Minggu, 29 Oktober 2017

Cerpen "Surat Dinda"



Surat Dinda

Sore itu, langit terasa berat menahan awan hitam yang bergumpal, sesekali kilat bergetar di langit suram itu. Dinda terlihat murung tiada bersemangat, orang tuanya menyadarinya tapi enggan menanyakannya, mungkin orang tuanya sudah tau, apa yang terjadi kemarin.

Langit semakin muram, petir semakin menggelegar, Dinda tak ada di kamarnya, tak ada dimanapun setiap ruangan ataupun sudut rumah. Orang tuanya panik mencari kemana-mana di hubungipun tak ada jawaban.

Telepon rumah berdering, si ibu mengangkatnya segera, haya beberapa detik si ibu diam tanpa kata, sampai tubuhnya ambruk ke lantai, ayah panik segera menopang tubuh si ibu, tangannya meraih telepon yang masih tersambung, sekuat tenaga ayah memindahkan ibu ke kamar, matanya berat membendung air yang hampir jatuh.

Ayah kebingungan, harus ke rumah sakit, tapi si ibu belum sadar dari pingsannya. Ayah minta bantuan tetangga, untuk menemani si ibu, ayah langsung tancap gas menuju rumah sakit. Wajahnya basah, meski hujan belum turun, tapi air matanya sudah bercucuran.

Ayah di tuntun menuju kamar yang di dalamnya terdapat jenasah putrinya, ayah tak sanggup menahan diri matanya menghujani peti jenasah Dinda, ayah tidak di perbolehkan membukanya karena keadaan jenasah yang tragis sebab tertabrak kereta.

Suara sirine, bercampur dengan kilat di angkasa, langit sudah gelap, tapi ia masih kuat menahan awan hitam itu. Ayah di tuntun masuk rumah, tubunhya basah oleh air mata, jalannya terseret-seret seakan kakinya tak mau melangkah. Ibu menangis histeris, tak rela anaknya mati seperti itu. Peti diturunkan dari mobil, ibu tak sanggup melihat, tubuhnya kembali jatuh ke lantai.

Malam itu terasa sangat panjang bagi orang tua Dinda, keduanya tak mampu berkata-kata, pasrah atas keadaan pahit yang menimpanya. Putri satu-satunya itu pergi dari dunia ini, ibu menangis sesenggukan di kamar Dinda, ayah memeluknya menguatkan si ibu.

Ayah melihat selembar kertas di meja, mengambilnya dan membacanya “surat Dinda, untuk ayah ibu, maafkan perbuatan Dinda ini, Dinda sayang ayah ibu, tapi hati Dinda terlanjur kecewa, seandainya ayah ibu tidak sebegitunya melarang kami, Dinda tak akan melakukan ini, sumpah janji sehidup semati walau usia dini kami tak perduli , kini di jalan kereta kami memasrahkan jiwa, Dinda tak menyalahkan ayah ibu, keputusan ini terjadi begitu saja, jangan salahkan siapapun juga, Dinda pergi untuk selamanya, ayah ibu ? maafkan Dinda”.
 


#Syta_Inspirasi_by_TommyJpisa­_song_TragediPengantinRemaja

Tidak ada komentar:

Posting Komentar