Sahabat Terburuk
“Dea...? aku akan menikah akhir tahun ini” Dea membaca pesan dari Aya, wajahnya
seketika datar. Ia tak percaya dengan pesan Aya, lalu Dea mengirim pesan di
grup obrolan yang memuat ke tiga sahabatnya. Mencoba mencari kebenaran tentang
kabar pernikahan itu.
Semuanya membenarkan, Dea baru
terkejut, ia bertanya siapa cowok itu, asal darimana dan kapan di adakan
pertunangan. Aya menjawab sebenarnya Dea tahu siapa cowok itu dan darimana
asalnya. Tapi Dea menyangkal tidak mengenal cowok itu.
Kemudian Nana memberi kabar, Aya sudah
melakukan pertunangan sejak jauh-jauh hari, Dea kembali terkejut, Aya juga
mengabarkan pertunangannya sudah di susul oleh Nana, Dea tambah terkejut. Dea
sedikit kecewa, dia tak tahu tentang kabar itu sebelumnya, dia menambahkan apa
Vivi juga sudah? Tapi Vivi langsung hadir membantahnya.
Dea keluar dari grup, dia merasa kecewa
pada para sahabatnya itu. Selang beberapa menit, Dea membuka pesan dari Aya,
melihat foto calon suami Aya, Dea ingat dia adalah kaka kelas waktu SMP. Dea
baru sadar selama ini ia tak pernah bertanya tentang cowok pada para
sahabatnya, mengingatkan Dea akan masa sekolah dulu.
**********
Kelas matematika, bu guru menjelaskan
beberapa rumus, memberi contoh soal, dimanapun dan apapun materinya contoh soal
selalu mudah di kerjakan, beda dengan soal tugas atau soal ujian, bikin pusing
tujuh keliling. Dea tak pandai di bidang matematik, dia angkat tangan soal
hitung-menghitung.
Nana teman sebangkunya pandai dalam
bidang tersebut, meski awalnya tak paham, tapi ia selalu berusaha mempelajarinya
sampai bisa, Vivi duduk di belakang Nana dan Dea, sebenarnya tak ada yang ia
kuasai, tetapi berkat keberuntungannya ia selalu mendapat nilai tinggi, Aya
teman sebangku Vivi, tak terlalu pandai tapi bisa mengerjakan tugas dari semua
mata pelajaran.
Ke empatnya bersahabat mulai dari
sekolah menengah pertama, hingga sekarang duduk di bangku menengah atas. Dea tak
terlalu hits di sekolah, sikapnya dingin dan tak mau tau urusan orang. Vivi yang
selalu beruntung adalah murid hits di kalangan satu angkatan dan kaka kelas,
parasnya yang cantik dan body nya yang ideal jadi penunjang dirinya.
Nana juga juga tidak terlalu hits, tapi
lebih dari Dea, Nana lebih di kenal oleh satu angkatan karena punya banyak
saudara, sedangkan Aya punya kesamaan dengan Vivi, yah tidak beda jauhlah.
Semua berjalan normal dan menyenangkan,
sampai hari dimana ada sedikit perubahan, dimana Vivi dan Aya sering di sapa
sana-sini, bisa di katakan banyak cowok yang suka cuat-cuit ke mereka.
Nana, anteng-anteng saja, sedari lulus
SMP ia sudah punya gandengan. Tak kalah saing Aya juga sudah punya gandengan,
tetapi masih jadi idola para kaka kelas. Dea ?.. emmmmm sebenarnya dia pernah
punya, tapi tidak bertahan dan itu membuatnya sedikit sensi pada cowok, ia
menyama ratakan karakter cowok.
Setiap jalan, Vivi dan Aya selalu
terhenti di cegat para cowok, berbincang ini dan itu saling menggombal dan
bercanda, menurut Dea tak ada kepentingan dia disana, ia pergi dan meninggalkan
sahabatnya.
Di kelas Vivi dan Aya selalu membahas
cowok-cowok itu, Nana selalu rajin bertanya dan mereka bersemangat
menceritakannya. Dea yang dingin dan cuek bahkan tak mau mendengarkan selagi
tak ada keuntungan baginya, dia tak mau terlibat.
Sampai Dea benar-benar tak tahu apa-apa
tentang para sahabatnya itu, ia jarang menanyakan apa yang tengah di alami
mereka, Dea tak minat bertanya atau mendengarkan cerita jika itu menyinggung
tentang cowok. Dea lebih menaruh perhatian pada cerita mereka tentang keluarga.
Karena sering menghadapi para cowok
bersama, Vivi dan Aya makin solid, Nana yang konsen masuk Universitas makin
giat belajar, terutama perhitungan, Dea tak tau siapa cowok-cowok yang di
maksud, dia tak ingin mendengarkan lagi, Dea juga anti perhitungan dia tak mau
bergabung belajar bersama Nana, hubungan itu mulai renggang.
*********
Saat itu entah para sahabatnya yang
menjauh atau Dea yang terlalu egois. Setelah mendengar kabar pernikahan itu Dea
mengerti, nampaknya dia bukanlah sahabat yang baik.
Dea merasa ia adalah sahabat terburuk..!!
Dea meminta maaf, ia merasa bersalah. Dea tak pernah memperhatikan dengan siapa
para sahabatnya itu berpasangan, meski mereka menceritakannya tapi Dea tak
menggubrisnya, ia tak perduli padahal pasangan adalah hal yang penting dalam
hidup, Dea merasa menyesal.
Tetapi Nana membantahnya, baginya dan
yang lain Dea adalah sahabat baik, meski tak selalu ada, tapi Dea selalu
memberi semangat pada yang lain.
“Mungkin Dea tak tau tentang cowok yang akan jadi pendamping
hidup kita, tetapi Dea selalu tau saat kita sedang terpuruk, Dea selalu memberi
semangat dan dukungan bagi kita, Dea yang rajin mengisi kolom komentar kita
saat status kita menunjukkan ke galauan. itu adalah sahabat yang baik, ada di
saat kita butuh kekuatan. Jangan pergi Dea...kita adalah sahabat”
#Yogyakarta_14-11-2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar