Sabtu, 28 Oktober 2017

CERPEN "Lelucon di Museum"



Lelucon di Museum

Tugas, oh tugas, mahasiswa semester empat memang sedang di sibukkan dengan tugas yang bertumpuk, tapi kali ini tugas nasionalis, memberi kesempatan mahasiswanya jalan-jalan ke museum. Hari ini panas, di tambah keadaan museum yang seang ramai pengunjung dari berbagai sekolah. Aku pergi keluar membeli minuman untuk menyiram tengggorkan yang sudah kering, beberapa temanku masih konsentrasi membaca sejarah, oh .. yang benar saja, hanya aku yang tak tertarik mendalaminya.

Braakkk........!!!!!! Haishh..anak-anak ini, di pikir ini taman bermain, bercanda sambil lari-lari ?! gelas minumanku tumpah, ditambah minuman itu menumpahi ku dan bajuku jadi basah gara-gara di tabrak anak sekolah yang iseng. “Sorry.. gak sengaja,!?” permintaan maaf yang mesti ku terima, aku harus apa selain bilang gak papa. “Maaf ya.. minumanmu tumpah, ayo aku belikan lagi?”  dia menawariku, anak SMA yang mungkin masih kelas dua, biasanya sekolah mengadakan tour di kelas dua. “Udah gak papa kok” aku menolak dengan ramah, dia menarik tanganku dan membawaku ke kedai minuman, memintaku memilih minuman yang sama dengan yang tumpah tadi.

Karena aku gak mau ini jadi berkepanjangan, aku turuti saja dia, memilih minuman yang sama, dan pamit pergi. “Tunggu..! bajumu basah” dia menahanku, “dasar ini cowok ingusan, berlebihan banget” aku menggerutu dalam hati, aku menjawab aku tidak papa dan nanti bajuku bisa kering. Dia menyodorkan tisu, menyuruhku mengelap bajuku, aku lakukan dengan sabar, setelah selesai aku pergi. Kak..!! aku menghela nafas dan berbalik, apa lagi ? tanyaku, dia mendekat dan menutup dadaku dengan jaketnya. Whoaa.. kelakuan macam apa ini?!.

Aku melepas jaketnya dan menegaskan, “jangan berlebihan, aku gak papa dan aku harus pergi sekarang ! okey ?” dia tidak meraih jaketnya malah memakaikannya kembali, “tapi akan jauh lebih baik begini, percaya padaku deh” si cowok berkata sambil tersenyum. Aku harus berdebat hal spele begini sangat membuatku kesal. Aku bersikeras tidak mau memakai jaketnya, tapi dia juga memaksaku memakainya, “kakak bawa jaket atau baju lain ? kalau enggak, pakai jaketku aja, karena itu jadi terlihat jelas, lebih baik kaka menutupinya” mendengar kata-katanya, aku jadi berfikir ke arah lain. Aaahh... jadi maksudnya, aahh..!!! kenapa hari ini aku pakai baju tipis, duh.. suasana yang memalukan dan menyebalkan, aku terdiam beberapa detik, memejamkan mata dan berbalik pergi dengan jaket yang menutup dadaku.

Aku menuyusul teman-teman, yang sedari tadi mengamati setiap perabot yang ada, “Syerli !!, kamu abis malak anak sekolah ?!!” tanya Fina padaku, “malak apaan ? tanyaku balik. “laah itu ngapain pake jaket anak SMA, yang lagi tour?!” Fina menjelaskan. Oh.... jaket ? aku melihat jaket yang ku pakai, ahh ternyata ini jaket angkatan, pantas saja anak sekolah itu pada ngeliatin aku. Haaah,...!! kenapa dia ngasih jaket angkatan sih. Aku berbohong pada Fina, aku menemukan jaket ini di toilet dan hendak mengembalikannya.

Aku duduk lemas memikirkan kejadian hari ini, aku melihat jaket itu terdapat tulisan nama Indra, oh.. jadi namanya Indra. Bagaimana nih, harus aku balikin apa gak usah ini jaket, aku melihat beberapa anak memakai jaket yang sama, mungkin aku bisa menitipkannya. Hendak berdiri dari posisi duduk ku, aku di kejutkan dengan orang yang tiba-tiba muncul entah darimana. “Bajunya udah kering ?” ahh si anak ini.

“Nih.. aku balikin jaketnya, makasih ya” aku menyodorkan jaket itu. “Oke, aku juga minta maaf, harusnya aku hati-hati biar gak nabrak kakak” si cowo mulai mendrama. Aku meringis dan mengangguk, “kaka ada masalah ? dari tadi cuma duduk, dan melamun, gak kaya temennya yang lain?”  hmm pertanyaan macam apa ini yang keluar dari anak kelas dua SMA, “apa gara-gara kejadian tadi ?, aku kan udah minta maaf, emm atau mau aku ngapain buat nebus kesalahanku ?” gila.. gila.. gilaaa ..!!!!! aku ada di situasi apaan nih ?!!.

Aku menegakkan kepala, berkata aku baik-baik saja dan udah lupa kejadian tadi. Si cowok malah memandangku tanpa bergeming, “Ini kali pertamanya aku betah dan ingin tinggal lebih lama di museum,Kakak wanita yang cantik, !!” aku terbatuk-batuk mendengar kata-katanya, modus sialan !! “kaka mungkin gak percaya, tapi pertama kali liat wajah kakak, aku merasa ada yang lain disini”  sembari menyentuh dadanya. “melihat kaka dengan keadaan itu, aku gak rela ada orang yang melihatnya” hehh..... kata-kata ini mengarah kemana nih !! aku menggerutu kesal.

“aku sedikit kecewa, wanita cantik yang ku temui di museum, yang membuat jantungku berdebar, adalah seorang mahasiswa, aku berharap dia adalah siswi sekolah, aku sedikit kecewa harus memanggilmu kakak, aku kecewa dengan diriku sendiri yang masih duduk di bangku sekolah”. Aku memegang kepalaku, aku sudah tidak tahan dan menyela ucapannya, “maaf, tapi sepertinya kamu udah berlebihan, aku harus pergi dan kamu juga harus pergi, mungkin bismu akan segera berangkat, dan kejadian sebelumnya itu aku sudah melupakannya, permisi” aku bangkit dari tempat duduk dan pergi meninggalkannya.

Hari ini mood ku benar-benar kacau, tidak konsentrasi mengerjakan tugas dan mengalami lelucon aneh di museum ini. Ahh... mungkin di museum ini sedang mengadakan teater? Aku terlibat di dalamnya, tapi kenapa harus aku ? yang lain bersikap normal-normal saja, haishh.. aku menyibakkan rambutku, membuang pikiran aneh itu.

Aku mengengok kiri kanan, memastikan cowok itu tak ada di sekitarku, sepanjang koridor aku hanya tertawa bingung, kok ada anak kayak gitu, mimpi apa semalam, bisa ketemu anak kayak gitu. Sampai di luar museum, aku mengambil motor di parkiran, aku melihat si cowok di dalam bus, menatapku dibalik kaca jendela bus, tatapannya tajam tidak beralih sama sekali. Aku memalingkan wajah, memakai helm dan segera menyetir motor, tiba-tiba pikiran aneh muncul, seandainya dia bukan siswa SMA, seandainya dia mahasiswa angkatan akhir atau seseorang yang lebih dewasa, mungkin aku gak se cuek ini. Ahh.. lelucon apa yang barusan terjadi di museum, aku menggelengkan kepala dan pergi.



#Yogyakarta_28/10/2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar