Tampilkan postingan dengan label #Magis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #Magis. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 November 2017

CERPEN "Yang datang di Malam Hari"



Yang datang di Malam Hari


Hujan rintik-rintik begini yang membuatku sedih, ingat rumah, ingat keluarga dan ingat nasibku yang belum mujur. Waktu yang tepat, hujan turun di sore hari begini, menutup hari Minggu yang tiada berarti. Aah.... tapi aku lapar, tak ada makanan di kamar, mau keluarpun jadi males karena hujan ini.

Hari Mingguku berlalu begitu saja, aku habiskan untuk tidur meskipun aku tak bisa tidur, hanya berbaring dan memejamkan mata. Beberapa hari ini, emm... lebih tepatnya satu minggu ini hari-hariku begitu buruk, tugas-tugas yang belum terselesaikan, membuat beban pikiranku jadi berat. Bahkan aku menghabiskan malam-malam dengan sangat buruk.

Hemm.... perutku memberontak, tapi tubuhku enggan bergerak. Tugas kuliahku belum selesai bukan karena aku tak mengerjakannya, tapi karena memang aku tak bisa mengerjakannya, meski berkali-kali ku coba. Entahlah mengapa aku terperangkap dalam hal ini. Hujan masih turun dengan syahduh, langit semakin gelap.

“Yahh,,, aku tak tahan lagi, aku mau membeli sesuatu untuk perutku”. Aku keluar kamar, menyusuri jalan yang dingin karena hujan ini, pikirku dengan berjalan sendiri di bawah rintik-rintik hujan begini di malam hari dengan payung berwarna merah, aku bagaikan gadis misterius yang menawan.

Melewati warung mi ayam, beberapa orang sedang menikmati makanannya, berikutnya kedai coklat, beberapa cowok berkumpul dan memainkan gitar, ku lewati lagi warung makan sederhana, beberapa abang ojek online menaikkan satu kakinya di kursi dan menikmati segelas minuman hangat, tepat di sebelahnya kedai jus, meski sepi tapi ada dua pembeli yang menunggu.

“Aish...!! gadis misterius yang menawan dari mana, jika tak seorangpun yang memperhatikan, ah pemikiran macam apa ini ?!!” aku menggerutu lirih. Aku berhenti di depan kedai roti bakar, aku makan roti bakar saja kataku dalam hati. Aku sudah memutuskannya dan masuk dalam kedai. Menunggu pesanan satu porsi roti bakar rasa coklat, haruskah aku pesan minuman juga ? ahh... tidak, tidak, minum air mineral saja. Mahasiswa macam aku ini harus ketat berhemat.

“satu porsi roti bakar rasa coklat ?!!” pelayan menyebut pesananku, aku membayar dan membawanya pulang. Melewati jalan yang sama, aku tidak lagi memperhatikan kiri, kanan, aku tidak lagi mengharap ada seseorang yang menaruh perhatiannya padaku, tak ada gadis misterius yang menawan.

Sampai di depan kamar, aku memandang sekitar, tak ada yang mencurigakan dan tak ada yang mengikutiku. Aku masuk dengan tenang dan membuka makananku lalu menikmatinya.

Di tengah-tengah menikmati roti bakar rasa coklatku, aku merasa ada sesuatu, pintu kamarku mempunyai lubang kecil di bagian bawahnya, sekilas aku melihat sesuatu bergerak di balik pintu. Tubuhku terdiam tak bergerak, mataku fokus pada pintu.

Beberapa detik kemudian bayangan itu kembali bergerak, seperti bolak-balik di depan pintu. Tubuhku belum bergerak, mataku belum berkedip. Jantungku berdetak kencang, aku berharap itu tetangga kamar, tapi tak ada suara ia membuka pintu kamar sebelah, bayangan itu hanya bolak-balik bergerak di depan pintuku.

“Grek..!!” aku tersentak kaget, pintuku seolah tengah di dorong olehnya, jantungku berdetak makin cepat bahkan sampai tak karuan detakannya. Tubuhku kaku, kepalaku berkeringat, tubuhku tak bisa bergerak. Apa itu ? siapa itu ? tidak mengeluarkan suara juga tidak mengetuk pintu.

“Grek..!!” suara pintu yang mungkin sedang berusaha di buka. Mataku perlahan melirik ke bagian atas pintu, berharap pintu sudah terkunci, sampai pada tujuanku, aku memejamkan mata, semoga aku salah lihat. “aah... aku belum mengunci pintu” apa yang harus aku lakukan, tetangga kamar belum pulang, lingkungan selalu sepi di hari Minggu.

Aku masih terdiam kaku pada posisiku. Bayangan itu masih bergerak di balik pintu. Gagang kunci itu terlihat mencurigakan, aku rasa ia memegang gagang kunci kamarku untuk membukanya, pandanganku tak beralih dari gagang pintu itu “jangan bergerak.. jangan bergerak..” aku memohon dalam hati jangan ada yang masuk dari pintu itu.

Suasana menjadi hening, aku tak melihat gerakan bayangan itu, mataku fokus konsentrasi melihat lubang kecil pintu itu, memastikan keberadaan bayangan itu. tubuhku terasa ringan, pandanganku kabur, detak jantungku terasa menyakitkan.

“JEGREEEKKK..!!! BRAAAKKK ...!!!! “ tubuhku terpental, mataku membelalak kaget, nafasku terengah-engah, tenggorokan ku terasa kering, aku menelan ludah mengusap keningku yang penuh keringat. Aah... hanya mimpi, aku terbangun dari tidurku, meninggalkan ketegangan itu, menyadarkan diri dan melenyapkan suasana itu.


 

#Yogyakarta_05/11/2017
 

Sabtu, 28 Oktober 2017

Cerpen "Misteri Galon Mekar"



Misteri Galon Mekar

“Malam ini mau makan apa?” Sasa menanyakan menu makan malam ini padaku, aku menunjukkan ekspresi berfikir. “Ayam geprek?”  jawabku mengusulkan, “oke ide bagus!”  Sasa menyetujui. Musyawarah yang singkat, malam-malam sebelumnya juga makan menu yang sama. Hidup sebagai anak kos-kosan dengan jatah bulanan yang pas-pasan, tidak banyak pilihan untuk sekedar makan. Sepulang membeli makan, aku dan Sasa masuk kamar dan mulai mengisi perut yang lapar. “Martha !, besok jalan yuk?!”  Sasa ngajak jalan di hari libur besok, kemana ? tanyaku “ya..jalan-jalan aja kemana gitu” , “heleh.. ngajak jalan-jalan terus tapi gak ada tujuan, paling juga gagal lagi”  kataku sebel.

Greekk....!!!!!!! terdengar suara pintu terbuka, “permisi..!!” suara cowok berteriak, aku dan Sasa saling menatap diam. “permisi..!!” ia kembali bersuara. Sasa menengok keluar kamar, melihat siapa cowok itu. “galon mbak?!” kata si cowok, “galon?, Martha, kamu pesen galon?” tanya Sasa, “enggak,” jawabku bingung sambil geleng kepala. Sasa balik tanya ke si cowok atas nama siapa pesenan galon itu. Mekar !! jawab si cowok sedikit tertawa ragu, Mekar ? Sasa juga tertawa kaget mendengar nama itu, aku hanya nyengir kebingungan.

“Mekar siapa? Disini gak ada yang namanya Mekar, mungkin salah alamat” aku menjelaskan pada si cowok galon. “Bener kok disini alamatnya” si cowok menegaskan. “coba tanya ke flat sebelah, mungkin ada yang namanya Mekar” aku memberi saran. Ooh yaudah makasih kata si cowok galon lalu menutup pintu pergi. Sasa curiga, gak biasanya tukang galon buka pintu sendiri, lagian gak keliatan tuh cowok bawa galon, penampilannya juga bukan macam tukang galon.

Coba lihat keluar, mastiin siapa dia sebenarnya, aku menyuruh Sasa, dia keluar agak lama. Saat kembali wajahnya penuh curiga. Cowok galon itu gak tanya ke flat sebelah, malah ada cowok lain mungkin temennya. Tapi tukang galon biasanyakan sendiri, tadi mereka berdua naik motor, di motornya juga gak keliatan ada galon. Aku jadi was-was siapa cowok itu, sembarang buka pintu gak pake ketok dulu. Mending sekarang pintu depan di kunci aja biar aman, Sasa mengangguk.

Seminggu semenjak kejadian malam itu, aku dan Sasa sudah hampir melupakannya. Malam Minggu ini menu kami berbeda dari biasanya. Nasi goreng ati ampela, hemm lama juga gak makan nasi goreng, di tengah-tengah menikmati makan malam, terdengar pintu depan di ketuk-ketuk, “Air..!!” kali ini terdengar seperti tukang galon asli. Tapi ini malam Minggu, semua anak kos keluar, kecuali aku dan Sasa, hehe... aku dan Sasa hanya diam, barangkali ada anak kos yang pesan galon. Pintu terus di ketok-ketok “Aiirr..!! mbak ..!!” si tukang galon belum ada yang menjawab, memang gak ada anak kos yang tinggal, Sasa pergi membukakan pintu, aku menengok dari kamar, nampak tukang galon beserta galonnya.

“Pesen galon mbak?” tanya si tukang galon, “enggak, atas nama siapa mas?” Sasa tanya balik. “Mekar” jawab tukang galon. Mataku terbelalak, tanganku menutup mulut yang menganga kaget. Sasa tertawa mendengar nama itu lagi. “disini gak ada yang namanya Mekar, mas salah alamat kali !” jelas Sasa ke tukang galon. “tapi bener sini alamatnya, kos Frozen lantai satu, atas nama Mekar, mungkin ada temennya yang pesen pakai nama itu ?” tukang galon juga menjelaskan. “Gak ada mas, gak ada yang namanya Mekar dan gak ada yang pesen galon deh kayaknya soalnya anak kosan lagi pada keluar, suma ada saya sama temen saya itu, juga gak pesen galon” Sasa kembali menegaskan.

Obrolan Sasa dan tukang galon berlangsung beberapa menit, si tukang galon akhirnya menyerah dan pergi membawa serta galon pesanan Mekar yang entah siapa Mekar itu. Aneh waktu itu si tukang galon  yang mencurigakan , karena gak keliatan kayak tukang galon, sekarang beneran tukang galon yang dateng, tapi keberadaan Mekar yang mencurigakan. Siapa si Mekar, padahal disini gak ada yang namanya Mekar, tiap pesen galon juga pasti pake nama asli. Aku dan Sasa kebingungan berdiskusi siapa yang salah, tukang galon iseng atau nyasar, atau mungkin si Mekar yang iseng. Tapi si tukang galon barusan asli tukang galon dan dia juga bingung siapa yang pesen galon atas nama Mekar. Kalau yang waktu itu gak tau cowok iseng darimana yang ngaku-ngaku jadi tukang galon. Tapi, tapi, tapi ...yang jadi tanda tanya besar ialah, ada atau gak sih yang namanya Mekar?.

“Waaahh..... ini adalah misteri galon Mekar” bisik Sasa sambil mengerutkan matanya. “Sebelumnya, aku belum pernah denger nama Mekar” tambahnya. “Aku juga bingung, dua tukang galon menanyakan nama yang sama di alamat yang sama, kebetulan banget alamat dan namanya sama padahal keduanya salah” aku bergumam curiga. “Hiii..... bener-bener deh ini malam Minggu yang horor !!!” kata Sasa berteriak, misteri galon Mekar ..!!!!!!!




#Yogyakarta_28/10/2017