Jumat, 10 November 2017

CERPEN "Kawanku Lawanku Egoku"



Kawanku Lawanku Egoku


Masuk pada bulan penuh lomba ini dan itu, karena aku siswi yang mendapat peringkat satu, mungkin akan terlibat, yah semester kemarin aku peringkat dua semester ini yang baru ku lalui, aku peringkat satu, entah semester berikutnya aku dapat berapa. Awal kelas ini, beberapa guru sibuk menyiapkan siswa-siswi nya untuk ikut lomba.

Di akhir pelajaran, guru membaca beberapa nama untuk dipanggil ke ruang kelas lain, namaku paling awal di sebut. Aku dan yang lain pindah kelas, menunggu kabar apa yang membuat kami dipanggil. Guru mengumumkan kami harus mengikuti kelas tambahan untuk persiapan lomba, beberapa anak di bagi untuk lomba tertentu. Aku, Puji, dan Yuli masuk kelompok sains, temanku ikha, fitri, dan Amin, masuk kelompok olahraga.

Kelas tambahan di mulai besok, kami di suruh mempersiapkannya. Keesokan hari di kelas tambahan, ternyata ada beberapa siswa dari tingkat satu yang bergabung, semua membawa bekal makan, sebelum kelas di mulai kami makan bersama, bertanya bekal apa yang di bawa, saling bertukar makan dan menikmatinya bersama, ini lebih menyenangkan dari yang ku bayangkan.

Aku dan Yuli jadi lebih rajin belajar, menanyakan materi ini dan itu, melewati hari-hari kelas tambahan dengan senang hati. Seminggu berlalu, guru mengumumkan kabar baru, beberapa nama kembali di sebut, namaku masuk dalam daftar. Lima anak yang disebut tetap mengikuti kelas tambahan, yang sudah tidak diikutkan lagi, Yuli termasuk yang tidak ikut. Hanya aku dan Puji, serta beberapa dari kelas lain.

Jam istirahat, aku berniat ke kantin bersama Yuli dan yang lain, tapi pak guru memanggilku, aku di beri lembaran soal untuk dikerjakan. “Aahh... aku harus mengerjakan ini, kalian ke kantin dulu deh,” “Huu... Riska udah semakin sibuk sekarang.” Celoteh Yuli.

Aku menoleh ke jendela kelas, melihat kawan-kawan sedang bergurau, aku kembali mengerjakan soal-soal. Bel masuk kelas, aku menyerahkan soal dan jawaban itu ke pak guru, dan mengikuti pelajaran selanjutnya.

Hari berikutnya pelajaran olahraga, aku di panggil pak guru, ternyata aku harus ijin tidak ikut olahraga, aku kembali belajar dan mengerjakan soal-soal, saat hendak keluar kelas aku terhenti di depan pintu, Yuli dan kawan-kawan sedang membicarakanku “harusnya Riska gak usah sekolah disini, apa-apa Riska!! Dikit-dikit Riska..!!, udah kayak anak kesayangan guru ajah !” suara Yuli terdengar penuh amarah, mungkin dia kecewa karena tidak diikutkan dalam lomba, dan kata-katanya membuatku sedih.

Sampai jam olahraga selesai aku masih di dalam kelas bersama pak guru, mengerjakan tumpukan soal-soal. Teman-teman masuk kelas saat pak guru keluar, Yuli dan yang lainnya menghampiriku “masih sibuk Ris ? ciiee.. daritadi berduaan sama pak guru? Ngapain aja ?” Yuli bertanya sekaligus mengejek, aku menghela nafas dan menjawab sedang mengerjakan soal. “kita mau ke kantin, kamu mau titip jajan atau minum gak ?” tanya Yuli, aku menggeleng. Aku ragu apa dia masih perduli atau hanya basa-basi.

Aku juga bingung kenapa Puji masih mengikuti kegiatan kelas dengan normal, sedangkan aku tidak. Tapi aku tidak mau menanyakannyua. “Riska..!!! lagi ngapain ? belajar atau pacaran sama pak guru ?!! hah.. haha..” kawan-kawan cowok mulai mengejekku. “Riska..? gak usah perduliin omongan mereka, tadi Yuli ngomongin kamu depan mereka, Yuli sengaja nyebar rumor kayak gitu, biarin aja” Ikha menghiburku, dia juga menambahkan kalau Yuli dan yang lain iri padaku. Baiklah maklum saja, semester kemarin juga aku yang maju lomba tari tradisional mewakili sekolah. Padahal aku dan Yuli berlatih bersama.

Hari-hariku semakin berat, kawan-kawan kelas mulai mengejek terus, sebelumnya tidak pernah begini, apa sebesar itu rasa irinya mereka padaku. Hari ini aku masuk telat, tapi aku tidak mendapat hukuman karena harus segera mengikuti pelajaran dan kembali mengerjakan soal-soal.

Tak seorangpun bertanya kenapa aku terlambat, meski aku sangat ingin bercerita. Tiba-tiba persaanku jadi kacau tak karuan, aku memberontak pada diri sendiri. Aku jadi benci pada diriku sendiri, siang ini aku tidak ikut kelas tambahan, aku pulang dan tidur.

Esok harinya, aku dipanggil pak guru, di tegur dan ditanya alasan kenapa aku tidak ikut kelas tambahan. Aku berbohong, ada acara bersama ayahku, pak guru menyuruh ayahku datang. Aku jadi marah, aku memang berbohong, tapi aku juga marah, aku jadi tak karuan. Setiap soal yang di berikan aku abaikan, aku tidak mau belajar dan melupakan semua materi.

Lomba pertama yang ku ikuti cerdas cermat, hanya lolos babak pertama, dan berikutnya tidak mendapat apa-apa. Berikutnya lomba sains, aku juga tidak mendapat apa-apa, aku bahkan hanya bisa mengerjakan satu soal. Pada lomba siswa berprestasi juga, aku sudah lelah, aku tak semangat mengerjakan soal, aku membiarkan lembar jawabanku kosong.

Sampai pada hari pengumuman lomba terakhir, aku tak bisa mendapat apa-apa. Guruku sangat kecewa, jelas nampak di wajahnya. Dia berkata padaku harusnya aku bisa, harusnya aku bisa maju sampai juara. Aku telah mengecewakannya, begitu juga beberapa guru lain. Mereka juga ikut berjuang, membantuku agar aku bisa meraih juara. Tapi kenyataan hatiku yang sedang marah karena kawanku yang sedikitpun tidak memberiku dukungan, membuatku menjadi egois.

Aku hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain yang juga bekerja keras, kini hanya ada penyesalan dalam diriku, menyesal mengapa kawanku membuatku lemah, menyesal mengapa aku tak bisa mengalahkan egoku, dan menyesal mengapa aku mempunyai lawan dari kawan dan egoku sendiri.



#Yogyakarta_10/11/2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar