Sabtu, 04 November 2017

cerpen "Hadapi Masalahmu"



Hadapi Masalahmu


Gemuruh air itu telah berhenti, isakannya sudah mereda, bibirnya terdiam. Dia telah mengeluarkan segalanya, apa yang menjadi bebannya, telah ia curahkan. Aku yang menampung semua itu, aku yang menerimanya kemudian membuangnya. “Aku sudah merasa tenang sekarang, makasih ya Syer udah mau dengerin aku” suara Ratna sudah stabil ia mengucapkan terimakasihnya dengan lancar.

Hari ini aku sudah mendengarkan banyak masalah yang dicurahkan oleh kawan-kawanku. Dari pagi sampai malam seakan tiada masalah yang berhenti menghampiri manusia. Sebelum berangkat ke studio, seorang teman memintaku bertemu, aku menemuinya di sebuah cafe, ia sedang menangis dan memelukku.

Masalahnya tidak terlalu mengejutkanku, ia melihat pacarnya bersama wanita lain. Aku menyuruhnya tenang, dan menanyakan dengan  baik-baik siapa wanita itu. Tanpa pikir panjang malah dia langsung memutus hubungan dengan pacarnya.

Karena dia yang memutuskan, aku menyuruhnya tidak menangis dan biarkan saja. Tapi dia tidak rela kekasihnya bersama wanita lain, singkat saja aku menyuruhnya tenang dan berpikir dengan kepala dingin, tanyakan siapa wanita itu dan apa hubungan mereka. Aku tau maling tidak akan mengaku, tapi setidaknya kita harus tau alasan apa yang dibuatnya, agar kita bisa mempertimbangkan keputusan kita.

Belum selesai dengan masalah itu, kawan lain menghubungi, dia sudah bosan hidup katanya, aah.. beberapa kali juga aku mendengar hal serupa, aku bertanya apa yang membuatnya bosan hidup. Katanya percuma hidup tanpa ada kebahagiaan. Kebahagiaan apa yang tidak dia terima?, hidup dengan anggota tubuh yang lengkap dan berfungsi dengan sempurna, bukankah itu juga suatu kebahagiaan? bebas bernafas, dan diberi umur sampai sekarang, bukankah itu juga sebuah kebahagiaan?

Dia tidak menyukai pekerjaannya, selama bekerja selalu ada persaingan yang tidak sehat, tak seorangpun mendukungnya, keluarganya mendesak untuk segera menikah, tapi tak seorangpun datang melamar. Masalah yang membuatnya frustasi dan bosan menjalani hidup. Hidup ini kita yang menjalani, setiap manusia menjadi aktor utama dalam kehidupannya masing-masing. Orang lain hanyalah viguran, sudah pasti ada protagonis dan antagonis. Mati sekarang memang meninggalkan masalah, tapi tidak menyelesaikannya.

Pindah pekerjaan saja, kalau tidak bisa, bertahan saja dan perbaiki apa yang salah, mengapa orang-orang membenci kita? Apakah kita yang salah atau mereka yang salah? sebaik-baik manusia pasti ada yang mencela, seburuk-buruk manusia pasti ada yang membela. Hanya karena kita belum menikah diusia yang seharusnya, keluarga tidak akan membunuh kita, lalu kenapa kita mau mengakhiri hidup? sedangkan mereka menginginkan kita tetap ada.

Dalam perjalanan menuju studio, nampak seorang mahasiswa yang duduk melamun, dengan mata sembab, sesekali menatap tajam pada dunia. Masa studi yang sulit dilalui, jika mengatakan orang lain saja bisa melakukannya, kenapa aku tidak bisa? ahh... setiap manusia diciptakan dengan otak dan takdir yang berbeda, jika kita mengharuskan diri kita sama dengan orang lain, rasanya malah tidak adil bukan?

Jadilah dirisendiri, mengapa harus memaksa sama dengan mereka? mau  lulus cepat atau lambat, setiap manusia punya porsinya sendiri, jangan mengatakan aku tidak bisa seperti dia, aku bisa melakukan hal yang berbeda dari dia, itu lebih menghibur. Dia yang berprestasi dalam studynya, itulah takdirnya, itulah otak yang telah ia miliki dari lahir, dan dia bisa menggunakannya dengan baik, mungkin kita bisa tapi sedikit berbeda dengan dia. Kita tidak harus mendapat apa yang ia dapat, dan dia tidak harus mendapat apa yang kita dapat.

Sampai di studio, aku bergegas menyiapkan diri, siaran di mulai 10 menit lagi, aku membaca sekilas tema hari ini. Setelah semua siap, aku memulai siaranku di radio favorit para remaja. Menyapa para pendengar, memutarkan lagu, membaca pesan dari pendengar, dan mengulas tema hari ini, “hadapi masalahmu”.



#yogyakarta_04/11/2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar