Rabu, 15 November 2017

cerpen "Kemana Laki-Laki itu Pergi ?"



Kemana Laki-Laki itu Pergi.. ?



Matanya mengarah padaku, tanpa berkedip ia menatapku penuh cinta, tiada curiga, tiada orang lain, tiada cemburu, hanya ada kasihku dan kasihnya, sayangku dan sayangnya, cintaku dan cintanya, menyatu dengan mesra melangkah bersama.

Mengucap janji setia tanpa ragu melepas kesendirian, menetap bersama dalam satu atap, menghindari dingin dan panas saling melengkapi. “Aku harus pergi” suaranya tegas meminta ijin padaku untuk mendukung kemauannya. “lantas aku bagaimana ?” aku tetap menahannya, aku tak ingin jauh darinya.

“kamu akan baik-baik saja, jaga bayi kita, aku berjanji akan pulang menyambut kelahirannya” kata-kata itu penuh keyakinan, matanya memancarkan janji yang pasti. Di tengah kesulitan ini, ia harus merantau sampai ke negeri orang, ditambah lagi kebutuhan untuk calon bayi ini.

Aku mengantarnya ke bandara, genggaman tangannya erat, perekonomian yang sedang susah, keadaan sedang hamil tua, memaksanya pergi mencari peruntungan, berat memang meninggalkanku dalam keadaan begini, berat memang melepasnya dalam keadaan begini.

Langkahnya semakin menjauh, di ujung pintu itu ia membalikkan badanya, matanya sendu, dahinya menurun, bibirnya bergetar, betapa murung wajah yang aku saksikan. Aku tersenyum, melambaikan tangan memberinya semangat, dan menunjukkan bahwa aku baik-baik saja, semua akan terlewati pasti akan terlewati.

Tiada kabar tiada berita, tiada pula merpati putih yang membawa sepucuk surat, hariku semakin dekat, kupersiapkan segalanya agar berjalan normal dan lancar, tak ada tanda-tanda kedatangannya, andai persalinan ini dapat ditunda sampai ia pulang.

Jeritan, raungan, seluruh tenaga kukeluarkan, sebagian untuk keselamatan bayiku, sebagian pelampiasanku padanya yang tiada kunjung pulang. Tangisan bayi menggetak hatiku, bayiku telah lahir, aku mendengar tangisan kerasnya, air mata mengalir menyatu dengan cucuran keringat.

Bahagiaku sangat singkat sampai-sampai aku tidak sempat menarik senyum dibibirku. Pembayaran proses persalinan mendesak jantungku, memaksa kepalaku berfikir keras, kebutuhan bayi juga membuat wajahku semakin memucat.

Kukumpulkan lagi seluruh tenagaku, berjalan sepanjang ruko pasar, mencari pekerjaan untuk menghasilkan uang. Warung makan sederhana yang ramai pengunjung, aku dipekerjakan sebagai buruh cuci piring, aku lakoni dengan semangat mengingat bayiku dan tagihan persalinan.

Kemana perginya laki-laki itu ..? hatiku dan pikiranku tiada henti menanyakan keberadaannya. Tak ada seorangpun yang dapat aku tanyai, tak seorangpun memberiku petunjuk. Kemana laki-laki itu pergi..? mengapa belum juga pulang..?

Tagihan persalinan sudah lunas, bayiku sudah bisa merangkak, aku masih bekerja, kini aku membawa anakku ke tempat kerja, tak bisa lagi aku titipkan ia pada tetangga,  ia terlihat ceria melihat-lihat kerumunan orang di pasar. hari menjelang sore, ku gendong ia di belakang, kubawa berkeliling pasar, mencari apapun yang bisa dipungut, mengais-ngais sayuran dan buah-buahan yang sudah dibuang, kupilih-pilih mana yang masih bisa di makan.

Hidup ini kupertaruhkan untuk anak kesayangan, berharap ia tumbuh menjadi laki-laki sukses yang penuh tanggungjawab. Tiada mengapa aku hidup bagai budak, tiada mengapa aku hidup dengan menelan kepahitan, kelak kerja kerasku ini akan membuahkan hasil.

Kemana perginya laki-laki itu..? laki-laki yang mengucap janji setia padaku, kemana laki-laki itu pergi..? malam ini aku tak bisa membendung air mata. Sambil menepuk-nepuk laki-laki kecil ini, aku menanyakan kemana perginya laki-laki yang berjanji hidup bersamaku.

Matahari terbit dari ufuk timur, pekerjaan rumah kuselesaikan sebelum berangkat ke pasar. Terdengar pintu diketuk, aku menghentikan pekerjaanku, berlari dengan penuh tanya, apakah itu dia ..?!

Sosok laki-laki berdiri di depan pintu, menatap penuh penyesalan padaku. Tangannya mengulurkan sebuah amplop, kuraih amplop itu, tanpa sepatah katapun ia pergi dari hadapanku.

Masih pada posisiku berdiri, aku buka amplop yang isinya lembaran kertas putih, membaca judul suratnya saja sudah membuat kakiku mati rasa, SURAT KEMATIAN, duniaku seketika gelap, aku tak bisa mendengar apapun.

Pandangan mataku buyar, jantungku terasa berhenti berdetak, sekujur tubuhku tak mau bergerak, suaraku lirih merintih mencari anakku, tetangga menawarkan diri merawatku, aku merasa baik-baik saja, aku tidak mau terpuruk dalam waktu lama.

Laki-laki itu benar-benar pergi,, kemana perginya bahkan ia tak mengatakan itu, laki-laki yang tersesat benar-benar tersesat, aku bahkan tak bisa menyusulnya, aku harus hidup demi anak, aku harus hidup untuk anak.

Bekerja sana-sini sampai aku menua, aku tidak berencana mati sebelum anakku mapan, mampu mengurus dirinya dengan layak dan berkeluarga untuk hidup bahagia.

Kemana perginya..laki-laki yang tersesat ? kini anak kita sudah dewasa, mampu menghasilkan uang dan dikagumi orang sebagai prajurit negara. Kemana laki-laki itu pergi..? tak maukah ia melihat anaknya yang rupawan dan penuh tanggungjawab ?.

Kini tubuhku penuh dengan luka, apakah engkau masih mencintaiku seandainya kita bertemu lagi ? hai.. laki-laki yang telah pergi, mengapa tak datang menyapa, ? sulitkah untuk hadir dalam mimpi anakmu ?

Laki-laki yang telah dahulu pergi, sesekali datanglah ke dalam mimpinya, seperti janjiku padanya, aku akan terus hadir dalam malam-malam indahnya, menyapanya dan melihatnya apakah ia baik-baik saja. Aku pasti akan menepati janjiku, karena akupun selalu ingin melihatnya, meski aku sudah tiada.









#Yogyakarta_15/11/2017



Tidak ada komentar:

Posting Komentar