Kemana
Laki-Laki itu Pergi.. ?
Matanya
mengarah padaku, tanpa berkedip ia menatapku penuh cinta, tiada curiga, tiada orang
lain, tiada cemburu, hanya ada kasihku dan kasihnya, sayangku dan sayangnya,
cintaku dan cintanya, menyatu dengan mesra melangkah bersama.
Mengucap
janji setia tanpa ragu melepas kesendirian, menetap bersama dalam satu atap,
menghindari dingin dan panas saling melengkapi. “Aku harus pergi” suaranya tegas meminta ijin padaku untuk
mendukung kemauannya. “lantas aku
bagaimana ?” aku tetap menahannya, aku tak ingin jauh darinya.
“kamu akan baik-baik saja, jaga
bayi kita, aku berjanji akan pulang menyambut kelahirannya” kata-kata
itu penuh keyakinan, matanya memancarkan janji yang pasti. Di tengah kesulitan
ini, ia harus merantau sampai ke negeri orang, ditambah lagi kebutuhan untuk
calon bayi ini.
Aku
mengantarnya ke bandara, genggaman tangannya erat, perekonomian yang sedang
susah, keadaan sedang hamil tua, memaksanya pergi mencari peruntungan, berat
memang meninggalkanku dalam keadaan begini, berat memang melepasnya dalam
keadaan begini.
Langkahnya
semakin menjauh, di ujung pintu itu ia membalikkan badanya, matanya sendu,
dahinya menurun, bibirnya bergetar, betapa murung wajah yang aku saksikan. Aku tersenyum,
melambaikan tangan memberinya semangat, dan menunjukkan bahwa aku baik-baik
saja, semua akan terlewati pasti akan terlewati.
Tiada
kabar tiada berita, tiada pula merpati putih yang membawa sepucuk surat, hariku
semakin dekat, kupersiapkan segalanya agar berjalan normal dan lancar, tak ada
tanda-tanda kedatangannya, andai persalinan ini dapat ditunda sampai ia pulang.
Jeritan,
raungan, seluruh tenaga kukeluarkan, sebagian untuk keselamatan bayiku,
sebagian pelampiasanku padanya yang tiada kunjung pulang. Tangisan bayi
menggetak hatiku, bayiku telah lahir, aku mendengar tangisan kerasnya, air mata
mengalir menyatu dengan cucuran keringat.
Bahagiaku
sangat singkat sampai-sampai aku tidak sempat menarik senyum dibibirku. Pembayaran
proses persalinan mendesak jantungku, memaksa kepalaku berfikir keras,
kebutuhan bayi juga membuat wajahku semakin memucat.
Kukumpulkan lagi seluruh tenagaku, berjalan sepanjang ruko pasar, mencari pekerjaan
untuk menghasilkan uang. Warung makan sederhana yang ramai pengunjung, aku dipekerjakan sebagai buruh cuci piring, aku lakoni dengan semangat mengingat
bayiku dan tagihan persalinan.
Kemana
perginya laki-laki itu ..? hatiku dan pikiranku tiada henti menanyakan
keberadaannya. Tak ada seorangpun yang dapat aku tanyai, tak seorangpun
memberiku petunjuk. Kemana laki-laki itu pergi..? mengapa belum juga pulang..?
Tagihan
persalinan sudah lunas, bayiku sudah bisa merangkak, aku masih bekerja, kini
aku membawa anakku ke tempat kerja, tak bisa lagi aku titipkan ia pada
tetangga, ia terlihat ceria
melihat-lihat kerumunan orang di pasar. hari menjelang sore, ku gendong ia di
belakang, kubawa berkeliling pasar, mencari apapun yang bisa dipungut, mengais-ngais sayuran dan
buah-buahan yang sudah dibuang, kupilih-pilih mana yang masih bisa di makan.
Hidup
ini kupertaruhkan untuk anak kesayangan, berharap ia tumbuh menjadi laki-laki
sukses yang penuh tanggungjawab. Tiada mengapa aku hidup bagai budak, tiada
mengapa aku hidup dengan menelan kepahitan, kelak kerja kerasku ini akan
membuahkan hasil.
Kemana
perginya laki-laki itu..? laki-laki yang mengucap janji setia padaku, kemana
laki-laki itu pergi..? malam ini aku tak bisa membendung air mata. Sambil menepuk-nepuk
laki-laki kecil ini, aku menanyakan kemana perginya laki-laki yang berjanji
hidup bersamaku.
Matahari
terbit dari ufuk timur, pekerjaan rumah kuselesaikan sebelum berangkat ke
pasar. Terdengar pintu diketuk, aku menghentikan pekerjaanku, berlari dengan
penuh tanya, apakah itu dia ..?!
Sosok
laki-laki berdiri di depan pintu, menatap penuh penyesalan padaku. Tangannya
mengulurkan sebuah amplop, kuraih amplop itu, tanpa sepatah katapun ia pergi
dari hadapanku.
Masih
pada posisiku berdiri, aku buka amplop yang isinya lembaran kertas putih,
membaca judul suratnya saja sudah membuat kakiku mati rasa, SURAT KEMATIAN,
duniaku seketika gelap, aku tak bisa mendengar apapun.
Pandangan mataku buyar, jantungku terasa berhenti berdetak, sekujur tubuhku tak mau bergerak,
suaraku lirih merintih mencari anakku, tetangga menawarkan diri merawatku, aku
merasa baik-baik saja, aku tidak mau terpuruk dalam waktu lama.
Laki-laki
itu benar-benar pergi,, kemana perginya bahkan ia tak mengatakan itu, laki-laki
yang tersesat benar-benar tersesat, aku bahkan tak bisa menyusulnya, aku harus
hidup demi anak, aku harus hidup untuk anak.
Bekerja
sana-sini sampai aku menua, aku tidak berencana mati sebelum anakku mapan,
mampu mengurus dirinya dengan layak dan berkeluarga untuk hidup bahagia.
Kemana
perginya..laki-laki yang tersesat ? kini anak kita sudah dewasa, mampu menghasilkan uang dan dikagumi orang sebagai prajurit negara. Kemana laki-laki itu pergi..? tak maukah ia
melihat anaknya yang rupawan dan penuh tanggungjawab ?.
Kini
tubuhku penuh dengan luka, apakah engkau masih mencintaiku seandainya kita
bertemu lagi ? hai.. laki-laki yang telah pergi, mengapa tak datang menyapa, ? sulitkah
untuk hadir dalam mimpi anakmu ?
Laki-laki
yang telah dahulu pergi, sesekali datanglah ke dalam mimpinya, seperti janjiku
padanya, aku akan terus hadir dalam malam-malam indahnya, menyapanya dan
melihatnya apakah ia baik-baik saja. Aku pasti akan menepati janjiku, karena
akupun selalu ingin melihatnya, meski aku sudah tiada.
#Yogyakarta_15/11/2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar