Surat Dinda
Sore
itu, langit terasa berat menahan awan hitam yang bergumpal, sesekali kilat
bergetar di langit suram itu. Dinda terlihat murung tiada bersemangat, orang
tuanya menyadarinya tapi enggan menanyakannya, mungkin orang tuanya sudah tau,
apa yang terjadi kemarin.
Langit
semakin muram, petir semakin menggelegar, Dinda tak ada di kamarnya, tak ada
dimanapun setiap ruangan ataupun sudut rumah. Orang tuanya panik mencari
kemana-mana di hubungipun tak ada jawaban.
Telepon
rumah berdering, si ibu mengangkatnya segera, haya beberapa detik si ibu diam
tanpa kata, sampai tubuhnya ambruk ke lantai, ayah panik segera menopang tubuh
si ibu, tangannya meraih telepon yang masih tersambung, sekuat tenaga ayah
memindahkan ibu ke kamar, matanya berat membendung air yang hampir jatuh.
Ayah
kebingungan, harus ke rumah sakit, tapi si ibu belum sadar dari pingsannya.
Ayah minta bantuan tetangga, untuk menemani si ibu, ayah langsung tancap gas
menuju rumah sakit. Wajahnya basah, meski hujan belum turun, tapi air matanya
sudah bercucuran.
Ayah
di tuntun menuju kamar yang di dalamnya terdapat jenasah putrinya, ayah tak
sanggup menahan diri matanya menghujani peti jenasah Dinda, ayah tidak di
perbolehkan membukanya karena keadaan jenasah yang tragis sebab tertabrak kereta.
Suara
sirine, bercampur dengan kilat di angkasa, langit sudah gelap, tapi ia masih
kuat menahan awan hitam itu. Ayah di tuntun masuk rumah, tubunhya basah oleh
air mata, jalannya terseret-seret seakan kakinya tak mau melangkah. Ibu
menangis histeris, tak rela anaknya mati seperti itu. Peti diturunkan dari
mobil, ibu tak sanggup melihat, tubuhnya kembali jatuh ke lantai.
Malam
itu terasa sangat panjang bagi orang tua Dinda, keduanya tak mampu
berkata-kata, pasrah atas keadaan pahit yang menimpanya. Putri satu-satunya itu
pergi dari dunia ini, ibu menangis sesenggukan di kamar Dinda, ayah memeluknya
menguatkan si ibu.
Ayah
melihat selembar kertas di meja, mengambilnya dan membacanya “surat Dinda, untuk ayah ibu, maafkan
perbuatan Dinda ini, Dinda sayang ayah ibu, tapi hati Dinda terlanjur kecewa,
seandainya ayah ibu tidak sebegitunya melarang kami, Dinda tak akan melakukan
ini, sumpah janji sehidup semati walau usia dini kami tak perduli , kini di
jalan kereta kami memasrahkan jiwa, Dinda tak menyalahkan ayah ibu, keputusan
ini terjadi begitu saja, jangan salahkan siapapun juga, Dinda pergi untuk
selamanya, ayah ibu ? maafkan Dinda”.
#Syta_Inspirasi_by_TommyJpisa_song_TragediPengantinRemaja
Tidak ada komentar:
Posting Komentar