Hadapi
Masalahmu
Gemuruh
air itu telah berhenti, isakannya sudah mereda, bibirnya terdiam. Dia telah
mengeluarkan segalanya, apa yang menjadi bebannya, telah ia curahkan. Aku yang
menampung semua itu, aku yang menerimanya kemudian membuangnya. “Aku sudah merasa tenang sekarang, makasih
ya Syer udah mau dengerin aku” suara Ratna sudah stabil ia mengucapkan
terimakasihnya dengan lancar.
Hari
ini aku sudah mendengarkan banyak masalah yang dicurahkan oleh kawan-kawanku. Dari
pagi sampai malam seakan tiada masalah yang berhenti menghampiri manusia.
Sebelum berangkat ke studio, seorang teman memintaku bertemu, aku menemuinya di
sebuah cafe, ia sedang menangis dan memelukku.
Masalahnya
tidak terlalu mengejutkanku, ia melihat pacarnya bersama wanita lain. Aku menyuruhnya
tenang, dan menanyakan dengan baik-baik
siapa wanita itu. Tanpa pikir panjang malah dia langsung memutus hubungan
dengan pacarnya.
Karena
dia yang memutuskan, aku menyuruhnya tidak menangis dan biarkan saja. Tapi dia
tidak rela kekasihnya bersama wanita lain, singkat saja aku menyuruhnya tenang
dan berpikir dengan kepala dingin, tanyakan siapa wanita itu dan apa hubungan
mereka. Aku tau maling tidak akan mengaku, tapi setidaknya kita harus tau
alasan apa yang dibuatnya, agar kita bisa mempertimbangkan keputusan kita.
Belum
selesai dengan masalah itu, kawan lain menghubungi, dia sudah bosan hidup
katanya, aah.. beberapa kali juga aku mendengar hal serupa, aku bertanya apa
yang membuatnya bosan hidup. Katanya percuma hidup tanpa ada kebahagiaan. Kebahagiaan
apa yang tidak dia terima?, hidup dengan anggota tubuh yang lengkap dan
berfungsi dengan sempurna, bukankah itu juga suatu kebahagiaan? bebas bernafas,
dan diberi umur sampai sekarang, bukankah itu juga sebuah kebahagiaan?
Dia
tidak menyukai pekerjaannya, selama bekerja selalu ada persaingan yang tidak
sehat, tak seorangpun mendukungnya, keluarganya mendesak untuk segera menikah,
tapi tak seorangpun datang melamar. Masalah yang membuatnya frustasi dan bosan
menjalani hidup. Hidup ini kita yang menjalani, setiap manusia menjadi aktor
utama dalam kehidupannya masing-masing. Orang lain hanyalah viguran, sudah
pasti ada protagonis dan antagonis. Mati sekarang memang meninggalkan masalah, tapi tidak menyelesaikannya.
Pindah
pekerjaan saja, kalau tidak bisa, bertahan saja dan perbaiki apa yang salah,
mengapa orang-orang membenci kita? Apakah kita yang salah atau mereka yang
salah? sebaik-baik manusia pasti ada yang mencela, seburuk-buruk manusia pasti
ada yang membela. Hanya karena kita belum menikah diusia yang seharusnya,
keluarga tidak akan membunuh kita, lalu kenapa kita mau mengakhiri hidup?
sedangkan mereka menginginkan kita tetap ada.
Dalam
perjalanan menuju studio, nampak seorang mahasiswa yang duduk melamun, dengan
mata sembab, sesekali menatap tajam pada dunia. Masa studi yang sulit dilalui,
jika mengatakan orang lain saja bisa melakukannya, kenapa aku tidak bisa?
ahh... setiap manusia diciptakan dengan otak dan takdir yang berbeda, jika
kita mengharuskan diri kita sama dengan orang lain, rasanya malah tidak adil bukan?
Jadilah
dirisendiri, mengapa harus memaksa sama dengan mereka? mau lulus cepat atau lambat, setiap manusia punya
porsinya sendiri, jangan mengatakan aku tidak bisa seperti dia, aku bisa
melakukan hal yang berbeda dari dia, itu lebih menghibur. Dia yang berprestasi
dalam studynya, itulah takdirnya, itulah otak yang telah ia miliki dari lahir,
dan dia bisa menggunakannya dengan baik, mungkin kita bisa tapi sedikit berbeda
dengan dia. Kita tidak harus mendapat apa yang ia dapat, dan dia tidak harus mendapat
apa yang kita dapat.
Sampai
di studio, aku bergegas menyiapkan diri, siaran di mulai 10 menit lagi, aku
membaca sekilas tema hari ini. Setelah semua siap, aku memulai siaranku di
radio favorit para remaja. Menyapa para pendengar, memutarkan lagu, membaca
pesan dari pendengar, dan mengulas tema hari ini, “hadapi masalahmu”.
#yogyakarta_04/11/2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar