Sabtu, 21 Oktober 2017

CERPEN "Siapa Pintar?"



Siapa Pintar ?


      Kelas tiga sekolah menengah pertama, aku dan kawanku kegirangan bukan main karena tak lama lagi bakal masuk sekolah menengah atas, yang katanya mereka anak SMA  sudah gak dianggap anak ingusan lagi. “wahhhh... kita udah boleh nyetir motor sendiri ke sekolah, kita udah boleh main sampe malem, mau keluar malem juga boleh !! aah.. gak sabar deh !” ucap fitri yang mulai menghayal. “Firaa..!! gimana menurutmu ?” tanya Fitri padaku, “emmm.. aku setuju kok, waktu main kita jadi lebih panjang” jawabku mendukung.
        Hari ini guru telat masuk, suasana kelas gaduh, ada yang teriak kosong, bubar kelas !, dan ada yang bilang tunggu sampai limabelas menit, yaps sudah pasti itu adalah ketua kelas. Beberapa menit kemudian guru masuk bersama seorang siswi baru. “Anak-anak, kita punya teman baru, dia pindahan dari kota”, “waaaaahhhh......huuuuuuu....weeehhh” tanggapan anak-anak kelas. “Halo namaku Nurul, semoga kita jadi teman baik ya!” salam perkenalannya. Di jam istirahat, anak-anak mengerumuni anak pindahan itu. Saling berkenalan, bertanya ini dan itu. Beberapa lagi mendatangi mejaku sambil berbisik “tenang Fira, aku yakin dia gak lebih pinter dari kamu, tenang aja dia bukan sainganmu”. Aku heran kenapa mereka membanding-bandingkan aku dan dia, dan menganggap aku takut tersaingi.
        Sudah beberapa minggu anak-anak mengerumuninya, mereka senang dengan logat bicaranya yang ke kota-kotaan anak gaul getoh. Pagi ini juga banyak anak yang bertanya PR dan minta di ajari, katanya dia murid peringkat pertama di sekolahnya dulu. Aku maklum saja karena dia dari kota besar pasti pengetahuannya lebih banyak. Fitri menarik tanganku mengajak keluar kelas, “waah si Nurul peringkat satu berturut-turut di sekolah lamanya, gimnana nih, posisimu terancam!” . Aku menghela nafas “terus aku harus apa, ngeluarin dia ?”, jadi anak pinter gak harus peringkat satu kan?, asal kita paham semua materi, kita udah dianggap pinter”. ‘plaaaaakkkkk!!!”, Nurul memukul bahuku “kalau kamu gak peringkat satu itu berarti ada nilai yang kurang dan jika nilaimu kurang itu berarti ada materi yang gak kamu paham, kalau kamu gak paham berarti kamu gak dianggap pinter!!”.
“Haaiiishh....!!” Aku berdesis kesal.
        Di meja belajar aku jadi kepikiran dan khawatir, aku malah jadi gak konsen dengan belajarku. “Aaahh.... kenapa peringkat satu harus di perebutkan sih? Kenapa pinter itu harus di tunjukin dengan peringkat satu?!! Dan kenapa aku jadi gak tenang gini ?”. Aku bergumam pada buku-buku yang membuatku jengkel. Beberapa guru juga membicarakan anak pindahan itu, bahkan dia sering di puji guru dalam kelas.
        Keesokan hari disekolah. “Fira..!!” anak pindahan itu memanggilku “Eh .. ada apa Rul?” tanyaku. “kelompok biologi, punya elo udah pas belom ? aku gabung kelompok lu, dong” . “Haahh...!!! ada angin apaan nih rasanya sejak dia masuk aku gak pernah negur apalagi deket sama dia” gumamku dalam hati. “oohh belom sih, yaudah gabung aja, ntar aku omongin ke yang lain” jawabku sok akrab.
        “Yeeiii... beruntunh banget deh sekelompok bareng Nuru sama Fira, pasti nilai kita tinggi ya kan Fit ?!” ucap Lala kegirangan. Fitri Cuma ngangguk, selama menngerjakan soal, Nurul aktif menjelaskan, dan memecahkan setiap soal, aku sampe manggut-manggut dan kagum, mungkin aku emang kalah pintar, karena Nurul lebih bisa memahami materi secara mendalam. Tapi aku bakal ningkatin belajarku, malu lah sama guru-guru dan temen-temen kelas.
        Hari presentasi, semua tugas udah dibagi, aku bagian pertama untuk menjelaskan, diakhiri dengan penjelasan dari Nurul, diakhir presentasi dia mengulangi materiku, materi Fitri dan materi Lala, seolah membenarkan dan menguatkan argumennya. Anak-anak lain terkagum-kagum dan yes gurupun memberikan pujian. Fitri mendekat padaku dan berbisik “kayaknya Nurul sengaja buat nyari perhatian”. Aku menghela nafas dan terdiam.
        Setengah semester berlalu, pembagian nilai ujian, peringkat satu di isi oleh Nurul, dan aku mendapat peringkat dua. “Waahh.... yang biasa peringkat satu, jadi peringkat dua, iya akhirnya datang pesaing berat Fira” kata temen-temen kelas jail padaku. Terserah apa kata mereka, aku tak ambil pusing. Aku akui emang Nurul lebih pinter dia bisa memahami materi lebih cepat dibanding aku. Sekarang aku juga tidak sungkan bertanya soal-soal sulit padanya, kecerdasannnya membuatku sedikit iri.
        Ujian kelulusan bentar lagi, jam tambahan mulai di jadwalkan, aku dan Nurul jadi dekat dan rajin belajar kelompok, saling bertanya dan menjelaskan. Tapi kedekatanku hanya sekedar belajar saja, aku tidak terlalu dekat dengan dia kalau soal main atau kumpul-kumpul santai.
        Akhir ujian kelulusan, kelas sudah bebas dan temen-temen merencanakan acara perpisahan “gimana kalo pantai?” sahut seorang siswa “boleh, kita main-main di pantai aja”  timpal yang lainnya. Aku bertanya pada Fitri kemana Nurul, sejak ujian terakhir aku tidak melihatnya. “Gak tau, dia gak pernah masuk, mungkin balik ke kotanya buat liburan..” jawab Fitri. Aku penasaran dia mau melanjutkan sekolah kemana, tapi aku belum pernah tanya ke dia. “Hai.. Fira, kamu rencana mau daftar sekolah dimana?” tanya Rehan. “Eeemm.. pengennya sih SMA 1”  jawabku, “waahh... pasti di terima kan kamu pinter, rajin dan banyak prestasi juga” ucap Rehan memuji. “Aaahh... engga juga, yang lebih pinter kan ada” jawabku. “bener deh kamu yang terbaik kok, siapa lagi yang lebih baik dari kamu?” Rehan kembali memuji. “jangan berlebihan ada Nurul tuh yang lebih pinter, Fitri juga rajin lainnya juga banyak yang berprestasi” jawabku merendah.
“si Nurul??, kamu belum tahu kabar dia ?” tanya Rehan, aku bertanya balik ada kabar apa soal Nurul. Rehan memanggil Doni, katanya Doni lebih paham kabar Nurul. Doni akhirnya menjelaskan secara singkat “Ooh.. si Nurul ? Nurul mau nikah, makanya gak pernah ke sekolah” aku tersentak kaget. “iya ada kejadian yang gak pantes di ceritain, aku juga kaget dia bisa kebablasan gitu, dan mau nikah dadakan gini” Doni kembali juga tak menyangka. “Udahlah namanya juga manusia gak ada yang sempurna, tapi Fira emang yang terbaik !!” Rehan lagi-lagi memuji. Fitri angkat bicara “Alaah si rehan emang ada modusnya aja tuh muji-muji Fira.”
Aku masih heran apa yang sebenarnya terjadi sama Nurul, padahal aku sempat iri dan menghayal bisa punya otak seperti Nurul. Tapi kalau ujungnya gini, aku jadi yakin pada diri sendiri aja. Mampu mengendalikan diri dan mau terus belajar adalah sikap yang harus di bangun, bukan sekedar hafal materi aja, tapi moral juga harus di utamakan. Sayang sungguh sayang generasi mudah yang punya potensi malah kalah dengan pergaulan yang bebas.

#Syta_dwyRiskhi 21/10/2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar