Tampilkan postingan dengan label #Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Remaja. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Januari 2021

Diary "Hari Berganti"

 

Dok. Pri

Langit nampak mendung sejak subuh, rintik gerimis membasah bumi mengiringi basah pipi dan hati ini. Sudah sejak malam aku memikirkannya, apakah harus ini yang terjadi? Namun dalam hatiku bertekad apapun itu akan aku jalani. Kamu mungkin tidak tahu mas, sebenarnya berat jika harus pergi begitu saja.

Aku bahkan tidak tahu kalau kemarin adalah hari terakhir kita berinteraksi, andai kutahu pasti aku akan meminta waktu berhenti sejenak, meski tak mungkin tapi aku ingin berusaha menatapmu lebih lama. Mas, kakiku tetap melangkah, hatiku berat tapi tubuhku telah benar-benar pergi dari tempat dimana kita bisa berinteraksi.

Semoga semua baik-baik saja ya mas, jangan lagi terburu-buru sehingga kamu menjatuhkan CPU. Semoga tak ada masalah lagi dengan pekerjaanmu. Rasanya aku menjadi orang yang tidak beretika, pergi begitu saja tanpa ada kata maaf dan terimakasih. Tapi mas, aku yakin masih ada waktu meski terlambat, masih ada ikatan antara aku dan tempat itu. Semoga Tuhan memberi waktu yang tepat.




____

Pekalongan 19/01/21


Sabtu, 25 November 2017

Sabtu Malam


Pinterest 


Gelap mulai menyelimuti bumi yang ku pijak, sedari pagi hujan turun merintik, siang masih sama, sore juga masih sama, tak ada kehangatan sehari tadi. Malam ini sedikit berbeda, rintikan air itu tak lagi jatuh, pasti aman untuk berpergian malam ini.

Setelah seharian terkurung karena hujan, aku tidak mau kalah dengan kawula muda, kulampiaskan malam ini untuk keluar. Yahh... sekedar cari makan hehe, siang tadi ada acara yang ingin aku kunjungi tapi berhubung tak ada kawan yang menemani, aku urungkan pergi ke acara itu.

Waktu untuk menyendiri memang perlu, tapi jika selalu sendiri juga tidak baik bagi kesehatan mental. Yaahh... benar-benar tepat untuk melangkah keluar meski udara dingin masih bertahan, tapi ini sangat pas bagi mereka yang berkencan.

Nampaknya orang-orang semakin sibuk, pergi kesana kemari, semua menjadi bergerak cepat dan tergesa-gesa, entah aku yang tidak peka atau memang aku yang kurang kerjaan, bagiku tetap banyak waktu luang tersisa.

Hemm... baru keluar gang, jalanan sudah macet, banyak mobil pribadi dan lebih banyak lagi sepeda motor. Tidak salah lagi ini adalah malamnya kawula muda, duduk diatas motor berboncengan, tidak lupa memeluk agar tidak jatuh di jalan.

Mepet ke depan, menaruh dagu di pundak dan bercengkrama manja. Wahh.. memang malamnya kawula muda, beberapa motor yang boncengannya masih kosong mungkin otw kerumah calon penumpang.

Sangat ramai, sampai-sampai tak ada jalan bagiku sebagai pejalan kaki, sampai ke pinggir melipir dengan gesitnya menerobos kemacetan agar tidak telat menjemput penumpang. Ahh... demi keselamatan lebih baik mengalah, ikut berhenti ikut mengantri bersama para pengendara, meski tak membawa kendaraan.

Sabtu malam yang meriah, meriah di jalanan yang macet, banyak mobil pribadi, lebih banyak lagi sepeda motor, lampu terang saling menyorot, bising klakson ikut meramaikan Sabtu malam ini.




#Yogyakarta/25/11/2017

Senin, 20 November 2017

cerpen "Bus Sekolah"



Bus Sekolah


Jadi siswi baru di sekolah menengah atas membuatku banyak berimajinasi tentang berbagai hal, hari ini memakai rok abu-abu dan di pandang sebagai siswi SMA yang menawan.

Yaahh… aku masih ingat kala aku masih duduk di sekolah dasar, sepulang dari pasar menemani ibu untuk berbelanja, duduk di samping dua siswi SMA yang mengobrol seru, ada beberapa istilah yang tidak aku mengerti, tapi mendengar obrolan mereka sepertinya sangat menarik.

Imajinasiku bergerak, andai nanti aku jadi siswi SMA mungkin aku akan seperti mereka, pulang sekolah naik bus bersama teman-teman, mengobrol ceria membahas tentang sekolah dan kisah cinta.

Tidak butuh waktu lama untuk mewujudkannya, entah kemana hari-hari kemarin pergi, aku sudah berada di sekolah ini. Meski belum ada hal istimewa terjadi, aku berusaha membuat hariku indah dan bersemangat.

Berangkat pagi agar tidak terlambat, berada di pinggir jalan tepat pada jam keberangkatan bus yang sama, menghirup udara pagi yang masih sepi kendaraan. Jam enam lebih sepuluh bus langganan akan lewat, warnanya hijau dengan kondektur ramah, supir yang asik dan selalu memutar lagu-lagu pop.

Kursi langganan pula, aku duduk di kursi samping jendela. Butuh lima belas menit untuk sampai di sekolah, sepanjang perjalanan mendengarkan musik, dan melihat pemandangan pagi, betapa banyak anak-anak yang berangkat sekolah.

Belum ada yang istimewa dalam sekolah, kecuali teman-teman baru yang menyenangkan. Beberapa siswsi memperhatikan kaka kelasnya, tebar-tebar pesona agar dapat perhatian.

Entahlah, sesuatu yang ku cari belum aku temukan,, menjadi siswi SMA tak se hebat yang aku bayangkan. Sama saja belajar, mengerjakan tugas, ulangan, upacara dan kegiatan sekolah lainnya.

Pulang sekolah naik bus langganan yang sama, tapi tak ada yang menarik untuk di bicarakan bersama teman-teman. Aku memilih duduk sendiri dekat jendela, meletakkan daguku ke jendela, melihat sekeliling siswa-siswi yang menggunakan seragam sekolah masing-masing.

Berbagai raut wajah terlihat, letih, lelah, capek, ngantuk, di sisi lain terlihat ceria, ekspresif, bersemangat dan banyaaakkk raut wajah lain yang terlihat. Para motivator berteriak jadilah pemain jangan hanya jadi penonton.

Aku tersenyum tentu saja aku setuju, namun karena saat ini aku belum mendapat peran utama, aku putuskan untuk jadi penonton lebih dulu, belajar dari orang-orang yang kuperhatikan.

Jauh meninggalkan lingkungan sekolah aku masih berada pada posisiku sampai hp ku berdering tanda pesan masuk, “jangan menengok keluar jendela terus, nanti masuk angin” pesan yang membuatku terkejut agak aneh.

Nomor tidak di kenal, ku tengok teman-teman yang sibuk mengbrol, emmm .. bukan mereka, ku tengok seisi bus, tak ada yang memperhatikan ku, lalu dari siapa pesan ini. Aku membalas bertanya siapa dia, tapi sampai aku turun dari bus, ia tak lagi mengirim pesan.

Rutinitas yang sama setiap hari, berangkat pagi berdiri di pinggir jalan menanti bus sekolah langganan. Sembari menunggu bus datang aku bernyangi-nyanyi lirih, satu lagu favorit dari koes plus berjudul bus sekolah.

“bus sekolah yang ku tunggu ku tunggu.. tiada yang datang.. ku lelah berdiri berdiri.. menanti nanti.. bila ku pergi bersama..” belum selesai bernyanyi bus sudah datang, nampaknya bus ini tak membiarkan ku bernyanyi sampai bait kekasihku hehe…

Hari yang singkat karena semua berjalan normal dan lancer, taka ada rencana sepulang sekolah ini aku langsung pulang kerumah naik bus, di tengah perjalanan aku kembali mendapat pesan yang sama.

Aku mulai berfikir kenapa ia mengetahui apa yang sedang ku lakukan, asumsi ku mengatakan apakah aku seperti orang aneh karena menengok ke jendela dan senyum-senyum sendiri ?? aku memang beberapa kali melakukannya, itu karena saat aku memperhatikan seseorang dan bergumam dalam hati, tapi aku tak bisa tersenyum dalam hati.

Aku membalas dengan pertanyaan sama seperti kemarin, tapi tak juga mendapat balasan. Aaaahhhhhhhhhh………………. Apakah kondektur bus yang mengirim pesan itu ?!!! Ahhrrrrrr.. mana mungkin .. mana mungkin ? haha.. pendapat macam ini, atau mungkin supir ??........... plakkk lebih tak mungkin LAGI ..!!

Seperti biasa aku mendapat pesan yang sama, kali ini aku tak membalasnya, biarlah anggap taka da pesan itu, bus belum berangkat penumpang masih sepi, mataku menyorot pemuda yang sedang mengemas cimol.

Dia menatapku tak berpaling, aku mengedipkan mataku, ia masih menatapku, aku mengalihkan pandanganku, ada apa tukang cimol itu ? sepertinya aku bersikap normal kali ini.

Di hari berikutnya, aku tak sengaja mendapati dia kembali menatap ku, saking penasarannya, aku tantang saja dengan menatapnya balik, waahhh…………… entah berapa lama kami saling bertatapan, tapi karena ramai pembeli ia jadi sibuk dengan cimolnya dan mengalihkan pandangannya.

Haha… aku merasa menang ..!! pesan itu tetap datang meski aku mengabaikannya, tapi kali ini pesannya berbeda, “senyuman yang manis setiap menengok melalui jendela” pesan dari orang tak di kenal.

Haaaaaaa……. !!!! jangan-jangan tukang cimol itu ..?!!! ah yang benar saja, beli disana aku tak pernah, saling menyapa aku tak pernah, apalagi memberi nomor hp ku ke dia.

Pulang sekolahku di sibukkan dengan adegan dalam bus yang sama, memperhatikan tukang cimol apakah ia memperhatikan ku lagi, dan menunggu kiriman pesan apa untuk hari ini.

Awalnya aku berusaha mengabaikannya saja, tapi nampaknya aku mendapat peran utama, di pasangkan dengan orang yang mengirim pesan misterius serta pemuda tukang cimol. Haha…. mungkin ini cerita yang penuh teka-teki.





#Yogyakarta_20 November 2017

Jumat, 17 November 2017

cerpen "Ramalan Supir Bus"



Ramalan Supir Bus


Waah… bebas tugas, bebas jam pelajaran, aku, Rara, dan Caca berencana jalan-jalan keliling kota, sejak tiga hari lalu kami sudah bebas dari kegiatan sekolah, yap.. kami baru saja melalui ujian kelulusan.

Hari ini kami bertiga berangkat sekolah untuk janjian ketemu dan pergi bersama, biasa dikatakan sedikit melepas penat yang kemarin. Tujuannya sederhana saja, keliling kota sekalian melihat-lihat calon sekolah hehe.

Meski kami sangat dekat, tapi kami tidak mendaftar di sekolah yang sama, aku berencana masuk SMK, Rara mau masuk SMA 1 dan Caca niat masuk SMAI, menyadari tujuan kami yang berbeda, kami manfaatkan waktu ini untuk menghabiskan waktu bersama.

Langit cerah bersahabat, kami menunggu bus jurusan kota, asik mengobrol dan bercanda, bus sudah datang, dengan gesit kami memilih tempat duduk paling depan dekat supir.

Wajah ceria agak heboh berebut tempat duduk, sang supir memperhatikan dan tersenyum, setelah kami duduk anteng dalam posisi masing-masing, sang supir menyapa, kami pun menjawab dengan ramah.

“Kalian bertiga punya aura masing-masing yang berbeda satu sama lain, saya bisa melihatnya dari raut wajah, soal pasangan, kamu akan mendapat laik-laki yang tampan, setidaknya pacar-pacarmu pasti akan ganteng-ganteng” pak supir berkata sambil menunjuk Rara, sontak kami menoleh dengan seksama.

“yang ini, pasti suka ganti-ganti pacar, yaah… nanti bakal punya banyak mantan lah.. artinya kamu banyak di sukai para cowok” pak supir kembali berkata dan menunjuk Caca.

“kalau kamu, emm……. Kamu akan dapat pacar yang setia, setidaknya setiap pacaran hubungan mu akan bertahan lebih lama dari yang lainnya” pak supir menunjukku sambil mengatakan hal yang membuat kami bertiga tertawa.

“Ha..ha..ha… ah yang bener pak ?” kami menimpali ramalan pak supir yang terdengar menggelitik.

“yaaa… bener apa gak ? kalau pun belum terjadi yaa.. nanti pasti akan terjadi, saya bisa melihatnya” jawaban pak supir terdengar santai dan yakin dengan kata-kata.

Kami bertiga jadi ketawa-ketiwi, aku membayangkan mungkin di sekolah menengah atas nanti aku punya pacar hehe…. Setia ? yahh semoga lah.. hihi.. Kalo diperhatikan memanglah, si Caca ini banyak yang naksir. Rara memanglah beberapa yang naksir ganteng, kalo aku hmmmm... Kenapa jadi cocoklogi. Kami bertiga tak begitu hirau dengan perkataan pak supir. Kemi menikmati perjalanan yang seru ini.



 
#Yogyakarta_17 November 2017

Sabtu, 11 November 2017

cerpen "Aku yang TerTolak"



Aku yang TerTolak


Bagaimana kalau nonton bola ? dia menawariku pergi nonton bola, maklum saja cowok yang satu ini penggila bola sejati, aktif main bola, aktif nonton bola, aktif jadi pendukung salah satu club bola. Awal kedekatan kami juga dari bahasan seputar bola.

Singkat cerita kami saling perhatian, dan mendukung satu sama lain, setiap kegiatan kami ceritakan, beberapa kali bercanda membahas masa depan, dan sesekali mengungkap rasa kagum.

Tahun berganti tahun, aku merasa ada yang lain, sikap dan perhatiannya membuatku merasa tersanjung, tetapi mengingat bahasan kami hanya seputar bola, membuatku bosan, dan tak bisa bohongi diri. Sampai diketika ia memberiku semangat untuk masuk universitas, aku yakin dia juga merasa hal yang sama, sikapnya menunjukkan hal berbeda.

Aku berpikir keras, bagaimana kalau hubungan ini berlanjut ? apakah hanya ada bola di hidupnya ? aku memutuskan diri untuk tidak menerima perasaannya, andai kata ia mengungkapkan perasaannya padaku, aku tidak mau menerimanya.

Bulan berganti bulan, tak ada ungkapan apapun darinya, membuatku geregetan pada perasaanku sendiri, aku kembali berpikir keras, dan memutuskan sikapku, tepat dihari ulang tahunku, ia mengucapkan selamat dan beberapa kalimat yang membuatku melayang.

Dengan segenap keberanian dan emosi, aku putuskan aku saja yang mengungkapkan perasaanku padanya, aku mempunyai perasaan lebih sekedar teman padanya. Beberapa saat setelah aku mengungkapkan perasaanku, aku mendapat jawaban darinya.

Yahhh.... dia tidak bisa menerima perasaanku, dia menolakku karena alasan yang tak bisa ia ungkapkan, kenapa ?!! alasan apa ?!!, hanya aku yang punya perasaan ini ? aku sudah berencana menolaknya, apabila ia mengungkapkan perasaannya, tapi malah aku yang ditolak olehnya ??. Sepertinya aku harus lebih sering nonton bola, hmmmn..... 





#Yogyakarta_11/11/2017

Jumat, 10 November 2017

CERPEN "Kawanku Lawanku Egoku"



Kawanku Lawanku Egoku


Masuk pada bulan penuh lomba ini dan itu, karena aku siswi yang mendapat peringkat satu, mungkin akan terlibat, yah semester kemarin aku peringkat dua semester ini yang baru ku lalui, aku peringkat satu, entah semester berikutnya aku dapat berapa. Awal kelas ini, beberapa guru sibuk menyiapkan siswa-siswi nya untuk ikut lomba.

Di akhir pelajaran, guru membaca beberapa nama untuk dipanggil ke ruang kelas lain, namaku paling awal di sebut. Aku dan yang lain pindah kelas, menunggu kabar apa yang membuat kami dipanggil. Guru mengumumkan kami harus mengikuti kelas tambahan untuk persiapan lomba, beberapa anak di bagi untuk lomba tertentu. Aku, Puji, dan Yuli masuk kelompok sains, temanku ikha, fitri, dan Amin, masuk kelompok olahraga.

Kelas tambahan di mulai besok, kami di suruh mempersiapkannya. Keesokan hari di kelas tambahan, ternyata ada beberapa siswa dari tingkat satu yang bergabung, semua membawa bekal makan, sebelum kelas di mulai kami makan bersama, bertanya bekal apa yang di bawa, saling bertukar makan dan menikmatinya bersama, ini lebih menyenangkan dari yang ku bayangkan.

Aku dan Yuli jadi lebih rajin belajar, menanyakan materi ini dan itu, melewati hari-hari kelas tambahan dengan senang hati. Seminggu berlalu, guru mengumumkan kabar baru, beberapa nama kembali di sebut, namaku masuk dalam daftar. Lima anak yang disebut tetap mengikuti kelas tambahan, yang sudah tidak diikutkan lagi, Yuli termasuk yang tidak ikut. Hanya aku dan Puji, serta beberapa dari kelas lain.

Jam istirahat, aku berniat ke kantin bersama Yuli dan yang lain, tapi pak guru memanggilku, aku di beri lembaran soal untuk dikerjakan. “Aahh... aku harus mengerjakan ini, kalian ke kantin dulu deh,” “Huu... Riska udah semakin sibuk sekarang.” Celoteh Yuli.

Aku menoleh ke jendela kelas, melihat kawan-kawan sedang bergurau, aku kembali mengerjakan soal-soal. Bel masuk kelas, aku menyerahkan soal dan jawaban itu ke pak guru, dan mengikuti pelajaran selanjutnya.

Hari berikutnya pelajaran olahraga, aku di panggil pak guru, ternyata aku harus ijin tidak ikut olahraga, aku kembali belajar dan mengerjakan soal-soal, saat hendak keluar kelas aku terhenti di depan pintu, Yuli dan kawan-kawan sedang membicarakanku “harusnya Riska gak usah sekolah disini, apa-apa Riska!! Dikit-dikit Riska..!!, udah kayak anak kesayangan guru ajah !” suara Yuli terdengar penuh amarah, mungkin dia kecewa karena tidak diikutkan dalam lomba, dan kata-katanya membuatku sedih.

Sampai jam olahraga selesai aku masih di dalam kelas bersama pak guru, mengerjakan tumpukan soal-soal. Teman-teman masuk kelas saat pak guru keluar, Yuli dan yang lainnya menghampiriku “masih sibuk Ris ? ciiee.. daritadi berduaan sama pak guru? Ngapain aja ?” Yuli bertanya sekaligus mengejek, aku menghela nafas dan menjawab sedang mengerjakan soal. “kita mau ke kantin, kamu mau titip jajan atau minum gak ?” tanya Yuli, aku menggeleng. Aku ragu apa dia masih perduli atau hanya basa-basi.

Aku juga bingung kenapa Puji masih mengikuti kegiatan kelas dengan normal, sedangkan aku tidak. Tapi aku tidak mau menanyakannyua. “Riska..!!! lagi ngapain ? belajar atau pacaran sama pak guru ?!! hah.. haha..” kawan-kawan cowok mulai mengejekku. “Riska..? gak usah perduliin omongan mereka, tadi Yuli ngomongin kamu depan mereka, Yuli sengaja nyebar rumor kayak gitu, biarin aja” Ikha menghiburku, dia juga menambahkan kalau Yuli dan yang lain iri padaku. Baiklah maklum saja, semester kemarin juga aku yang maju lomba tari tradisional mewakili sekolah. Padahal aku dan Yuli berlatih bersama.

Hari-hariku semakin berat, kawan-kawan kelas mulai mengejek terus, sebelumnya tidak pernah begini, apa sebesar itu rasa irinya mereka padaku. Hari ini aku masuk telat, tapi aku tidak mendapat hukuman karena harus segera mengikuti pelajaran dan kembali mengerjakan soal-soal.

Tak seorangpun bertanya kenapa aku terlambat, meski aku sangat ingin bercerita. Tiba-tiba persaanku jadi kacau tak karuan, aku memberontak pada diri sendiri. Aku jadi benci pada diriku sendiri, siang ini aku tidak ikut kelas tambahan, aku pulang dan tidur.

Esok harinya, aku dipanggil pak guru, di tegur dan ditanya alasan kenapa aku tidak ikut kelas tambahan. Aku berbohong, ada acara bersama ayahku, pak guru menyuruh ayahku datang. Aku jadi marah, aku memang berbohong, tapi aku juga marah, aku jadi tak karuan. Setiap soal yang di berikan aku abaikan, aku tidak mau belajar dan melupakan semua materi.

Lomba pertama yang ku ikuti cerdas cermat, hanya lolos babak pertama, dan berikutnya tidak mendapat apa-apa. Berikutnya lomba sains, aku juga tidak mendapat apa-apa, aku bahkan hanya bisa mengerjakan satu soal. Pada lomba siswa berprestasi juga, aku sudah lelah, aku tak semangat mengerjakan soal, aku membiarkan lembar jawabanku kosong.

Sampai pada hari pengumuman lomba terakhir, aku tak bisa mendapat apa-apa. Guruku sangat kecewa, jelas nampak di wajahnya. Dia berkata padaku harusnya aku bisa, harusnya aku bisa maju sampai juara. Aku telah mengecewakannya, begitu juga beberapa guru lain. Mereka juga ikut berjuang, membantuku agar aku bisa meraih juara. Tapi kenyataan hatiku yang sedang marah karena kawanku yang sedikitpun tidak memberiku dukungan, membuatku menjadi egois.

Aku hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain yang juga bekerja keras, kini hanya ada penyesalan dalam diriku, menyesal mengapa kawanku membuatku lemah, menyesal mengapa aku tak bisa mengalahkan egoku, dan menyesal mengapa aku mempunyai lawan dari kawan dan egoku sendiri.



#Yogyakarta_10/11/2017