan butuh karyawan, aku melihat dengan
seksama, yah sudah jelas itu tempat laundry, kaki ku melangkah mendekati tempat
itu, nampak seorang wanita sedang sibuk menjemur beberapa pakaian,”permisi..mau tanya disini sedang membutuhkan
karyawan betul?”, “oh iya dek, mbak
lagi butuh karyawan untuk bantu pekerjaan mbak disini, adek minat?”
suaranya ceria menyambutku dengan semangat, “iya
mbak kira-kira syaratnya apa ya agar saya bisa kerja disini?”.
Tidak
perlu syarat yang muluk-muluk, aku sudah diterima bekerja, jadwal kerjaku mulai
jam empat sore sampai jam sembilan malam, pekerjaanku menyetrika baju dan
merapikannya kedalam plastik. Jangan dibayangkan bagaimana pekerjaan yang
kulakukan untuk ukuranku sebagai mahasiswa baru yang kemarin masih si
setrikakan seragamnya oleh ibuku, aku tidak terlalu berpengalaman soal
menyetrika baju, banyaknya model baju membuatku harus berfikir keras bagaimana
menyetrikanya agar menjadi lipatan baju yang rapi, model baju wanita jaman
sekarang memang super canggih, panjang yang tidak sama, kain yang susah
disetrika, model berumbai-rumbai dan lain sebagainya.
Hari
demi hari kulalui di tempat kerja, tenaga ekstra yang harus kusiapkan untuk
menghadapi baju-baju itu membuat seluruh badanku penuh keringat, aahh
itung-itung mengurangi lemak pikirku, sebelumnya tak pernah terfikir olehku
sampai begininya aku mencari uang demi sesuatu, sederhana saja alasan mengapa
aku bekerja paruh waktu disela-sela jadwal kuliahku, bukan berarti uang
bulananku kurang, tetapi aku butuh uang lebih untuk aku kumpulkan, untuk aku
tabung.
Sekarang
tentu banyak keinginan yang ingin ku capai, aku ingin menghasilkan sesuatu dari
kerja kerasku sendiri, dari keringatku sendiri, dari usahaku sendiri, dengan
begitu aku mempunyai kepuasan tersendiri atas pencapaianku, aku mendapat gaji,
aku mendapat pengalaman, dan aku mendapatkan apa yang aku inginkan dengan gaji
yang kuterima.
Anggap
saja aku menggunakan mental kuli untuk mengawali karirku, karena minim
pengalaman , dan belum siap menggunakan background pendidikan, selepas
pengalaman ini, aku akan menggunakan mental leader untuk menjalankan
pekerjaanku selanjutnya, dengan kerja cerdas seterusnya sampai aku akan
mencapai tingkat kesuksessanku, dan meninggalkan mental kuli yang tertancap
dalam benakku. Dan pada akhirnya muncul kerja waras untuk bisa menciptakan
lapangan pekerjaan, serta membagi pengalaman.
#Syta_DwyRiskhi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar