Tampilkan postingan dengan label #horor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #horor. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 Desember 2020

"Surat Darimu"


Kegembiraan Hatiku ini hampir tak dapat ku ungkapkan,

Kau tahu kenapa?

Sudah lama engkau tiada mengirim surat

Kini hatiku tengah berbahagia, kau tahu?

Rasanya aku tak bosan-bosannya membaca suratmu

Meski hanya melalui kata-kata yang kau tulis

Aku merasa berhadapan langsung denganmu


Makin hari rindu itu semakin menggebu gebu

Ingin rasanya untuk bisa selalu dekat denganmu, kau tahu?

Setiap kata yang kau tuliskan dalam suratmu

Seolah olah telah melekat di hatiku

Tak ada lagi harapanku padamu

Selain harapan hari dimana engkau kembali

Untuk kita bersanding di singgasana cinta



_____

Batang, Desember 2020

#dwy_rr

Kamis, 23 November 2017

cerpen "Sunyi Sepi di Balik Tembok"



Sunyi Sepi di Balik Tembok


“Baiklah para pendengar setia, lagu-lagu kenangan telah saya putarkan menemani malam minggu pendengar setia, naah... kini tiba waktunya Merly undur suara dari ruang dengar pendengar setia, tapi jangan khawatir Merly akan kembali lagi besok di jam yang sama, selamat istirahat dan semoga mimpi indah,,, byee ..!”

Merly lega tak ada telepon misterius malam ini, beberapa minggu terakhir tiap siaran malam selalu ada telepon misterius entah dari mana dan siapa dia. Merly pamitan dengan rekan-rekan kerjanya.

Sudah jam 11 malam, Merly harus jalan kaki sampai ujung gang, motor yang rusak tadi sore belum selesai diperbaiki, jam segini susah mendapat ojek, ia harus berjalan sampai dekat jalan besar supaya cepat mendapat ojek.

Suasana sunyi sepi, hanya ada beberapa kucing liar yang berlalulalang. Lampu jalan yang mati menambah kegelapan malam ini, dari kejauhan seseorang berjalan dari arah berlawanan, Merly tetap tenang dan berjalan santai.

Mereka berpapasan, tanpa menyapa tanpa melirik, Merly menundukkan kepalanya, tak terjadi sesuatu, semua baik-baik saja, sampai beberapa jarak yang belum jauh, seseorang menarik tangannya.

Merly kaget dan hampir berteriak, namun mulutnya terbungkam telapak tangan, tubuhnya tak dapat bergerak dalam pelukan seseorang yang tubuhnya lebih besar dan kuat. Ia terseret ke semak-semak belakang gedung besar yang kosong, Merly dihempaskan ke tembok yang menjulang tinggi tanpa pencahayaan.

Dalam balik tembok itu Merly memasrahkan diri, sesuatu mencabik-cabik tubuhnya, perlawanan yang ia lakukan tak berarti apa-apa, suasana tetap sunyi sepi, ia berusaha mengigit dan menendang, pandangannya buyar, sesaat ia tak sadarkan diri, kepalanya dibenturkan ke tembok, darah mengalir melintasi wajahnya. Tak ada yang tahu sesuatu telah terjadi, dan suasana tetap sunyi sepi.




#Yogyakarta/23/November/2017
Syta dwy riskhi

Minggu, 05 November 2017

CERPEN "Yang datang di Malam Hari"



Yang datang di Malam Hari


Hujan rintik-rintik begini yang membuatku sedih, ingat rumah, ingat keluarga dan ingat nasibku yang belum mujur. Waktu yang tepat, hujan turun di sore hari begini, menutup hari Minggu yang tiada berarti. Aah.... tapi aku lapar, tak ada makanan di kamar, mau keluarpun jadi males karena hujan ini.

Hari Mingguku berlalu begitu saja, aku habiskan untuk tidur meskipun aku tak bisa tidur, hanya berbaring dan memejamkan mata. Beberapa hari ini, emm... lebih tepatnya satu minggu ini hari-hariku begitu buruk, tugas-tugas yang belum terselesaikan, membuat beban pikiranku jadi berat. Bahkan aku menghabiskan malam-malam dengan sangat buruk.

Hemm.... perutku memberontak, tapi tubuhku enggan bergerak. Tugas kuliahku belum selesai bukan karena aku tak mengerjakannya, tapi karena memang aku tak bisa mengerjakannya, meski berkali-kali ku coba. Entahlah mengapa aku terperangkap dalam hal ini. Hujan masih turun dengan syahduh, langit semakin gelap.

“Yahh,,, aku tak tahan lagi, aku mau membeli sesuatu untuk perutku”. Aku keluar kamar, menyusuri jalan yang dingin karena hujan ini, pikirku dengan berjalan sendiri di bawah rintik-rintik hujan begini di malam hari dengan payung berwarna merah, aku bagaikan gadis misterius yang menawan.

Melewati warung mi ayam, beberapa orang sedang menikmati makanannya, berikutnya kedai coklat, beberapa cowok berkumpul dan memainkan gitar, ku lewati lagi warung makan sederhana, beberapa abang ojek online menaikkan satu kakinya di kursi dan menikmati segelas minuman hangat, tepat di sebelahnya kedai jus, meski sepi tapi ada dua pembeli yang menunggu.

“Aish...!! gadis misterius yang menawan dari mana, jika tak seorangpun yang memperhatikan, ah pemikiran macam apa ini ?!!” aku menggerutu lirih. Aku berhenti di depan kedai roti bakar, aku makan roti bakar saja kataku dalam hati. Aku sudah memutuskannya dan masuk dalam kedai. Menunggu pesanan satu porsi roti bakar rasa coklat, haruskah aku pesan minuman juga ? ahh... tidak, tidak, minum air mineral saja. Mahasiswa macam aku ini harus ketat berhemat.

“satu porsi roti bakar rasa coklat ?!!” pelayan menyebut pesananku, aku membayar dan membawanya pulang. Melewati jalan yang sama, aku tidak lagi memperhatikan kiri, kanan, aku tidak lagi mengharap ada seseorang yang menaruh perhatiannya padaku, tak ada gadis misterius yang menawan.

Sampai di depan kamar, aku memandang sekitar, tak ada yang mencurigakan dan tak ada yang mengikutiku. Aku masuk dengan tenang dan membuka makananku lalu menikmatinya.

Di tengah-tengah menikmati roti bakar rasa coklatku, aku merasa ada sesuatu, pintu kamarku mempunyai lubang kecil di bagian bawahnya, sekilas aku melihat sesuatu bergerak di balik pintu. Tubuhku terdiam tak bergerak, mataku fokus pada pintu.

Beberapa detik kemudian bayangan itu kembali bergerak, seperti bolak-balik di depan pintu. Tubuhku belum bergerak, mataku belum berkedip. Jantungku berdetak kencang, aku berharap itu tetangga kamar, tapi tak ada suara ia membuka pintu kamar sebelah, bayangan itu hanya bolak-balik bergerak di depan pintuku.

“Grek..!!” aku tersentak kaget, pintuku seolah tengah di dorong olehnya, jantungku berdetak makin cepat bahkan sampai tak karuan detakannya. Tubuhku kaku, kepalaku berkeringat, tubuhku tak bisa bergerak. Apa itu ? siapa itu ? tidak mengeluarkan suara juga tidak mengetuk pintu.

“Grek..!!” suara pintu yang mungkin sedang berusaha di buka. Mataku perlahan melirik ke bagian atas pintu, berharap pintu sudah terkunci, sampai pada tujuanku, aku memejamkan mata, semoga aku salah lihat. “aah... aku belum mengunci pintu” apa yang harus aku lakukan, tetangga kamar belum pulang, lingkungan selalu sepi di hari Minggu.

Aku masih terdiam kaku pada posisiku. Bayangan itu masih bergerak di balik pintu. Gagang kunci itu terlihat mencurigakan, aku rasa ia memegang gagang kunci kamarku untuk membukanya, pandanganku tak beralih dari gagang pintu itu “jangan bergerak.. jangan bergerak..” aku memohon dalam hati jangan ada yang masuk dari pintu itu.

Suasana menjadi hening, aku tak melihat gerakan bayangan itu, mataku fokus konsentrasi melihat lubang kecil pintu itu, memastikan keberadaan bayangan itu. tubuhku terasa ringan, pandanganku kabur, detak jantungku terasa menyakitkan.

“JEGREEEKKK..!!! BRAAAKKK ...!!!! “ tubuhku terpental, mataku membelalak kaget, nafasku terengah-engah, tenggorokan ku terasa kering, aku menelan ludah mengusap keningku yang penuh keringat. Aah... hanya mimpi, aku terbangun dari tidurku, meninggalkan ketegangan itu, menyadarkan diri dan melenyapkan suasana itu.


 

#Yogyakarta_05/11/2017