Tampilkan postingan dengan label #Fiksi.. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Fiksi.. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2021

Diary "Suasana Hatimu"

Hari ini berjalan lancar dan membahagiakan meski selalu ada hal-hal yang menengangkan. Sepertinya kamu sedang ada masalah ya mas, sejak beberapa hari lalu, kamu dan atasan lainnya selalu rapat. Sekilas aku mendengar bahwa kamu harus bertanggungjawab atas sesuatu, mungkin itu kesalahan kerja. Tadi aku melihatmu mengendarai mobil dengan laju yang emosi. Mungkin suasana hatimu sedang tidak baik. Kamu yang ada dalam mobil tapi hatiku yang khawatir, jangan mengendarai mobil seperti itu mas, berhati-hatilah karena lajunya seperti ugal-ugalan.

Sore harinya kamu kembali, seseorang menghampirimu, tapi kamu sibuk jadi menyuruhnya untuk menemuiku saja. Ketika itu ada yang salah mas, kamu kemudian lari mengejar orang itu. Aku sudah cemas apakah akan menimbulkan masalah besar lagi. Kamu berjalan kearahku dengan wajah muram. Sangat berbeda dibanding dengan saat pertama kamu menjelaskan pekerjaan padaku, kali ini kamu menjelaskan dengan emosi.

Menegurku jangan sampai salah lagi, bahkan menaruh barang saja sampai kamu banting. Begitu buruk ya suasana hatimu saat itu? Maafkan aku yang belum memahami segala yang ada, aku akan melakukan semuanya dengan lebih baik lagi mas, semoga suasana hatimu lekas membaik ya. 



#imajinasi

Jumat, 18 Desember 2020

Sajak Untuk Kawan



Rintik gerimis turun di siang hari.

Jauh dari langit sana terdengar gemuruh guntur bergetar teratur.

Tidak menakutkan tidak pula mengagetkan. Senada seirama dengan turunnya titik air itu.

Guntur bersuara, ku teringat dia, seseorang yang banyak membantuku di Jogja. Belum sempat balas budi, kusudah pergi.

Kini setahun sudah tak bersua, ku doakan agar dia selalu bahagia 





_____

Jateng 18 Desember 2020

 

Sabtu, 28 Oktober 2017

CERPEN "Lelucon di Museum"



Lelucon di Museum

Tugas, oh tugas, mahasiswa semester empat memang sedang di sibukkan dengan tugas yang bertumpuk, tapi kali ini tugas nasionalis, memberi kesempatan mahasiswanya jalan-jalan ke museum. Hari ini panas, di tambah keadaan museum yang seang ramai pengunjung dari berbagai sekolah. Aku pergi keluar membeli minuman untuk menyiram tengggorkan yang sudah kering, beberapa temanku masih konsentrasi membaca sejarah, oh .. yang benar saja, hanya aku yang tak tertarik mendalaminya.

Braakkk........!!!!!! Haishh..anak-anak ini, di pikir ini taman bermain, bercanda sambil lari-lari ?! gelas minumanku tumpah, ditambah minuman itu menumpahi ku dan bajuku jadi basah gara-gara di tabrak anak sekolah yang iseng. “Sorry.. gak sengaja,!?” permintaan maaf yang mesti ku terima, aku harus apa selain bilang gak papa. “Maaf ya.. minumanmu tumpah, ayo aku belikan lagi?”  dia menawariku, anak SMA yang mungkin masih kelas dua, biasanya sekolah mengadakan tour di kelas dua. “Udah gak papa kok” aku menolak dengan ramah, dia menarik tanganku dan membawaku ke kedai minuman, memintaku memilih minuman yang sama dengan yang tumpah tadi.

Karena aku gak mau ini jadi berkepanjangan, aku turuti saja dia, memilih minuman yang sama, dan pamit pergi. “Tunggu..! bajumu basah” dia menahanku, “dasar ini cowok ingusan, berlebihan banget” aku menggerutu dalam hati, aku menjawab aku tidak papa dan nanti bajuku bisa kering. Dia menyodorkan tisu, menyuruhku mengelap bajuku, aku lakukan dengan sabar, setelah selesai aku pergi. Kak..!! aku menghela nafas dan berbalik, apa lagi ? tanyaku, dia mendekat dan menutup dadaku dengan jaketnya. Whoaa.. kelakuan macam apa ini?!.

Aku melepas jaketnya dan menegaskan, “jangan berlebihan, aku gak papa dan aku harus pergi sekarang ! okey ?” dia tidak meraih jaketnya malah memakaikannya kembali, “tapi akan jauh lebih baik begini, percaya padaku deh” si cowok berkata sambil tersenyum. Aku harus berdebat hal spele begini sangat membuatku kesal. Aku bersikeras tidak mau memakai jaketnya, tapi dia juga memaksaku memakainya, “kakak bawa jaket atau baju lain ? kalau enggak, pakai jaketku aja, karena itu jadi terlihat jelas, lebih baik kaka menutupinya” mendengar kata-katanya, aku jadi berfikir ke arah lain. Aaahh... jadi maksudnya, aahh..!!! kenapa hari ini aku pakai baju tipis, duh.. suasana yang memalukan dan menyebalkan, aku terdiam beberapa detik, memejamkan mata dan berbalik pergi dengan jaket yang menutup dadaku.

Aku menuyusul teman-teman, yang sedari tadi mengamati setiap perabot yang ada, “Syerli !!, kamu abis malak anak sekolah ?!!” tanya Fina padaku, “malak apaan ? tanyaku balik. “laah itu ngapain pake jaket anak SMA, yang lagi tour?!” Fina menjelaskan. Oh.... jaket ? aku melihat jaket yang ku pakai, ahh ternyata ini jaket angkatan, pantas saja anak sekolah itu pada ngeliatin aku. Haaah,...!! kenapa dia ngasih jaket angkatan sih. Aku berbohong pada Fina, aku menemukan jaket ini di toilet dan hendak mengembalikannya.

Aku duduk lemas memikirkan kejadian hari ini, aku melihat jaket itu terdapat tulisan nama Indra, oh.. jadi namanya Indra. Bagaimana nih, harus aku balikin apa gak usah ini jaket, aku melihat beberapa anak memakai jaket yang sama, mungkin aku bisa menitipkannya. Hendak berdiri dari posisi duduk ku, aku di kejutkan dengan orang yang tiba-tiba muncul entah darimana. “Bajunya udah kering ?” ahh si anak ini.

“Nih.. aku balikin jaketnya, makasih ya” aku menyodorkan jaket itu. “Oke, aku juga minta maaf, harusnya aku hati-hati biar gak nabrak kakak” si cowo mulai mendrama. Aku meringis dan mengangguk, “kaka ada masalah ? dari tadi cuma duduk, dan melamun, gak kaya temennya yang lain?”  hmm pertanyaan macam apa ini yang keluar dari anak kelas dua SMA, “apa gara-gara kejadian tadi ?, aku kan udah minta maaf, emm atau mau aku ngapain buat nebus kesalahanku ?” gila.. gila.. gilaaa ..!!!!! aku ada di situasi apaan nih ?!!.

Aku menegakkan kepala, berkata aku baik-baik saja dan udah lupa kejadian tadi. Si cowok malah memandangku tanpa bergeming, “Ini kali pertamanya aku betah dan ingin tinggal lebih lama di museum,Kakak wanita yang cantik, !!” aku terbatuk-batuk mendengar kata-katanya, modus sialan !! “kaka mungkin gak percaya, tapi pertama kali liat wajah kakak, aku merasa ada yang lain disini”  sembari menyentuh dadanya. “melihat kaka dengan keadaan itu, aku gak rela ada orang yang melihatnya” hehh..... kata-kata ini mengarah kemana nih !! aku menggerutu kesal.

“aku sedikit kecewa, wanita cantik yang ku temui di museum, yang membuat jantungku berdebar, adalah seorang mahasiswa, aku berharap dia adalah siswi sekolah, aku sedikit kecewa harus memanggilmu kakak, aku kecewa dengan diriku sendiri yang masih duduk di bangku sekolah”. Aku memegang kepalaku, aku sudah tidak tahan dan menyela ucapannya, “maaf, tapi sepertinya kamu udah berlebihan, aku harus pergi dan kamu juga harus pergi, mungkin bismu akan segera berangkat, dan kejadian sebelumnya itu aku sudah melupakannya, permisi” aku bangkit dari tempat duduk dan pergi meninggalkannya.

Hari ini mood ku benar-benar kacau, tidak konsentrasi mengerjakan tugas dan mengalami lelucon aneh di museum ini. Ahh... mungkin di museum ini sedang mengadakan teater? Aku terlibat di dalamnya, tapi kenapa harus aku ? yang lain bersikap normal-normal saja, haishh.. aku menyibakkan rambutku, membuang pikiran aneh itu.

Aku mengengok kiri kanan, memastikan cowok itu tak ada di sekitarku, sepanjang koridor aku hanya tertawa bingung, kok ada anak kayak gitu, mimpi apa semalam, bisa ketemu anak kayak gitu. Sampai di luar museum, aku mengambil motor di parkiran, aku melihat si cowok di dalam bus, menatapku dibalik kaca jendela bus, tatapannya tajam tidak beralih sama sekali. Aku memalingkan wajah, memakai helm dan segera menyetir motor, tiba-tiba pikiran aneh muncul, seandainya dia bukan siswa SMA, seandainya dia mahasiswa angkatan akhir atau seseorang yang lebih dewasa, mungkin aku gak se cuek ini. Ahh.. lelucon apa yang barusan terjadi di museum, aku menggelengkan kepala dan pergi.



#Yogyakarta_28/10/2017

Cerpen "Misteri Galon Mekar"



Misteri Galon Mekar

“Malam ini mau makan apa?” Sasa menanyakan menu makan malam ini padaku, aku menunjukkan ekspresi berfikir. “Ayam geprek?”  jawabku mengusulkan, “oke ide bagus!”  Sasa menyetujui. Musyawarah yang singkat, malam-malam sebelumnya juga makan menu yang sama. Hidup sebagai anak kos-kosan dengan jatah bulanan yang pas-pasan, tidak banyak pilihan untuk sekedar makan. Sepulang membeli makan, aku dan Sasa masuk kamar dan mulai mengisi perut yang lapar. “Martha !, besok jalan yuk?!”  Sasa ngajak jalan di hari libur besok, kemana ? tanyaku “ya..jalan-jalan aja kemana gitu” , “heleh.. ngajak jalan-jalan terus tapi gak ada tujuan, paling juga gagal lagi”  kataku sebel.

Greekk....!!!!!!! terdengar suara pintu terbuka, “permisi..!!” suara cowok berteriak, aku dan Sasa saling menatap diam. “permisi..!!” ia kembali bersuara. Sasa menengok keluar kamar, melihat siapa cowok itu. “galon mbak?!” kata si cowok, “galon?, Martha, kamu pesen galon?” tanya Sasa, “enggak,” jawabku bingung sambil geleng kepala. Sasa balik tanya ke si cowok atas nama siapa pesenan galon itu. Mekar !! jawab si cowok sedikit tertawa ragu, Mekar ? Sasa juga tertawa kaget mendengar nama itu, aku hanya nyengir kebingungan.

“Mekar siapa? Disini gak ada yang namanya Mekar, mungkin salah alamat” aku menjelaskan pada si cowok galon. “Bener kok disini alamatnya” si cowok menegaskan. “coba tanya ke flat sebelah, mungkin ada yang namanya Mekar” aku memberi saran. Ooh yaudah makasih kata si cowok galon lalu menutup pintu pergi. Sasa curiga, gak biasanya tukang galon buka pintu sendiri, lagian gak keliatan tuh cowok bawa galon, penampilannya juga bukan macam tukang galon.

Coba lihat keluar, mastiin siapa dia sebenarnya, aku menyuruh Sasa, dia keluar agak lama. Saat kembali wajahnya penuh curiga. Cowok galon itu gak tanya ke flat sebelah, malah ada cowok lain mungkin temennya. Tapi tukang galon biasanyakan sendiri, tadi mereka berdua naik motor, di motornya juga gak keliatan ada galon. Aku jadi was-was siapa cowok itu, sembarang buka pintu gak pake ketok dulu. Mending sekarang pintu depan di kunci aja biar aman, Sasa mengangguk.

Seminggu semenjak kejadian malam itu, aku dan Sasa sudah hampir melupakannya. Malam Minggu ini menu kami berbeda dari biasanya. Nasi goreng ati ampela, hemm lama juga gak makan nasi goreng, di tengah-tengah menikmati makan malam, terdengar pintu depan di ketuk-ketuk, “Air..!!” kali ini terdengar seperti tukang galon asli. Tapi ini malam Minggu, semua anak kos keluar, kecuali aku dan Sasa, hehe... aku dan Sasa hanya diam, barangkali ada anak kos yang pesan galon. Pintu terus di ketok-ketok “Aiirr..!! mbak ..!!” si tukang galon belum ada yang menjawab, memang gak ada anak kos yang tinggal, Sasa pergi membukakan pintu, aku menengok dari kamar, nampak tukang galon beserta galonnya.

“Pesen galon mbak?” tanya si tukang galon, “enggak, atas nama siapa mas?” Sasa tanya balik. “Mekar” jawab tukang galon. Mataku terbelalak, tanganku menutup mulut yang menganga kaget. Sasa tertawa mendengar nama itu lagi. “disini gak ada yang namanya Mekar, mas salah alamat kali !” jelas Sasa ke tukang galon. “tapi bener sini alamatnya, kos Frozen lantai satu, atas nama Mekar, mungkin ada temennya yang pesen pakai nama itu ?” tukang galon juga menjelaskan. “Gak ada mas, gak ada yang namanya Mekar dan gak ada yang pesen galon deh kayaknya soalnya anak kosan lagi pada keluar, suma ada saya sama temen saya itu, juga gak pesen galon” Sasa kembali menegaskan.

Obrolan Sasa dan tukang galon berlangsung beberapa menit, si tukang galon akhirnya menyerah dan pergi membawa serta galon pesanan Mekar yang entah siapa Mekar itu. Aneh waktu itu si tukang galon  yang mencurigakan , karena gak keliatan kayak tukang galon, sekarang beneran tukang galon yang dateng, tapi keberadaan Mekar yang mencurigakan. Siapa si Mekar, padahal disini gak ada yang namanya Mekar, tiap pesen galon juga pasti pake nama asli. Aku dan Sasa kebingungan berdiskusi siapa yang salah, tukang galon iseng atau nyasar, atau mungkin si Mekar yang iseng. Tapi si tukang galon barusan asli tukang galon dan dia juga bingung siapa yang pesen galon atas nama Mekar. Kalau yang waktu itu gak tau cowok iseng darimana yang ngaku-ngaku jadi tukang galon. Tapi, tapi, tapi ...yang jadi tanda tanya besar ialah, ada atau gak sih yang namanya Mekar?.

“Waaahh..... ini adalah misteri galon Mekar” bisik Sasa sambil mengerutkan matanya. “Sebelumnya, aku belum pernah denger nama Mekar” tambahnya. “Aku juga bingung, dua tukang galon menanyakan nama yang sama di alamat yang sama, kebetulan banget alamat dan namanya sama padahal keduanya salah” aku bergumam curiga. “Hiii..... bener-bener deh ini malam Minggu yang horor !!!” kata Sasa berteriak, misteri galon Mekar ..!!!!!!!




#Yogyakarta_28/10/2017