Tampilkan postingan dengan label #Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Desember 2020

"Surat Darimu"


Kegembiraan Hatiku ini hampir tak dapat ku ungkapkan,

Kau tahu kenapa?

Sudah lama engkau tiada mengirim surat

Kini hatiku tengah berbahagia, kau tahu?

Rasanya aku tak bosan-bosannya membaca suratmu

Meski hanya melalui kata-kata yang kau tulis

Aku merasa berhadapan langsung denganmu


Makin hari rindu itu semakin menggebu gebu

Ingin rasanya untuk bisa selalu dekat denganmu, kau tahu?

Setiap kata yang kau tuliskan dalam suratmu

Seolah olah telah melekat di hatiku

Tak ada lagi harapanku padamu

Selain harapan hari dimana engkau kembali

Untuk kita bersanding di singgasana cinta



_____

Batang, Desember 2020

#dwy_rr

Sajak Untuk Kawan



Rintik gerimis turun di siang hari.

Jauh dari langit sana terdengar gemuruh guntur bergetar teratur.

Tidak menakutkan tidak pula mengagetkan. Senada seirama dengan turunnya titik air itu.

Guntur bersuara, ku teringat dia, seseorang yang banyak membantuku di Jogja. Belum sempat balas budi, kusudah pergi.

Kini setahun sudah tak bersua, ku doakan agar dia selalu bahagia 





_____

Jateng 18 Desember 2020

 

Minggu, 11 Februari 2018

Anak Gadis Ayah


<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<script>
  (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({
    google_ad_client: "ca-pub-5390189565408946",
    enable_page_level_ads: true
  });
</script>

Puisi
Anak Gadis Ayah
Oleh : Syta Dwy Riskhi

Harum Bunga Melati Merebak
Memberi Khas Indahnya Hari ini
Bibir merah yang terus tersenyum
Hiasan rambut yang menawan
Gaun indah yang begitu anggun
Membalut diri dalam kebahagiaan
Ucapan sumpah janji sehidup semati
Penantian yang berujung pada tujuan

Ayah.. ini anak gadismu Telah tergenggam tangannya
Oleh seorang laki-laki .. Ayah.. ini anak gadismu
Hati, dan jiwa nya menyatu bersama seorang laki-laki
Aku dibesarkan dalam ayunan kasih sayangmu ayah
Dan kini aku akan meninggalkan rumahmu ayah
Begitu sulit untuk melepas diri dari kenangan
Aku akan mengingat suka duka bersamamu ayah
Seluruh kerja keras dan pengorbanan mu ..
Terimakasih ayah...

Rabu, 15 November 2017

cerpen "Kemana Laki-Laki itu Pergi ?"



Kemana Laki-Laki itu Pergi.. ?



Matanya mengarah padaku, tanpa berkedip ia menatapku penuh cinta, tiada curiga, tiada orang lain, tiada cemburu, hanya ada kasihku dan kasihnya, sayangku dan sayangnya, cintaku dan cintanya, menyatu dengan mesra melangkah bersama.

Mengucap janji setia tanpa ragu melepas kesendirian, menetap bersama dalam satu atap, menghindari dingin dan panas saling melengkapi. “Aku harus pergi” suaranya tegas meminta ijin padaku untuk mendukung kemauannya. “lantas aku bagaimana ?” aku tetap menahannya, aku tak ingin jauh darinya.

“kamu akan baik-baik saja, jaga bayi kita, aku berjanji akan pulang menyambut kelahirannya” kata-kata itu penuh keyakinan, matanya memancarkan janji yang pasti. Di tengah kesulitan ini, ia harus merantau sampai ke negeri orang, ditambah lagi kebutuhan untuk calon bayi ini.

Aku mengantarnya ke bandara, genggaman tangannya erat, perekonomian yang sedang susah, keadaan sedang hamil tua, memaksanya pergi mencari peruntungan, berat memang meninggalkanku dalam keadaan begini, berat memang melepasnya dalam keadaan begini.

Langkahnya semakin menjauh, di ujung pintu itu ia membalikkan badanya, matanya sendu, dahinya menurun, bibirnya bergetar, betapa murung wajah yang aku saksikan. Aku tersenyum, melambaikan tangan memberinya semangat, dan menunjukkan bahwa aku baik-baik saja, semua akan terlewati pasti akan terlewati.

Tiada kabar tiada berita, tiada pula merpati putih yang membawa sepucuk surat, hariku semakin dekat, kupersiapkan segalanya agar berjalan normal dan lancar, tak ada tanda-tanda kedatangannya, andai persalinan ini dapat ditunda sampai ia pulang.

Jeritan, raungan, seluruh tenaga kukeluarkan, sebagian untuk keselamatan bayiku, sebagian pelampiasanku padanya yang tiada kunjung pulang. Tangisan bayi menggetak hatiku, bayiku telah lahir, aku mendengar tangisan kerasnya, air mata mengalir menyatu dengan cucuran keringat.

Bahagiaku sangat singkat sampai-sampai aku tidak sempat menarik senyum dibibirku. Pembayaran proses persalinan mendesak jantungku, memaksa kepalaku berfikir keras, kebutuhan bayi juga membuat wajahku semakin memucat.

Kukumpulkan lagi seluruh tenagaku, berjalan sepanjang ruko pasar, mencari pekerjaan untuk menghasilkan uang. Warung makan sederhana yang ramai pengunjung, aku dipekerjakan sebagai buruh cuci piring, aku lakoni dengan semangat mengingat bayiku dan tagihan persalinan.

Kemana perginya laki-laki itu ..? hatiku dan pikiranku tiada henti menanyakan keberadaannya. Tak ada seorangpun yang dapat aku tanyai, tak seorangpun memberiku petunjuk. Kemana laki-laki itu pergi..? mengapa belum juga pulang..?

Tagihan persalinan sudah lunas, bayiku sudah bisa merangkak, aku masih bekerja, kini aku membawa anakku ke tempat kerja, tak bisa lagi aku titipkan ia pada tetangga,  ia terlihat ceria melihat-lihat kerumunan orang di pasar. hari menjelang sore, ku gendong ia di belakang, kubawa berkeliling pasar, mencari apapun yang bisa dipungut, mengais-ngais sayuran dan buah-buahan yang sudah dibuang, kupilih-pilih mana yang masih bisa di makan.

Hidup ini kupertaruhkan untuk anak kesayangan, berharap ia tumbuh menjadi laki-laki sukses yang penuh tanggungjawab. Tiada mengapa aku hidup bagai budak, tiada mengapa aku hidup dengan menelan kepahitan, kelak kerja kerasku ini akan membuahkan hasil.

Kemana perginya laki-laki itu..? laki-laki yang mengucap janji setia padaku, kemana laki-laki itu pergi..? malam ini aku tak bisa membendung air mata. Sambil menepuk-nepuk laki-laki kecil ini, aku menanyakan kemana perginya laki-laki yang berjanji hidup bersamaku.

Matahari terbit dari ufuk timur, pekerjaan rumah kuselesaikan sebelum berangkat ke pasar. Terdengar pintu diketuk, aku menghentikan pekerjaanku, berlari dengan penuh tanya, apakah itu dia ..?!

Sosok laki-laki berdiri di depan pintu, menatap penuh penyesalan padaku. Tangannya mengulurkan sebuah amplop, kuraih amplop itu, tanpa sepatah katapun ia pergi dari hadapanku.

Masih pada posisiku berdiri, aku buka amplop yang isinya lembaran kertas putih, membaca judul suratnya saja sudah membuat kakiku mati rasa, SURAT KEMATIAN, duniaku seketika gelap, aku tak bisa mendengar apapun.

Pandangan mataku buyar, jantungku terasa berhenti berdetak, sekujur tubuhku tak mau bergerak, suaraku lirih merintih mencari anakku, tetangga menawarkan diri merawatku, aku merasa baik-baik saja, aku tidak mau terpuruk dalam waktu lama.

Laki-laki itu benar-benar pergi,, kemana perginya bahkan ia tak mengatakan itu, laki-laki yang tersesat benar-benar tersesat, aku bahkan tak bisa menyusulnya, aku harus hidup demi anak, aku harus hidup untuk anak.

Bekerja sana-sini sampai aku menua, aku tidak berencana mati sebelum anakku mapan, mampu mengurus dirinya dengan layak dan berkeluarga untuk hidup bahagia.

Kemana perginya..laki-laki yang tersesat ? kini anak kita sudah dewasa, mampu menghasilkan uang dan dikagumi orang sebagai prajurit negara. Kemana laki-laki itu pergi..? tak maukah ia melihat anaknya yang rupawan dan penuh tanggungjawab ?.

Kini tubuhku penuh dengan luka, apakah engkau masih mencintaiku seandainya kita bertemu lagi ? hai.. laki-laki yang telah pergi, mengapa tak datang menyapa, ? sulitkah untuk hadir dalam mimpi anakmu ?

Laki-laki yang telah dahulu pergi, sesekali datanglah ke dalam mimpinya, seperti janjiku padanya, aku akan terus hadir dalam malam-malam indahnya, menyapanya dan melihatnya apakah ia baik-baik saja. Aku pasti akan menepati janjiku, karena akupun selalu ingin melihatnya, meski aku sudah tiada.









#Yogyakarta_15/11/2017



Selasa, 14 November 2017

cerpen "Sahabat Terburuk"



Sahabat Terburuk


“Dea...? aku akan menikah akhir tahun ini” Dea membaca pesan dari Aya, wajahnya seketika datar. Ia tak percaya dengan pesan Aya, lalu Dea mengirim pesan di grup obrolan yang memuat ke tiga sahabatnya. Mencoba mencari kebenaran tentang kabar pernikahan itu.

Semuanya membenarkan, Dea baru terkejut, ia bertanya siapa cowok itu, asal darimana dan kapan di adakan pertunangan. Aya menjawab sebenarnya Dea tahu siapa cowok itu dan darimana asalnya. Tapi Dea menyangkal tidak mengenal cowok itu.

Kemudian Nana memberi kabar, Aya sudah melakukan pertunangan sejak jauh-jauh hari, Dea kembali terkejut, Aya juga mengabarkan pertunangannya sudah di susul oleh Nana, Dea tambah terkejut. Dea sedikit kecewa, dia tak tahu tentang kabar itu sebelumnya, dia menambahkan apa Vivi juga sudah? Tapi Vivi langsung hadir membantahnya.

Dea keluar dari grup, dia merasa kecewa pada para sahabatnya itu. Selang beberapa menit, Dea membuka pesan dari Aya, melihat foto calon suami Aya, Dea ingat dia adalah kaka kelas waktu SMP. Dea baru sadar selama ini ia tak pernah bertanya tentang cowok pada para sahabatnya, mengingatkan Dea akan masa sekolah dulu.


**********
Kelas matematika, bu guru menjelaskan beberapa rumus, memberi contoh soal, dimanapun dan apapun materinya contoh soal selalu mudah di kerjakan, beda dengan soal tugas atau soal ujian, bikin pusing tujuh keliling. Dea tak pandai di bidang matematik, dia angkat tangan soal hitung-menghitung.

Nana teman sebangkunya pandai dalam bidang tersebut, meski awalnya tak paham, tapi ia selalu berusaha mempelajarinya sampai bisa, Vivi duduk di belakang Nana dan Dea, sebenarnya tak ada yang ia kuasai, tetapi berkat keberuntungannya ia selalu mendapat nilai tinggi, Aya teman sebangku Vivi, tak terlalu pandai tapi bisa mengerjakan tugas dari semua mata pelajaran.

Ke empatnya bersahabat mulai dari sekolah menengah pertama, hingga sekarang duduk di bangku menengah atas. Dea tak terlalu hits di sekolah, sikapnya dingin dan tak mau tau urusan orang. Vivi yang selalu beruntung adalah murid hits di kalangan satu angkatan dan kaka kelas, parasnya yang cantik dan body nya yang ideal jadi penunjang dirinya.

Nana juga juga tidak terlalu hits, tapi lebih dari Dea, Nana lebih di kenal oleh satu angkatan karena punya banyak saudara, sedangkan Aya punya kesamaan dengan Vivi, yah tidak beda jauhlah.

Semua berjalan normal dan menyenangkan, sampai hari dimana ada sedikit perubahan, dimana Vivi dan Aya sering di sapa sana-sini, bisa di katakan banyak cowok yang suka cuat-cuit ke mereka.

Nana, anteng-anteng saja, sedari lulus SMP ia sudah punya gandengan. Tak kalah saing Aya juga sudah punya gandengan, tetapi masih jadi idola para kaka kelas. Dea ?.. emmmmm sebenarnya dia pernah punya, tapi tidak bertahan dan itu membuatnya sedikit sensi pada cowok, ia menyama ratakan karakter cowok.

Setiap jalan, Vivi dan Aya selalu terhenti di cegat para cowok, berbincang ini dan itu saling menggombal dan bercanda, menurut Dea tak ada kepentingan dia disana, ia pergi dan meninggalkan sahabatnya.

Di kelas Vivi dan Aya selalu membahas cowok-cowok itu, Nana selalu rajin bertanya dan mereka bersemangat menceritakannya. Dea yang dingin dan cuek bahkan tak mau mendengarkan selagi tak ada keuntungan baginya, dia tak mau terlibat.

Sampai Dea benar-benar tak tahu apa-apa tentang para sahabatnya itu, ia jarang menanyakan apa yang tengah di alami mereka, Dea tak minat bertanya atau mendengarkan cerita jika itu menyinggung tentang cowok. Dea lebih menaruh perhatian pada cerita mereka tentang keluarga.

Karena sering menghadapi para cowok bersama, Vivi dan Aya makin solid, Nana yang konsen masuk Universitas makin giat belajar, terutama perhitungan, Dea tak tau siapa cowok-cowok yang di maksud, dia tak ingin mendengarkan lagi, Dea juga anti perhitungan dia tak mau bergabung belajar bersama Nana, hubungan itu mulai renggang.


*********
Saat itu entah para sahabatnya yang menjauh atau Dea yang terlalu egois. Setelah mendengar kabar pernikahan itu Dea mengerti, nampaknya dia bukanlah sahabat yang baik.

Dea merasa ia adalah sahabat terburuk..!! Dea meminta maaf, ia merasa bersalah. Dea tak pernah memperhatikan dengan siapa para sahabatnya itu berpasangan, meski mereka menceritakannya tapi Dea tak menggubrisnya, ia tak perduli padahal pasangan adalah hal yang penting dalam hidup, Dea merasa menyesal.

Tetapi Nana membantahnya, baginya dan yang lain Dea adalah sahabat baik, meski tak selalu ada, tapi Dea selalu memberi semangat pada yang lain.

“Mungkin Dea tak tau tentang cowok yang akan jadi pendamping hidup kita, tetapi Dea selalu tau saat kita sedang terpuruk, Dea selalu memberi semangat dan dukungan bagi kita, Dea yang rajin mengisi kolom komentar kita saat status kita menunjukkan ke galauan. itu adalah sahabat yang baik, ada di saat kita butuh kekuatan. Jangan pergi Dea...kita adalah sahabat”




#Yogyakarta_14-11-2017