Tampilkan postingan dengan label #Fiksiana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Fiksiana. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2021

Diary "Suasana Hatimu"

Hari ini berjalan lancar dan membahagiakan meski selalu ada hal-hal yang menengangkan. Sepertinya kamu sedang ada masalah ya mas, sejak beberapa hari lalu, kamu dan atasan lainnya selalu rapat. Sekilas aku mendengar bahwa kamu harus bertanggungjawab atas sesuatu, mungkin itu kesalahan kerja. Tadi aku melihatmu mengendarai mobil dengan laju yang emosi. Mungkin suasana hatimu sedang tidak baik. Kamu yang ada dalam mobil tapi hatiku yang khawatir, jangan mengendarai mobil seperti itu mas, berhati-hatilah karena lajunya seperti ugal-ugalan.

Sore harinya kamu kembali, seseorang menghampirimu, tapi kamu sibuk jadi menyuruhnya untuk menemuiku saja. Ketika itu ada yang salah mas, kamu kemudian lari mengejar orang itu. Aku sudah cemas apakah akan menimbulkan masalah besar lagi. Kamu berjalan kearahku dengan wajah muram. Sangat berbeda dibanding dengan saat pertama kamu menjelaskan pekerjaan padaku, kali ini kamu menjelaskan dengan emosi.

Menegurku jangan sampai salah lagi, bahkan menaruh barang saja sampai kamu banting. Begitu buruk ya suasana hatimu saat itu? Maafkan aku yang belum memahami segala yang ada, aku akan melakukan semuanya dengan lebih baik lagi mas, semoga suasana hatimu lekas membaik ya. 



#imajinasi

Selasa, 26 Januari 2021

Diary "Hari Berganti"

 

Dok. Pri

Langit nampak mendung sejak subuh, rintik gerimis membasah bumi mengiringi basah pipi dan hati ini. Sudah sejak malam aku memikirkannya, apakah harus ini yang terjadi? Namun dalam hatiku bertekad apapun itu akan aku jalani. Kamu mungkin tidak tahu mas, sebenarnya berat jika harus pergi begitu saja.

Aku bahkan tidak tahu kalau kemarin adalah hari terakhir kita berinteraksi, andai kutahu pasti aku akan meminta waktu berhenti sejenak, meski tak mungkin tapi aku ingin berusaha menatapmu lebih lama. Mas, kakiku tetap melangkah, hatiku berat tapi tubuhku telah benar-benar pergi dari tempat dimana kita bisa berinteraksi.

Semoga semua baik-baik saja ya mas, jangan lagi terburu-buru sehingga kamu menjatuhkan CPU. Semoga tak ada masalah lagi dengan pekerjaanmu. Rasanya aku menjadi orang yang tidak beretika, pergi begitu saja tanpa ada kata maaf dan terimakasih. Tapi mas, aku yakin masih ada waktu meski terlambat, masih ada ikatan antara aku dan tempat itu. Semoga Tuhan memberi waktu yang tepat.




____

Pekalongan 19/01/21


Jumat, 18 Desember 2020

"Surat Darimu"


Kegembiraan Hatiku ini hampir tak dapat ku ungkapkan,

Kau tahu kenapa?

Sudah lama engkau tiada mengirim surat

Kini hatiku tengah berbahagia, kau tahu?

Rasanya aku tak bosan-bosannya membaca suratmu

Meski hanya melalui kata-kata yang kau tulis

Aku merasa berhadapan langsung denganmu


Makin hari rindu itu semakin menggebu gebu

Ingin rasanya untuk bisa selalu dekat denganmu, kau tahu?

Setiap kata yang kau tuliskan dalam suratmu

Seolah olah telah melekat di hatiku

Tak ada lagi harapanku padamu

Selain harapan hari dimana engkau kembali

Untuk kita bersanding di singgasana cinta



_____

Batang, Desember 2020

#dwy_rr

Sajak Untuk Kawan



Rintik gerimis turun di siang hari.

Jauh dari langit sana terdengar gemuruh guntur bergetar teratur.

Tidak menakutkan tidak pula mengagetkan. Senada seirama dengan turunnya titik air itu.

Guntur bersuara, ku teringat dia, seseorang yang banyak membantuku di Jogja. Belum sempat balas budi, kusudah pergi.

Kini setahun sudah tak bersua, ku doakan agar dia selalu bahagia 





_____

Jateng 18 Desember 2020

 

Kamis, 17 Desember 2020

Air Luka

Bergetar kilat di angkasa, deras hujan mengguyur bumi dia masih terpaku dalam sunyi..

Hujan semakin deras, titik-titik air itu jatuh menggebu gebu, seakan inilah puncak penyimpanan hati..

Dia tak mampu mendongak dan membuka mata, butiran air yang lembek itu rupanya bisa menyakiti..

Serupa rasa yang pernah terukir dalam relung hati, ia begitu indah dan penuh harap pasti..

Hingga ukiran itu, semakin menyayat, menggores luka menciptakan tetesan darah tiada henti.. 




_____

Batang, Desember 2020


Minggu, 27 September 2020

Mimpi Santa I

Asmara kemana lagi akan ku cari siapa yang kan mengusir sepi disaat ku sendiri asmara mungkinkah kau sampaikan padanya walau hatiku penuh derita aku masih selalu cinta..... (Asmara-Novia Kolopaking)

Santa menutup wajahnya menggunakan selimut menyembunyikan matanya yang sembab dan hidung yang memerah. Rian pulang lebih awal malam ini, pekerjaan hari ini tak sepadat biasanya. Gemericik air terdengar samar, Santa melepas headset yang terpasang di telinga, mematikan lagu yang tengah ia dengarkan dan kembali menutup dirinya dengan selimut. Santa tak berniat menyapa Rian dengan mata sembabnya., mungkin besok pagi saja.

Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, Santa terbangun dari tidurnya, membalikkan tubuh dan menatap Rian, semua masih sama, seperti malam malam biasanya.. Menu sarapan sudah siap di meja makan, Rian bersiap menyantap hidangan untuk kemudian bergegas ke kantor. Santa menatap Rian hendak menanyakan sesuatu, namun dia ragu. Sebaiknya bertanya atau tidak kalau dia pulang lebih awal semalam, namun Santa bingung karena dia pura-pura sudah tidur. Tinggal suapan terakhir seperti biasa Rian memuji masakan Santa, nasi gorengnya enak, ditambah telor ceplok setengah matang, menu andalan Santa yang merupakan makanan favorit Rian.

Santa tersenyum, dia menawarkan lagi nasi goreng buatannya. Rian menolak karena harus segera berangkat. Santa membawakan tas Rian seraya mengantarnya sampai pintu. Tidak ada rencana apapun hari ini, seperti biasa, Santa menatap layar HP melihat lihat kegiatan teman-temannya yang dibagikan melalui sosial media. Oh iya ini hari Sabtu, beberapa orang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan, berkumpul dengan keluarga, atau membelanjakan sesuatu. Santa tersenyum getir, matanya mulai berkaca, Rian harus bekerja dia jarang libur bahkan hari Minggu sekalipun. Bagi Rian pekerjaannya harus diutamakan, banyak lemburan yang dia ambil untuk tambah-tambah tabungan. Santa harus mengerti, Santa tidak lagi bekerja semenjak pindah rumah mengikuti Rian.

Tidak hanya pekerjaan, teman-teman dan keluargapun ia tinggalkan semua berada di Jogja, sedangkan kini ia harus tinggal di Malang mengikuti Rian. Sebenarnya Santa ingin kembali bekerja, namun beberapa lamarannya belum ada panggilan hingga akhirnya Rian menyuruh Santa untuk di rumah saja. Sudah hampir empat tahun pernikahannya dengan Rian, keduanya belum diberi momongan. Hal itu membuat Santa merasa canggung pada keluarga Rian, merasa tak sempurna dihadapan Rian, dan berusaha menahan kesedihan dari kedua orangtuanya.

Tiga tahun hari-harinya dilalui dengan duduk di sofa ruang tamu, menggeser geser menu HP, membaca, postingan sosial media, atau sesekali menonton film. Santa jarang keluar rumah, ia belum hafal betul jalan kota atau tempat wisata, mau pergi pun tak tahu harus dengan siapa, sesekali mengajak kawan lama namun nampaknya kesibukan jadi alasan. Masih membayangkan mimpi apa saja yang belum terwujud Santa meneteskan air mata. Entah harus mulai darimana lagi ia menata hidupnya agar nampak baik-baik saja. Ada badai berkecamuk dalam dadanya, terasa menusuk nusuk kepalanya, matanya kabur, dunia bak berputar lebih cepat. Santa menyenderkan tubuhnya mencoba menenangkan diri dan memejamkan mata.

Kepalanya masih pusing ketika Santa membuka mata, waktu menunjukkan pukul satu siang, Santa pergi ke warung membeli makanan dan obat sakit kepala. Rian pulang lebih awal lagi. Santa bangkit dari temoat tidur sembari memegangi kepalanya. Menyiapkan makan malam dan meminta Rian untuk libur esok hari. Rian bersikukuh tetap bekerja, ada hal yang harus dia capai. Santa mencoba membuka percakapan lebih dalam ia hendak membahas perihal anak dan sakit kepalanya yang akhir-akhir ini terus kambuh. Rian menyela ucapan Santa, dia tak ingin mengobrol panjang lebar malam ini. Besok harus kembali bekerja. Rian menyuruh Santa untuk santai saja di rumah, jika sudah waktunya Rian akan mulai memikirkan perihal anak., atau hal lain yang menjadi impian Santa.

Santa mengangguk, dan membereskan sisa makan malam. Kepalanya masih terasa berputar, Santa membaringkan tubuhnya. Pagi itu ibunya menelepon, Santa memegang kepalanya, ia enggan menjawab pertanyaan ibu. Sudah tidak bekerja apalagi yang dikerjakan kalau tidak mengurus anak. Harus ada usaha dan disegerakan, agar punya kesibukan dan tidak terlalu lambat untuk melahirkan. Santa tak tahu harus menjelaskan apa. Memang belum dikasih mau bagaimana lagi, kerjaan juga sudah diusahakan memang belum ada kesempatan lagi, Santa menjawab dengan suara bergetar.

Mencoba mencari kegiatan yang lebih produktif untuk mengalihkan pikiran negatif, Santa pergi ke taman kota. Sekeliling nampak lalu lalang kendaraan, setiap orang sibuk dengan segala aktivitasnya. Santa kembali menatap layar HP semua nampak baik-baik saja, keluarga, teman, tetangga, dan Rian. Kepalanya kembali terasa berputar, Santa memegangi kepalanya yang serasa ingin ia benturkan ke tembok. Santa menghubungi Rian. Lima kali panggilannya tak diangkat oleh Rian.

___
Santa terbaring dengan jarum infus menancap ditangannya. Matanya terpejam dengan wajah pucat, tidak ada gerakan sedikitpun. Rian menatapnya diam, tatapannya kosong, ia enggan mengalihkan pandangannya. Wanita paruh baya mendekat dan menarik tubuh lemas Rian, langkahnya terseret seret nampak tak ada tenaga sedikitpun untuk menegakkan kepalanya. Dia sakit, mungkin lebih dari itu tak hanya kepalanya yang sakit, perasaannya juga sakit, pikiran dan pribadinya sudah sakit. Orang perlu bicara, berbagai kisah dan saling menyemangati, Santa tidak punya teman bicara, dia kesepian, banyak hal tertahan di ujung kerongkongannya, beban dia tak nampak namun dia tumpuk dikepala dan dadanya. Kamu tahu? Orang yang kesepian, dia akan menjadi tua sendirian, sering menangis, tak bercahaya, banyak diam, dan akhirnya dia menemui sakit yang tak tertahankan.

Ibu Santa tak kuasa menahan tangis ia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Ia menjauh dari Rian, beranjak pergi meninggalkan Rian yang terdiam.

Dokter menerangkan kalau Santa menderita aneurisma. Makin besar ia, makin mudah pecah karena makin tipis. Hanya menunggu waktu semoga ada keajaiban bagi Santa.

Senja itu bergemuruh, langit diangkasa seakan bergetar, dada Rian bagai tersambar kilat. Hujan mengguyur perasaan Rian, nafasnya tersengal, menurunkan tubuh Santa ke tempat peristirahatan terakhir. Isakan tangis mengiringi kepergian Santa. Kini ia tak lagi menangis sendiri. Namun ia tetap diam sampai akhir hidupnya.



Bumi 27 September 2020
@dwy_rr

Jumat, 11 September 2020

Komentar Dalam Hati

 

pinterest

Warna merah atau abu-abu ya, aku bergumam dalam hati menentukan warna baju yang akan ku kenakan ke pesta pernikahan teman. “10 menit lagi kita sampai dilokasi” ku baca pesan dari teman yang janjian datang bareng. “yuk jalan, siapa yang tahu jalan sini”. Aku mengegas pelan motorku memberi aba-aba disetiap belokan dan memperhatikan teman-teman yang melaju di belakangku. Kenapa acaranya sepi sekali, kenapa juga diadakan di rumah, oh ya kamu dapat undangannya? Aku cuma dikirimi pesan singkat. Aku ngga dapet undangan cetaknya tapi dapat undangan digitalnya. Eh aku malah dikasih tau Ica, katanya disuruh dia.

Begitu seterusnya teman-teman memperbincangkan sang pengantin wanita. Sesekali aku mendengarkan tapi tak menjawab apapun. Pandanganku mengawasi tiap meja, mencari seseorang yang mungkin aku cari. “Ris..!!!” aku menoleh mencari sumber suara. Afi teman Sekolah Dasar dulu, beberapa bulan lalu dia mampir ke rumahku bersama pacarnya.

“kamu udah lama disini?” tanyaku. “iya dari sore, aku nemenin Wulan. Aku ngirim pesan ke kamu Ris, biar kita sama-sama disini, Wulan ngga ada temennya”. Aku mengecek ponselku. “kamu sendiri” tanyaku melihat sekitar. “iya aku sendiri, makanya aku kirim pesan ke kamu”. Masih basa basi, aku bertanya “ngga sama pacar?”. “aku udah putus, udah lama malah”. Kaget, padahal hubungannya terlihat indah, dan sudah amat dekat. “sedih banget sumpah, tapi ya gimana lagi, dia udah sama yang lain”.

Aku berkomentar dalam hati, Wulan juga sempat putus, bahkan katanya musuhan, tapi tiba-tiba balikan sekalian nikah. Afi yang tanpa masalah dan keduanya bak tidak ada kekurangan satu sama lain, tiba-tiba putus. Komentarku terhenti, “Ris..!!! kamu kapan nyusul? Dari jaman sekolah katanya mau nikah paling dulu?”. Sentil kawan-kawan, aku hanya tersenyum namun lengkungannya kebawah. “ih capek banget ya, kerja di lapangan tiap hari kesana kemari ngejar target,” tapi kan gajinya lumayan, gumamku dalam hati. “loh lihat tuh Nia sampai sekarang belum ada panggilan, batuin gih biar cepet dapet kerja” “iya nih udah lama nganggur, kayaknya mamah udah mulai bosen lihat aku makan tidur, makan tidur doang”.

Tapi ... fotonya jalan-jalan terus, enak juga makan tidur, makan tidur, tapi duit buat jalan lancar terus, sinisku dalam hati. “kemarin aku dapat kabar dari Lila yang merantau, katanya sampai sekarang juga belum dapet kerja”. “loh terus biaya hidup dia selama disana, gimana”. Kan dia ada pacar disana, mungkin ikut pacarnya, aku menjawab dalam hati. “pengen keluar cari kerjaan yang nyaman, demi apa, atasanku sukanya marah-marah, enak banget cuma nyuruh-nyuruh, kalau ada kesalahan tinggal nglimpahin ke bawahan”. Ucapannya tegas menggambarkan kekecewaannya. “si Tata loh dia kan udah naik jabatan tuh, ya ampun sombongya ngga ketulungan,kemarin aku ketemu di depan cafe”. Sejak lahir juga dia udah sombong, aku terkekeh dalam hati. “mungkin ada transferan khusus” hahahahahah hahahah ahahaha...... tawa riuh ramai memecah suasana sepi disini. “kalian udah jenguk Vian, udah lahir tuh anaknya, tapi katanya pisah, trus anaknya dirawat kakek neneknya” hemmm itu kan kecelakaan, resiko nikah mudah juga begitu, ucapku dalam hati sambil manyun.

Wah wah semakin banyak saja perbincangan teman-temanku ini, aku hanya diam namun berdebat dalam hati. Aku menemui Wulan, basa basi biasa dan berpamitan. Teman-teman protes kenapa aku pergi duluan, aku berdalih ada janji dengan seseorang, hanya alasan supaya aku tidak terus berkomentar karena obrolan-obrolan mereka, bagaimanapun komentarku juga pedas dan begitulah kehidupan ini. Hingga aku melangkah berjarak dua meja, sudah terdengar lirih namaku disebut sebut. Mungkin akulah tema selanjutnya bagi pembicaraan mereka. Kali ini aku tidak ikut berkomentar.

 

 

11 September 2020

Jawa Tengah



Rabu, 09 September 2020

Rabbit Radio “Suara Malam”

 

“96 poin 9 Rabbit Radio, special for you..kembali bersama Riris yang akan menemani malam kalian selama 3jam kedepan dengan lagu-lagu kenangan pop rock pop melayu yang dapat pendengar request via sms di nomor 08967365733.. jangan lupa cantumkan nama, alamat, silahkan kirim-kirim salam untuk orang terkasih dan lagu keinginan pendengar, yuk sembari menunggu sms dari pendengar, Riris akan kasih sebuah lagu untuk membangkitkan semangat kita di malam ini, Poppy Mercury ft. Abiem Ngesti - Kugenggam Dunia,, special for you !!”

Waktu menunjukkan pukul 22.45, aku bergegas mengenakan jaket dan meraih tas jinjingku. Beberapa lampu sudah padam, ruangan terkesan remang-remang dengan kesunyian melengkapi malam ini. Tinggal empat orang di kantor, aku berpamitan dan melangkah keluar kantor. Sayup-sayup terdengar suara entah darimana terdengar seperti meneriakan nama ku.

“Riris..!! Riris,,,!! Sebelah sini..!!”

Aku menoleh kanan kiri mencari sumber suara. Tidak ada siapa pun, hanya sudut sudut gelap dan angin malam yang berhembus. Aku berjalan menuju parkiran motor, enggan memikirkan hal lain, aku fokus mencari letak motorku. Menyalakan mesin dan tancap gas, keluar gerbang seperti biasa disapa pak satpam dengan ucapan selamat malam. Ku balas dengan senyum dan anggukan kepala. Jalan sudah sepi, tentu ini bukan kali pertama, sudah hampir satu tahun bekerja disini, dua kali dalam seminggu dapat jadwal malam.

“Riris..!!”

Aku kaget dan menoleh ke belakang, aku sendirian di jalan ini, apakah halusinasi saja, aku bergumam dalam hati. Suaranya kali ini terdengar jelas dan keras, mungkin pikiranku sedang terganggu. Motorku tetap melaju, sesekali kembali kudengar suara-suara seolah memanggil namaku, suara riuh ramai seperti tengah ada perkumpulan didekatku. Mataku mulai sayu, pandanganku sedikit kabur. Ngantuk sekali rasanya, perjalanan masih sekitar 15 menit lagi.

“Riris...!!! Riris..!! ayo Ris..!!”

Apakah seseorang tengah menangis? Suaranya sesenggukan memanggil namaku, haruskah aku menghentikan laju motorku dan menenangkan diri. Aku tak kuat mataku ingin terpejam, ia hampir tertutup.

“Riris..!!!!!!!”

Mataku terbelalak, ku lihat beberapa orang disampingku, beberapa tidak ku kenal, dua lainnya ku kenal mereka adalah teman kerjaku, tubuhku terguncang beberapa orang fokus kedepan mereka tengah mendorong ku, aku tengah berbaring entah dimana, lampu-lampu lorong itu menyilaukan mataku, aku tak kuat mataku terus mengantuk. Mereka berteriak, satu orang melompat keatasku, ia menekan dadaku. Seseorang berteriak aku kehilangan banyak darah. Temanku berbicara via telepon menjelaskan kronologi kecelakaan yang mengerikan. Kali ini aku benar-benar tidak kuat lagi melihat dan mendengar. Semuanya semakin gelap dan sunyi. Aku tak lagi merasakan tubuhku, semuanya hilang dan tak dapat ku rasakan lagi.

 

#cerpen #fiksi #radio #suara #malam #jalan #rabbitradio

Selasa 8 September 2020

Jawa Tengah