Kawanku
Lawanku Egoku
Masuk
pada bulan penuh lomba ini dan itu, karena aku siswi yang mendapat peringkat
satu, mungkin akan terlibat, yah semester kemarin aku peringkat dua semester
ini yang baru ku lalui, aku peringkat satu, entah semester berikutnya aku dapat
berapa. Awal kelas ini, beberapa guru sibuk menyiapkan siswa-siswi nya untuk
ikut lomba.
Di
akhir pelajaran, guru membaca beberapa nama untuk dipanggil ke ruang kelas lain,
namaku paling awal di sebut. Aku dan yang lain pindah kelas, menunggu kabar apa
yang membuat kami dipanggil. Guru mengumumkan kami harus mengikuti kelas
tambahan untuk persiapan lomba, beberapa anak di bagi untuk lomba tertentu. Aku,
Puji, dan Yuli masuk kelompok sains, temanku ikha, fitri, dan Amin, masuk
kelompok olahraga.
Kelas
tambahan di mulai besok, kami di suruh mempersiapkannya. Keesokan hari di kelas
tambahan, ternyata ada beberapa siswa dari tingkat satu yang bergabung, semua
membawa bekal makan, sebelum kelas di mulai kami makan bersama, bertanya bekal
apa yang di bawa, saling bertukar makan dan menikmatinya bersama, ini lebih
menyenangkan dari yang ku bayangkan.
Aku
dan Yuli jadi lebih rajin belajar, menanyakan materi ini dan itu, melewati
hari-hari kelas tambahan dengan senang hati. Seminggu berlalu, guru mengumumkan
kabar baru, beberapa nama kembali di sebut, namaku masuk dalam daftar. Lima anak
yang disebut tetap mengikuti kelas tambahan, yang sudah tidak diikutkan lagi,
Yuli termasuk yang tidak ikut. Hanya aku dan Puji, serta beberapa dari kelas
lain.
Jam
istirahat, aku berniat ke kantin bersama Yuli dan yang lain, tapi pak guru
memanggilku, aku di beri lembaran soal untuk dikerjakan. “Aahh... aku harus mengerjakan ini, kalian ke kantin dulu deh,” “Huu...
Riska udah semakin sibuk sekarang.” Celoteh Yuli.
Aku
menoleh ke jendela kelas, melihat kawan-kawan sedang bergurau, aku kembali mengerjakan
soal-soal. Bel masuk kelas, aku menyerahkan soal dan jawaban itu ke pak guru,
dan mengikuti pelajaran selanjutnya.
Hari
berikutnya pelajaran olahraga, aku di panggil pak guru, ternyata aku harus ijin
tidak ikut olahraga, aku kembali belajar dan mengerjakan soal-soal, saat hendak
keluar kelas aku terhenti di depan pintu, Yuli dan kawan-kawan sedang
membicarakanku “harusnya Riska gak usah
sekolah disini, apa-apa Riska!! Dikit-dikit Riska..!!, udah kayak anak
kesayangan guru ajah !” suara Yuli terdengar penuh amarah, mungkin dia
kecewa karena tidak diikutkan dalam lomba, dan kata-katanya membuatku sedih.
Sampai
jam olahraga selesai aku masih di dalam kelas bersama pak guru, mengerjakan
tumpukan soal-soal. Teman-teman masuk kelas saat pak guru keluar, Yuli dan yang
lainnya menghampiriku “masih sibuk Ris ?
ciiee.. daritadi berduaan sama pak guru? Ngapain aja ?” Yuli bertanya
sekaligus mengejek, aku menghela nafas dan menjawab sedang mengerjakan soal. “kita mau ke kantin, kamu mau titip jajan
atau minum gak ?” tanya Yuli, aku menggeleng. Aku ragu apa dia masih
perduli atau hanya basa-basi.
Aku
juga bingung kenapa Puji masih mengikuti kegiatan kelas dengan normal,
sedangkan aku tidak. Tapi aku tidak mau menanyakannyua. “Riska..!!! lagi ngapain ? belajar atau pacaran sama pak guru ?!! hah..
haha..” kawan-kawan cowok mulai mengejekku. “Riska..? gak usah perduliin omongan mereka, tadi Yuli ngomongin kamu
depan mereka, Yuli sengaja nyebar rumor kayak gitu, biarin aja” Ikha
menghiburku, dia juga menambahkan kalau Yuli dan yang lain iri padaku. Baiklah maklum
saja, semester kemarin juga aku yang maju lomba tari tradisional mewakili
sekolah. Padahal aku dan Yuli berlatih bersama.
Hari-hariku
semakin berat, kawan-kawan kelas mulai mengejek terus, sebelumnya tidak pernah
begini, apa sebesar itu rasa irinya mereka padaku. Hari ini aku masuk telat,
tapi aku tidak mendapat hukuman karena harus segera mengikuti pelajaran dan
kembali mengerjakan soal-soal.
Tak
seorangpun bertanya kenapa aku terlambat, meski aku sangat ingin bercerita. Tiba-tiba
persaanku jadi kacau tak karuan, aku memberontak pada diri sendiri. Aku jadi
benci pada diriku sendiri, siang ini aku tidak ikut kelas tambahan, aku pulang
dan tidur.
Esok
harinya, aku dipanggil pak guru, di tegur dan ditanya alasan kenapa aku tidak
ikut kelas tambahan. Aku berbohong, ada acara bersama ayahku, pak guru menyuruh
ayahku datang. Aku jadi marah, aku memang berbohong, tapi aku juga marah, aku
jadi tak karuan. Setiap soal yang di berikan aku abaikan, aku tidak mau belajar
dan melupakan semua materi.
Lomba
pertama yang ku ikuti cerdas cermat, hanya lolos babak pertama, dan berikutnya
tidak mendapat apa-apa. Berikutnya lomba sains, aku juga tidak mendapat
apa-apa, aku bahkan hanya bisa mengerjakan satu soal. Pada lomba siswa
berprestasi juga, aku sudah lelah, aku tak semangat mengerjakan soal, aku
membiarkan lembar jawabanku kosong.
Sampai
pada hari pengumuman lomba terakhir, aku tak bisa mendapat apa-apa. Guruku sangat
kecewa, jelas nampak di wajahnya. Dia berkata padaku harusnya aku bisa,
harusnya aku bisa maju sampai juara. Aku telah mengecewakannya, begitu juga
beberapa guru lain. Mereka juga ikut berjuang, membantuku agar aku bisa meraih
juara. Tapi kenyataan hatiku yang sedang marah karena kawanku yang sedikitpun
tidak memberiku dukungan, membuatku menjadi egois.
Aku
hanya memikirkan diri sendiri tanpa memikirkan orang lain yang juga bekerja
keras, kini hanya ada penyesalan dalam diriku, menyesal mengapa kawanku
membuatku lemah, menyesal mengapa aku tak bisa mengalahkan egoku, dan menyesal
mengapa aku mempunyai lawan dari kawan dan egoku sendiri.
#Yogyakarta_10/11/2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar