Yang
datang di Malam Hari
Hujan
rintik-rintik begini yang membuatku sedih, ingat rumah, ingat keluarga dan
ingat nasibku yang belum mujur. Waktu yang tepat, hujan turun di sore hari
begini, menutup hari Minggu yang tiada berarti. Aah.... tapi aku lapar, tak ada
makanan di kamar, mau keluarpun jadi males karena hujan ini.
Hari
Mingguku berlalu begitu saja, aku habiskan untuk tidur meskipun aku tak bisa
tidur, hanya berbaring dan memejamkan mata. Beberapa hari ini, emm... lebih
tepatnya satu minggu ini hari-hariku begitu buruk, tugas-tugas yang belum
terselesaikan, membuat beban pikiranku jadi berat. Bahkan aku menghabiskan
malam-malam dengan sangat buruk.
Hemm....
perutku memberontak, tapi tubuhku enggan bergerak. Tugas kuliahku belum selesai
bukan karena aku tak mengerjakannya, tapi karena memang aku tak bisa mengerjakannya,
meski berkali-kali ku coba. Entahlah mengapa aku terperangkap dalam hal ini. Hujan
masih turun dengan syahduh, langit semakin gelap.
“Yahh,,, aku tak tahan lagi, aku
mau membeli sesuatu untuk perutku”. Aku keluar kamar, menyusuri
jalan yang dingin karena hujan ini, pikirku dengan berjalan sendiri di bawah
rintik-rintik hujan begini di malam hari dengan payung berwarna merah, aku
bagaikan gadis misterius yang menawan.
Melewati
warung mi ayam, beberapa orang sedang menikmati makanannya, berikutnya kedai
coklat, beberapa cowok berkumpul dan memainkan gitar, ku lewati lagi warung
makan sederhana, beberapa abang ojek online menaikkan satu kakinya di kursi dan
menikmati segelas minuman hangat, tepat di sebelahnya kedai jus, meski sepi
tapi ada dua pembeli yang menunggu.
“Aish...!! gadis misterius yang
menawan dari mana, jika tak seorangpun yang memperhatikan, ah pemikiran macam
apa ini ?!!” aku menggerutu lirih. Aku berhenti di depan kedai
roti bakar, aku makan roti bakar saja kataku dalam hati. Aku sudah
memutuskannya dan masuk dalam kedai. Menunggu pesanan satu porsi roti bakar
rasa coklat, haruskah aku pesan minuman juga ? ahh... tidak, tidak, minum air
mineral saja. Mahasiswa macam aku ini harus ketat berhemat.
“satu porsi roti bakar rasa
coklat ?!!” pelayan menyebut pesananku, aku membayar dan
membawanya pulang. Melewati jalan yang sama, aku tidak lagi memperhatikan kiri,
kanan, aku tidak lagi mengharap ada seseorang yang menaruh perhatiannya padaku,
tak ada gadis misterius yang menawan.
Sampai
di depan kamar, aku memandang sekitar, tak ada yang mencurigakan dan tak ada
yang mengikutiku. Aku masuk dengan tenang dan membuka makananku lalu
menikmatinya.
Di
tengah-tengah menikmati roti bakar rasa coklatku, aku merasa ada sesuatu, pintu
kamarku mempunyai lubang kecil di bagian bawahnya, sekilas aku melihat sesuatu
bergerak di balik pintu. Tubuhku terdiam tak bergerak, mataku fokus pada pintu.
Beberapa
detik kemudian bayangan itu kembali bergerak, seperti bolak-balik di depan
pintu. Tubuhku belum bergerak, mataku belum berkedip. Jantungku berdetak kencang,
aku berharap itu tetangga kamar, tapi tak ada suara ia membuka pintu kamar
sebelah, bayangan itu hanya bolak-balik bergerak di depan pintuku.
“Grek..!!” aku
tersentak kaget, pintuku seolah tengah di dorong olehnya, jantungku berdetak
makin cepat bahkan sampai tak karuan detakannya. Tubuhku kaku, kepalaku
berkeringat, tubuhku tak bisa bergerak. Apa itu ? siapa itu ? tidak
mengeluarkan suara juga tidak mengetuk pintu.
“Grek..!!” suara
pintu yang mungkin sedang berusaha di buka. Mataku perlahan melirik ke bagian
atas pintu, berharap pintu sudah terkunci, sampai pada tujuanku, aku memejamkan
mata, semoga aku salah lihat. “aah... aku
belum mengunci pintu” apa yang harus aku lakukan, tetangga kamar belum
pulang, lingkungan selalu sepi di hari Minggu.
Aku
masih terdiam kaku pada posisiku. Bayangan itu masih bergerak di balik pintu. Gagang
kunci itu terlihat mencurigakan, aku rasa ia memegang gagang kunci kamarku
untuk membukanya, pandanganku tak beralih dari gagang pintu itu “jangan bergerak.. jangan bergerak..” aku
memohon dalam hati jangan ada yang masuk dari pintu itu.
Suasana
menjadi hening, aku tak melihat gerakan bayangan itu, mataku fokus konsentrasi
melihat lubang kecil pintu itu, memastikan keberadaan bayangan itu. tubuhku
terasa ringan, pandanganku kabur, detak jantungku terasa menyakitkan.
“JEGREEEKKK..!!! BRAAAKKK ...!!!!
“ tubuhku
terpental, mataku membelalak kaget, nafasku terengah-engah, tenggorokan ku
terasa kering, aku menelan ludah mengusap keningku yang penuh keringat. Aah...
hanya mimpi, aku terbangun dari tidurku, meninggalkan ketegangan itu, menyadarkan
diri dan melenyapkan suasana itu.
#Yogyakarta_05/11/2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar