Tampilkan postingan dengan label #Fiksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Fiksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2021

Diary "Suasana Hatimu"

Hari ini berjalan lancar dan membahagiakan meski selalu ada hal-hal yang menengangkan. Sepertinya kamu sedang ada masalah ya mas, sejak beberapa hari lalu, kamu dan atasan lainnya selalu rapat. Sekilas aku mendengar bahwa kamu harus bertanggungjawab atas sesuatu, mungkin itu kesalahan kerja. Tadi aku melihatmu mengendarai mobil dengan laju yang emosi. Mungkin suasana hatimu sedang tidak baik. Kamu yang ada dalam mobil tapi hatiku yang khawatir, jangan mengendarai mobil seperti itu mas, berhati-hatilah karena lajunya seperti ugal-ugalan.

Sore harinya kamu kembali, seseorang menghampirimu, tapi kamu sibuk jadi menyuruhnya untuk menemuiku saja. Ketika itu ada yang salah mas, kamu kemudian lari mengejar orang itu. Aku sudah cemas apakah akan menimbulkan masalah besar lagi. Kamu berjalan kearahku dengan wajah muram. Sangat berbeda dibanding dengan saat pertama kamu menjelaskan pekerjaan padaku, kali ini kamu menjelaskan dengan emosi.

Menegurku jangan sampai salah lagi, bahkan menaruh barang saja sampai kamu banting. Begitu buruk ya suasana hatimu saat itu? Maafkan aku yang belum memahami segala yang ada, aku akan melakukan semuanya dengan lebih baik lagi mas, semoga suasana hatimu lekas membaik ya. 



#imajinasi

Senin, 29 Maret 2021

Diary "Hari Pertamaku"

 Mas, hari ini aku berangkat untuk bekerja, namun aku berangkat ke tempat lain, tempat dimana aku tak lagi bisa melihatmu. Mas, kamu tahu? Hari pertama ini terasa sepi dan aku masih menimbang antara tempatmu dan tempatku saat ini. Jujur aku tak begitu semangat, tapi ini baru pertama, aku yakin kedepannya akan lebih baik. Sebenarnya aku takut, karena terbesit pertanyaan dalam hatiku, tapi aku takut, bahkan untuk mengatakannya dalam hati.

Pastinya kamu tidak akan merasa kehilangan, mungkin sedetik saja kamu menyadari tiadanya keberadaanku. Tapi itu bukan masalah bagimu. Berbeda dengan perasaanku, apakah semua akan baik-baik saja atau harus ada perubahan lagi. Disini tentunya lebih baik mas, aku tak begitu berkeringat, karena masih belajar dengan pekerjaan baru. Tapi aku tidak tertarik membahasnya. Pikiranku pergi ke tempatmu mas, apakah disana baik-baik saja. Apakah banyak canda tawa serta ketegangan seperti biasanya?

Disini aku belum mengenal siapapun, bahkan aku mendapat jadwal baru dalam jam kerja, pergi terang pulang gelap, begitu mas. Bagaimana teman-teman disana? Semoga semua baik-baik saja ya, dan semoga kamu menyadari ketiadaanku. 



#jogja #batang

Selasa, 26 Januari 2021

Diary "Hari Berganti"

 

Dok. Pri

Langit nampak mendung sejak subuh, rintik gerimis membasah bumi mengiringi basah pipi dan hati ini. Sudah sejak malam aku memikirkannya, apakah harus ini yang terjadi? Namun dalam hatiku bertekad apapun itu akan aku jalani. Kamu mungkin tidak tahu mas, sebenarnya berat jika harus pergi begitu saja.

Aku bahkan tidak tahu kalau kemarin adalah hari terakhir kita berinteraksi, andai kutahu pasti aku akan meminta waktu berhenti sejenak, meski tak mungkin tapi aku ingin berusaha menatapmu lebih lama. Mas, kakiku tetap melangkah, hatiku berat tapi tubuhku telah benar-benar pergi dari tempat dimana kita bisa berinteraksi.

Semoga semua baik-baik saja ya mas, jangan lagi terburu-buru sehingga kamu menjatuhkan CPU. Semoga tak ada masalah lagi dengan pekerjaanmu. Rasanya aku menjadi orang yang tidak beretika, pergi begitu saja tanpa ada kata maaf dan terimakasih. Tapi mas, aku yakin masih ada waktu meski terlambat, masih ada ikatan antara aku dan tempat itu. Semoga Tuhan memberi waktu yang tepat.




____

Pekalongan 19/01/21


Sabtu, 19 Desember 2020

Cerpen "Rintik Imajinasi"

 

Pinterest 

Siang itu hujan rintik-rintik, Syta menoleh ke arah sebrang jalan, pandangannya tertuju pada tempat ngopi yang tak terlalu ramai. Tempatnya tidak terlalu kecil, tidak juga terlalu besar, hampir seluruh pintu dan dindingnya dari kaca, sehingga terlihat jelas suasana di dalam kedai. Syta memutuskan untuk mampir, meski ia tak hobi minum kopi, ia sudah membayangkan menu lain untuk dinikmati bersama rintik hujan.

Syta tak ingin langsung kembali ke kosnya setelah pergi belanja beberapa kebutuhannya. Memang ia berencana jalan-jalan, namun cuaca tidak mendukungnya untuk berada di luar ruangan. Alih-alih memesan kopi, Syta memilih untuk memesan es susu coklat berteman roti bakar rasa coklat pula. Syta menyalakan ponselnya, tak ada satu notifpun yang masuk. Ia menarik bibirnya melengkungkan senyuman singkat, Syta suka duduk di kursi dekat dinding kaca itu, dengan meja bundar yang tak terlalu lebar, dan hanya tersisa satu kursi kosong didepannya.

Menu pesanannya datang, pas sekali Syta belum mengisi perutnya sedari pagi. Sepiring kecil roti bakar rasa coklat mulai menjelajah lidah, perut yang keroncongan sudah mulai tenang. Nampaknya ia sengaja meminum es susu coklat dengan sruputan penuh gairah. Pikirnya minuman dingin nan manis itu mampu memperbaiki suasana hatinya yang tengah kacau. Lamunannya terhenti, seseorang menghampiri mejanya, laki-laki tinggi, berambut gondrong, namun penampilannya rapi, rambutnya diikat ke belakang, bahunya kekar dan tegap. Ditangannya ia membawa mangkuk berisi bubur yang masih panas, nampak dari asapnya yang mengepul.

Syta beradu pandang dengannya, tak tahan ia mengerutkan dahinya, penasaran apa maksud si lelaki itu. "mbak datang sendiri?" tanya lelaki itu dengan suara tebal. Syta mengangguk perlahan. Si lelaki menyodorkan mangkuk ditangannya ke arah Syta dan duduk didepannya. "Ini menu spesial hari ini, karena cuaca dingin dan hujan, kami menyediakan menu bubur panas yang semoga cocok dinikmati saat cuaca begini. Ini untuk mbaknya, kami beri gratis. Semoga mbaknya suka". Lelaki itu tersenyum menatap Syta. Ia tidak beranjak pergi setelah memberikan bubur dan menjelaskan alasan datangnya menu bubur itu.

Syta menggeser mangkuk bubur agar lebih dekat lagi dengannya. Syta tersenyum dan mengucapkan terimakasih. Meski Syta ragu, ia mulai menyendok bubur yang asapnya masih mengepul dan mencicipinya. "Hmm.. Enak, apakah ada kerupuk?" syta bertanya dengan tatapan serius. Lelaki itu kikuk hingga mengalihkan pandangannya kearah mangkuk bubur. "Eehh... Cuma bercanda kok, hehe". Syta mencoba mencairkan suasana dan keduanya tertawa lirih.

Si lelaki memperkenalkan dirinya, ia merupakan pemilik kedai, kedai yang sudah dirintisnya sejak setahun lalu, saat usianya masih 25 tahun. Syta kagum dan dengan seksama mendengarkan cerita si pemilik kedai. "Maaf sebelumnya, apakah aku mengganggu? Tadi kulihat kamu masuk sendiri, duduk disini, kukira sedang menunggu seseorang". Ucap si lelaki dengan santai. Syta tersenyum dan hanya menggeleng kepala. Suara riuh terdengar dari meja belakang, penasaran apa yang terjadi, Syta menoleh, na'as seorang pelayan tersandung bersamaan dengan kaki Syta yang bergeser keluar meja.

"Pyurrrr.... Aahhh maaf, mbak maaf". Pelayan panik seraya membersihkan kaki Syta yang terkena tumpahan kopi panas. Syta kaget, dan sontak berdiri, ia menarik roknya yang basah dan terasa panas di kakinya. Raut wajahnya kesal atas kejadian itu, meski pelayan berulangkali meminta maaf, Syta belum menggubrisnya. Ia malah terdiam menatap ke arah mejanya.

Segelas es susu coklat bersanding dengan sepiring kecil roti bakar sudah habis. Disebelah piring kecil, Syta menatap buku novel yang terbuka tepat di halaman 279 bab limabelas, tak lama lagi bacaannya selesai. Sekilas ia membaca paragraf terakhir, baris akhir "Apakah aku mengganggumu? Tadi kulihat kau masuk dan duduk sendiri. Kukira sedang menunggu seseorang". Ia hanya tersenyum dan menggelengkan kepala.




____

Batang, 19 Desember 2020

Syta dwy riskhi


Jumat, 18 Desember 2020

"Surat Darimu"


Kegembiraan Hatiku ini hampir tak dapat ku ungkapkan,

Kau tahu kenapa?

Sudah lama engkau tiada mengirim surat

Kini hatiku tengah berbahagia, kau tahu?

Rasanya aku tak bosan-bosannya membaca suratmu

Meski hanya melalui kata-kata yang kau tulis

Aku merasa berhadapan langsung denganmu


Makin hari rindu itu semakin menggebu gebu

Ingin rasanya untuk bisa selalu dekat denganmu, kau tahu?

Setiap kata yang kau tuliskan dalam suratmu

Seolah olah telah melekat di hatiku

Tak ada lagi harapanku padamu

Selain harapan hari dimana engkau kembali

Untuk kita bersanding di singgasana cinta



_____

Batang, Desember 2020

#dwy_rr

Sajak Untuk Kawan



Rintik gerimis turun di siang hari.

Jauh dari langit sana terdengar gemuruh guntur bergetar teratur.

Tidak menakutkan tidak pula mengagetkan. Senada seirama dengan turunnya titik air itu.

Guntur bersuara, ku teringat dia, seseorang yang banyak membantuku di Jogja. Belum sempat balas budi, kusudah pergi.

Kini setahun sudah tak bersua, ku doakan agar dia selalu bahagia 





_____

Jateng 18 Desember 2020

 

Kamis, 17 Desember 2020

Air Luka

Bergetar kilat di angkasa, deras hujan mengguyur bumi dia masih terpaku dalam sunyi..

Hujan semakin deras, titik-titik air itu jatuh menggebu gebu, seakan inilah puncak penyimpanan hati..

Dia tak mampu mendongak dan membuka mata, butiran air yang lembek itu rupanya bisa menyakiti..

Serupa rasa yang pernah terukir dalam relung hati, ia begitu indah dan penuh harap pasti..

Hingga ukiran itu, semakin menyayat, menggores luka menciptakan tetesan darah tiada henti.. 




_____

Batang, Desember 2020


Sebuah Rasa

 Lihat, cahaya matahari bersinar terang hari ini..

Kemarin kau begitu menyukai gelap..

Dengar burung berkicau riang kesana kemari..

Bagaimana kau bisa mendapatkan sayap..

Dia tersenyum, lengkungannya bagai pelangi..

Ocehannya membuat dia ingin mendekap..

Lihat, cahaya matahari bersinar hari ini,

Akankah Perasaan bahagia itu akan dia ungkap..??




_____

Yogyakarta 17 Desember 2020





Minggu, 27 September 2020

Mimpi Santa I

Asmara kemana lagi akan ku cari siapa yang kan mengusir sepi disaat ku sendiri asmara mungkinkah kau sampaikan padanya walau hatiku penuh derita aku masih selalu cinta..... (Asmara-Novia Kolopaking)

Santa menutup wajahnya menggunakan selimut menyembunyikan matanya yang sembab dan hidung yang memerah. Rian pulang lebih awal malam ini, pekerjaan hari ini tak sepadat biasanya. Gemericik air terdengar samar, Santa melepas headset yang terpasang di telinga, mematikan lagu yang tengah ia dengarkan dan kembali menutup dirinya dengan selimut. Santa tak berniat menyapa Rian dengan mata sembabnya., mungkin besok pagi saja.

Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, Santa terbangun dari tidurnya, membalikkan tubuh dan menatap Rian, semua masih sama, seperti malam malam biasanya.. Menu sarapan sudah siap di meja makan, Rian bersiap menyantap hidangan untuk kemudian bergegas ke kantor. Santa menatap Rian hendak menanyakan sesuatu, namun dia ragu. Sebaiknya bertanya atau tidak kalau dia pulang lebih awal semalam, namun Santa bingung karena dia pura-pura sudah tidur. Tinggal suapan terakhir seperti biasa Rian memuji masakan Santa, nasi gorengnya enak, ditambah telor ceplok setengah matang, menu andalan Santa yang merupakan makanan favorit Rian.

Santa tersenyum, dia menawarkan lagi nasi goreng buatannya. Rian menolak karena harus segera berangkat. Santa membawakan tas Rian seraya mengantarnya sampai pintu. Tidak ada rencana apapun hari ini, seperti biasa, Santa menatap layar HP melihat lihat kegiatan teman-temannya yang dibagikan melalui sosial media. Oh iya ini hari Sabtu, beberapa orang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan, berkumpul dengan keluarga, atau membelanjakan sesuatu. Santa tersenyum getir, matanya mulai berkaca, Rian harus bekerja dia jarang libur bahkan hari Minggu sekalipun. Bagi Rian pekerjaannya harus diutamakan, banyak lemburan yang dia ambil untuk tambah-tambah tabungan. Santa harus mengerti, Santa tidak lagi bekerja semenjak pindah rumah mengikuti Rian.

Tidak hanya pekerjaan, teman-teman dan keluargapun ia tinggalkan semua berada di Jogja, sedangkan kini ia harus tinggal di Malang mengikuti Rian. Sebenarnya Santa ingin kembali bekerja, namun beberapa lamarannya belum ada panggilan hingga akhirnya Rian menyuruh Santa untuk di rumah saja. Sudah hampir empat tahun pernikahannya dengan Rian, keduanya belum diberi momongan. Hal itu membuat Santa merasa canggung pada keluarga Rian, merasa tak sempurna dihadapan Rian, dan berusaha menahan kesedihan dari kedua orangtuanya.

Tiga tahun hari-harinya dilalui dengan duduk di sofa ruang tamu, menggeser geser menu HP, membaca, postingan sosial media, atau sesekali menonton film. Santa jarang keluar rumah, ia belum hafal betul jalan kota atau tempat wisata, mau pergi pun tak tahu harus dengan siapa, sesekali mengajak kawan lama namun nampaknya kesibukan jadi alasan. Masih membayangkan mimpi apa saja yang belum terwujud Santa meneteskan air mata. Entah harus mulai darimana lagi ia menata hidupnya agar nampak baik-baik saja. Ada badai berkecamuk dalam dadanya, terasa menusuk nusuk kepalanya, matanya kabur, dunia bak berputar lebih cepat. Santa menyenderkan tubuhnya mencoba menenangkan diri dan memejamkan mata.

Kepalanya masih pusing ketika Santa membuka mata, waktu menunjukkan pukul satu siang, Santa pergi ke warung membeli makanan dan obat sakit kepala. Rian pulang lebih awal lagi. Santa bangkit dari temoat tidur sembari memegangi kepalanya. Menyiapkan makan malam dan meminta Rian untuk libur esok hari. Rian bersikukuh tetap bekerja, ada hal yang harus dia capai. Santa mencoba membuka percakapan lebih dalam ia hendak membahas perihal anak dan sakit kepalanya yang akhir-akhir ini terus kambuh. Rian menyela ucapan Santa, dia tak ingin mengobrol panjang lebar malam ini. Besok harus kembali bekerja. Rian menyuruh Santa untuk santai saja di rumah, jika sudah waktunya Rian akan mulai memikirkan perihal anak., atau hal lain yang menjadi impian Santa.

Santa mengangguk, dan membereskan sisa makan malam. Kepalanya masih terasa berputar, Santa membaringkan tubuhnya. Pagi itu ibunya menelepon, Santa memegang kepalanya, ia enggan menjawab pertanyaan ibu. Sudah tidak bekerja apalagi yang dikerjakan kalau tidak mengurus anak. Harus ada usaha dan disegerakan, agar punya kesibukan dan tidak terlalu lambat untuk melahirkan. Santa tak tahu harus menjelaskan apa. Memang belum dikasih mau bagaimana lagi, kerjaan juga sudah diusahakan memang belum ada kesempatan lagi, Santa menjawab dengan suara bergetar.

Mencoba mencari kegiatan yang lebih produktif untuk mengalihkan pikiran negatif, Santa pergi ke taman kota. Sekeliling nampak lalu lalang kendaraan, setiap orang sibuk dengan segala aktivitasnya. Santa kembali menatap layar HP semua nampak baik-baik saja, keluarga, teman, tetangga, dan Rian. Kepalanya kembali terasa berputar, Santa memegangi kepalanya yang serasa ingin ia benturkan ke tembok. Santa menghubungi Rian. Lima kali panggilannya tak diangkat oleh Rian.

___
Santa terbaring dengan jarum infus menancap ditangannya. Matanya terpejam dengan wajah pucat, tidak ada gerakan sedikitpun. Rian menatapnya diam, tatapannya kosong, ia enggan mengalihkan pandangannya. Wanita paruh baya mendekat dan menarik tubuh lemas Rian, langkahnya terseret seret nampak tak ada tenaga sedikitpun untuk menegakkan kepalanya. Dia sakit, mungkin lebih dari itu tak hanya kepalanya yang sakit, perasaannya juga sakit, pikiran dan pribadinya sudah sakit. Orang perlu bicara, berbagai kisah dan saling menyemangati, Santa tidak punya teman bicara, dia kesepian, banyak hal tertahan di ujung kerongkongannya, beban dia tak nampak namun dia tumpuk dikepala dan dadanya. Kamu tahu? Orang yang kesepian, dia akan menjadi tua sendirian, sering menangis, tak bercahaya, banyak diam, dan akhirnya dia menemui sakit yang tak tertahankan.

Ibu Santa tak kuasa menahan tangis ia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Ia menjauh dari Rian, beranjak pergi meninggalkan Rian yang terdiam.

Dokter menerangkan kalau Santa menderita aneurisma. Makin besar ia, makin mudah pecah karena makin tipis. Hanya menunggu waktu semoga ada keajaiban bagi Santa.

Senja itu bergemuruh, langit diangkasa seakan bergetar, dada Rian bagai tersambar kilat. Hujan mengguyur perasaan Rian, nafasnya tersengal, menurunkan tubuh Santa ke tempat peristirahatan terakhir. Isakan tangis mengiringi kepergian Santa. Kini ia tak lagi menangis sendiri. Namun ia tetap diam sampai akhir hidupnya.



Bumi 27 September 2020
@dwy_rr

Jumat, 11 September 2020

Komentar Dalam Hati

 

pinterest

Warna merah atau abu-abu ya, aku bergumam dalam hati menentukan warna baju yang akan ku kenakan ke pesta pernikahan teman. “10 menit lagi kita sampai dilokasi” ku baca pesan dari teman yang janjian datang bareng. “yuk jalan, siapa yang tahu jalan sini”. Aku mengegas pelan motorku memberi aba-aba disetiap belokan dan memperhatikan teman-teman yang melaju di belakangku. Kenapa acaranya sepi sekali, kenapa juga diadakan di rumah, oh ya kamu dapat undangannya? Aku cuma dikirimi pesan singkat. Aku ngga dapet undangan cetaknya tapi dapat undangan digitalnya. Eh aku malah dikasih tau Ica, katanya disuruh dia.

Begitu seterusnya teman-teman memperbincangkan sang pengantin wanita. Sesekali aku mendengarkan tapi tak menjawab apapun. Pandanganku mengawasi tiap meja, mencari seseorang yang mungkin aku cari. “Ris..!!!” aku menoleh mencari sumber suara. Afi teman Sekolah Dasar dulu, beberapa bulan lalu dia mampir ke rumahku bersama pacarnya.

“kamu udah lama disini?” tanyaku. “iya dari sore, aku nemenin Wulan. Aku ngirim pesan ke kamu Ris, biar kita sama-sama disini, Wulan ngga ada temennya”. Aku mengecek ponselku. “kamu sendiri” tanyaku melihat sekitar. “iya aku sendiri, makanya aku kirim pesan ke kamu”. Masih basa basi, aku bertanya “ngga sama pacar?”. “aku udah putus, udah lama malah”. Kaget, padahal hubungannya terlihat indah, dan sudah amat dekat. “sedih banget sumpah, tapi ya gimana lagi, dia udah sama yang lain”.

Aku berkomentar dalam hati, Wulan juga sempat putus, bahkan katanya musuhan, tapi tiba-tiba balikan sekalian nikah. Afi yang tanpa masalah dan keduanya bak tidak ada kekurangan satu sama lain, tiba-tiba putus. Komentarku terhenti, “Ris..!!! kamu kapan nyusul? Dari jaman sekolah katanya mau nikah paling dulu?”. Sentil kawan-kawan, aku hanya tersenyum namun lengkungannya kebawah. “ih capek banget ya, kerja di lapangan tiap hari kesana kemari ngejar target,” tapi kan gajinya lumayan, gumamku dalam hati. “loh lihat tuh Nia sampai sekarang belum ada panggilan, batuin gih biar cepet dapet kerja” “iya nih udah lama nganggur, kayaknya mamah udah mulai bosen lihat aku makan tidur, makan tidur doang”.

Tapi ... fotonya jalan-jalan terus, enak juga makan tidur, makan tidur, tapi duit buat jalan lancar terus, sinisku dalam hati. “kemarin aku dapat kabar dari Lila yang merantau, katanya sampai sekarang juga belum dapet kerja”. “loh terus biaya hidup dia selama disana, gimana”. Kan dia ada pacar disana, mungkin ikut pacarnya, aku menjawab dalam hati. “pengen keluar cari kerjaan yang nyaman, demi apa, atasanku sukanya marah-marah, enak banget cuma nyuruh-nyuruh, kalau ada kesalahan tinggal nglimpahin ke bawahan”. Ucapannya tegas menggambarkan kekecewaannya. “si Tata loh dia kan udah naik jabatan tuh, ya ampun sombongya ngga ketulungan,kemarin aku ketemu di depan cafe”. Sejak lahir juga dia udah sombong, aku terkekeh dalam hati. “mungkin ada transferan khusus” hahahahahah hahahah ahahaha...... tawa riuh ramai memecah suasana sepi disini. “kalian udah jenguk Vian, udah lahir tuh anaknya, tapi katanya pisah, trus anaknya dirawat kakek neneknya” hemmm itu kan kecelakaan, resiko nikah mudah juga begitu, ucapku dalam hati sambil manyun.

Wah wah semakin banyak saja perbincangan teman-temanku ini, aku hanya diam namun berdebat dalam hati. Aku menemui Wulan, basa basi biasa dan berpamitan. Teman-teman protes kenapa aku pergi duluan, aku berdalih ada janji dengan seseorang, hanya alasan supaya aku tidak terus berkomentar karena obrolan-obrolan mereka, bagaimanapun komentarku juga pedas dan begitulah kehidupan ini. Hingga aku melangkah berjarak dua meja, sudah terdengar lirih namaku disebut sebut. Mungkin akulah tema selanjutnya bagi pembicaraan mereka. Kali ini aku tidak ikut berkomentar.

 

 

11 September 2020

Jawa Tengah



Jumat, 01 Desember 2017

(cerpen) Kesetiaan di Atas Segalanya



Kesetiaan di Atas Segalanya


Hari ini dia tidak datang, sudah janjian jam delapan, sekarang sudah jam sepuluh pasti dia tidak datang, Rara mengomel dalam hati, sudah maklum kalau dia telat, tapi sampai tidak datang, Rara jengkel.

Setengah jam lagi, mungkin memang terlambat yang begitu amat terlambat, yaahh.. menit-menit sudah berlalu, Rara tak tahan lagi, kakinya sudah berasa merakar ke dalam tanah karena lama menunggu.

Namanya juga menunggu pasti lama, tapi menunggu yang tidak pasti datang begini sangat menjengkelkan. Rara mengemasi barangnya dan beranjak pergi. Sengaja dia tidak membuka hp atau menghubunginya sekedar memastikan janji harus di tepati tak perlu tagih-menagih.

Sampai di kantor, Rara ngambek sapaan teman sejawatnya tak ia gubris, bahkan panggilan dari atasannya. Ah,,, yang lain sudah maklum dengan sikap dingin Rara sewaktu-waktu.



“dia ingkar janji lagi .. ? dia tidak datang .. ?”
“yaa.. mungkin dia sibuk atau benar-benar tidak bisa datang”
“sudah berapa kali ..? dan sudah berapa lama ..? ada yang tidak beres, meski dia sudah kembali, sepertinya hanya jasadnya saja, jiwanya entah kemana..”

Rara tak lagi menanggapi kata-kata Bayu, baginya tak ada yang aneh dengan Riko, mungkin dia memang sedang sibuk. Terakhir komunikasi pun sehari yang lalu saat membuat janji ketemuan.

Sudah beberapa hari semenjak kepulangan Riko dari Jepang, mereka belum bertemu, hanya sesekali berkomunikasi via telepon. Keduanya sudah pacaran sejak lima tahun lalu, dan tak ada masalah apapun meski berhubungan jarak jauh. Jarang bertemu dan jarang bertukar kabar. Hanya kepastian kesetiaan yang Rara pegang, tak perlu sampai harus telepon berjam jam atau memaksa meluangkan waktu bertemu. 

Kali ini entah angin apa yang membuat Rara ragu, meski berusaha keras tak memikirkan hal negatif, tapi angin keraguan itu terus berhembus, dia pergi menemui Riko memastikan tak terjadi sesuatu.

Sampai ujung gang tepat depan rumahnya, mobil Riko melaju pesat meninggalkan rumah, Rara berlari membenarkan itu mobil Riko atau bukan, tapi memang betul itu mobilnya.

Rara menyetop taksi dan mengikuti mobil itu. Rupanya mobil berhenti di restoran tidak terlalu jauh, ohh... dia menemui seorang wanita, Rara panas dingin, pikirannya campur aduk haruskah ia melabrak atau bertanya baik-baik atau pergi saja dari kenyataan itu.

Rara mengirim pesan pada Riko menanyakan keberadaan dan sedang apa dia, sontak Rara kaget membaca balasan Riko, kebohongan yang menjijikan, Rara memutuskan untuk pergi saja.

Rara belum tahu pasti bagaimana harus menyikapi kejadian hari ini. Ia tahu meski hubungan mereka sudah lima tahun berjalan, ternyata lamanya waktu malah memberi dampak buruk bagi keduanya, kesetiaan di atas segalanya, Rara hampir tak mau bertemu lagi dengan Riko. Seketika ia sadar, langkanya komunikasi keduanya membuat jarak menjadi lebih jauh. Bukan tidak mungkin wanita tadi hanya sekedar teman. Setia harus setia baginya tak ada teman yang jadi prioritas hingga Riko tak menepati janji temu dengan Rara.

Pisah dengan baik-baik saja pikir Rara, dia tak mau ribut-ribut soal hubungannya. Lima tahun memang lama, tapi tak memberikan kesan memupuk cinta lebih dalam malah menggerogoti cintanya sampai tak lagi mengenali, apakah perasaannya masih sama seperti dulu. Biar sakit asal tidak menjatuhkan diri, yang baik akan bertemu yang baik, yang buruk tidak akan mendapat yang baik. Pikirannya campur aduk, ingin menyalahkan Riko, tapi ia belum tahu kebenarannya. Tidak, tak perlu dipikirkan lagi, ingkar janji, tidak menemuinya, dan malah bertemu dengan wanita lain, baginya sudah jadi masalah besar. Benar lima tahun berlalu, bukan memberi waktu untuk saling menerima dan mendalami cinta, ia hanya memberi waktu untuk untuk saling melupakan.
Rara masih bergumam dengan dirinya, baiklah ia akan diam, terserah apapun yang dijelaskan Riko, setia harus setia. Tepat janji juga adalah setia. Rara menatap dirinya di kaca, matanya tidak membendung airmata, hanya amarah yang memenuhi dada. Rasa itu sudah tak lagi sama. 




#Yogyakarta01/12/2017