Siapa
Pintar ?
Kelas
tiga sekolah menengah pertama, aku dan kawanku kegirangan bukan main karena tak
lama lagi bakal masuk sekolah menengah atas, yang katanya mereka anak SMA sudah gak dianggap anak ingusan lagi. “wahhhh... kita udah boleh nyetir motor
sendiri ke sekolah, kita udah boleh main sampe malem, mau keluar malem juga
boleh !! aah.. gak sabar deh !” ucap fitri yang mulai menghayal. “Firaa..!! gimana menurutmu ?” tanya
Fitri padaku, “emmm.. aku setuju kok,
waktu main kita jadi lebih panjang” jawabku mendukung.
Hari
ini guru telat masuk, suasana kelas gaduh, ada yang teriak kosong, bubar kelas
!, dan ada yang bilang tunggu sampai limabelas menit, yaps sudah pasti itu
adalah ketua kelas. Beberapa menit kemudian guru masuk bersama seorang siswi
baru. “Anak-anak, kita punya teman baru,
dia pindahan dari kota”, “waaaaahhhh......huuuuuuu....weeehhh” tanggapan
anak-anak kelas. “Halo namaku Nurul,
semoga kita jadi teman baik ya!” salam perkenalannya. Di jam istirahat,
anak-anak mengerumuni anak pindahan itu. Saling berkenalan, bertanya ini dan
itu. Beberapa lagi mendatangi mejaku sambil berbisik “tenang Fira, aku yakin dia gak lebih pinter dari kamu, tenang aja dia
bukan sainganmu”. Aku heran kenapa mereka membanding-bandingkan aku dan
dia, dan menganggap aku takut tersaingi.
Sudah
beberapa minggu anak-anak mengerumuninya, mereka senang dengan logat bicaranya
yang ke kota-kotaan anak gaul getoh. Pagi ini juga banyak anak yang bertanya PR
dan minta di ajari, katanya dia murid peringkat pertama di sekolahnya dulu. Aku
maklum saja karena dia dari kota besar pasti pengetahuannya lebih banyak. Fitri
menarik tanganku mengajak keluar kelas, “waah
si Nurul peringkat satu berturut-turut di sekolah lamanya, gimnana nih,
posisimu terancam!” . Aku menghela nafas “terus aku harus apa, ngeluarin dia ?”, jadi anak pinter gak harus peringkat
satu kan?, asal kita paham semua materi, kita udah dianggap pinter”. ‘plaaaaakkkkk!!!”,
Nurul memukul bahuku “kalau kamu gak
peringkat satu itu berarti ada nilai yang kurang dan jika nilaimu kurang itu
berarti ada materi yang gak kamu paham, kalau kamu gak paham berarti kamu gak
dianggap pinter!!”.
“Haaiiishh....!!”
Aku
berdesis kesal.
Di
meja belajar aku jadi kepikiran dan khawatir, aku malah jadi gak konsen dengan
belajarku. “Aaahh.... kenapa peringkat
satu harus di perebutkan sih? Kenapa pinter itu harus di tunjukin dengan
peringkat satu?!! Dan kenapa aku jadi gak tenang gini ?”. Aku bergumam pada
buku-buku yang membuatku jengkel. Beberapa guru juga membicarakan anak pindahan
itu, bahkan dia sering di puji guru dalam kelas.
Keesokan
hari disekolah. “Fira..!!” anak
pindahan itu memanggilku “Eh .. ada apa
Rul?” tanyaku. “kelompok biologi,
punya elo udah pas belom ? aku gabung kelompok lu, dong” . “Haahh...!!! ada angin apaan nih rasanya
sejak dia masuk aku gak pernah negur apalagi deket sama dia” gumamku dalam
hati. “oohh belom sih, yaudah gabung aja,
ntar aku omongin ke yang lain” jawabku sok akrab.
“Yeeiii... beruntunh banget deh sekelompok
bareng Nuru sama Fira, pasti nilai kita tinggi ya kan Fit ?!” ucap Lala
kegirangan. Fitri Cuma ngangguk, selama menngerjakan soal, Nurul aktif
menjelaskan, dan memecahkan setiap soal, aku sampe manggut-manggut dan kagum,
mungkin aku emang kalah pintar, karena Nurul lebih bisa memahami materi secara
mendalam. Tapi aku bakal ningkatin belajarku, malu lah sama guru-guru dan
temen-temen kelas.
Hari
presentasi, semua tugas udah dibagi, aku bagian pertama untuk menjelaskan,
diakhiri dengan penjelasan dari Nurul, diakhir presentasi dia mengulangi
materiku, materi Fitri dan materi Lala, seolah membenarkan dan menguatkan
argumennya. Anak-anak lain terkagum-kagum dan yes gurupun memberikan pujian.
Fitri mendekat padaku dan berbisik “kayaknya
Nurul sengaja buat nyari perhatian”. Aku menghela nafas dan terdiam.
Setengah
semester berlalu, pembagian nilai ujian, peringkat satu di isi oleh Nurul, dan
aku mendapat peringkat dua. “Waahh....
yang biasa peringkat satu, jadi peringkat dua, iya akhirnya datang pesaing
berat Fira” kata temen-temen kelas jail padaku. Terserah apa kata mereka,
aku tak ambil pusing. Aku akui emang Nurul lebih pinter dia bisa memahami
materi lebih cepat dibanding aku. Sekarang aku juga tidak sungkan bertanya
soal-soal sulit padanya, kecerdasannnya membuatku sedikit iri.
Ujian
kelulusan bentar lagi, jam tambahan mulai di jadwalkan, aku dan Nurul jadi
dekat dan rajin belajar kelompok, saling bertanya dan menjelaskan. Tapi kedekatanku
hanya sekedar belajar saja, aku tidak terlalu dekat dengan dia kalau soal main
atau kumpul-kumpul santai.
Akhir
ujian kelulusan, kelas sudah bebas dan temen-temen merencanakan acara
perpisahan “gimana kalo pantai?” sahut
seorang siswa “boleh, kita main-main di
pantai aja” timpal yang lainnya. Aku
bertanya pada Fitri kemana Nurul, sejak ujian terakhir aku tidak melihatnya. “Gak tau, dia gak pernah masuk, mungkin
balik ke kotanya buat liburan..” jawab Fitri. Aku penasaran dia mau
melanjutkan sekolah kemana, tapi aku belum pernah tanya ke dia. “Hai.. Fira, kamu rencana mau daftar sekolah
dimana?” tanya Rehan. “Eeemm..
pengennya sih SMA 1” jawabku, “waahh... pasti di terima kan kamu pinter,
rajin dan banyak prestasi juga” ucap Rehan memuji. “Aaahh... engga juga, yang lebih pinter kan ada” jawabku. “bener deh kamu yang terbaik kok, siapa lagi
yang lebih baik dari kamu?” Rehan kembali memuji. “jangan berlebihan ada Nurul tuh yang lebih pinter, Fitri juga rajin
lainnya juga banyak yang berprestasi” jawabku merendah.
“si Nurul??, kamu belum tahu kabar dia ?” tanya
Rehan, aku bertanya balik ada kabar apa soal Nurul. Rehan memanggil Doni, katanya
Doni lebih paham kabar Nurul. Doni akhirnya menjelaskan secara singkat “Ooh.. si Nurul ? Nurul mau nikah, makanya
gak pernah ke sekolah” aku tersentak kaget. “iya ada kejadian yang gak pantes di ceritain, aku juga kaget dia bisa
kebablasan gitu, dan mau nikah dadakan gini” Doni kembali juga tak
menyangka. “Udahlah namanya juga manusia
gak ada yang sempurna, tapi Fira emang yang terbaik !!” Rehan lagi-lagi
memuji. Fitri angkat bicara “Alaah si
rehan emang ada modusnya aja tuh muji-muji Fira.”
Aku masih
heran apa yang sebenarnya terjadi sama Nurul, padahal aku sempat iri dan
menghayal bisa punya otak seperti Nurul. Tapi kalau ujungnya gini, aku jadi
yakin pada diri sendiri aja. Mampu mengendalikan diri dan mau terus belajar
adalah sikap yang harus di bangun, bukan sekedar hafal materi aja, tapi moral
juga harus di utamakan. Sayang sungguh sayang generasi mudah yang punya potensi
malah kalah dengan pergaulan yang bebas.
#Syta_dwyRiskhi 21/10/2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar