Tampilkan postingan dengan label #CERBUNG. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #CERBUNG. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 April 2021

Diary "Suasana Hatimu"

Hari ini berjalan lancar dan membahagiakan meski selalu ada hal-hal yang menengangkan. Sepertinya kamu sedang ada masalah ya mas, sejak beberapa hari lalu, kamu dan atasan lainnya selalu rapat. Sekilas aku mendengar bahwa kamu harus bertanggungjawab atas sesuatu, mungkin itu kesalahan kerja. Tadi aku melihatmu mengendarai mobil dengan laju yang emosi. Mungkin suasana hatimu sedang tidak baik. Kamu yang ada dalam mobil tapi hatiku yang khawatir, jangan mengendarai mobil seperti itu mas, berhati-hatilah karena lajunya seperti ugal-ugalan.

Sore harinya kamu kembali, seseorang menghampirimu, tapi kamu sibuk jadi menyuruhnya untuk menemuiku saja. Ketika itu ada yang salah mas, kamu kemudian lari mengejar orang itu. Aku sudah cemas apakah akan menimbulkan masalah besar lagi. Kamu berjalan kearahku dengan wajah muram. Sangat berbeda dibanding dengan saat pertama kamu menjelaskan pekerjaan padaku, kali ini kamu menjelaskan dengan emosi.

Menegurku jangan sampai salah lagi, bahkan menaruh barang saja sampai kamu banting. Begitu buruk ya suasana hatimu saat itu? Maafkan aku yang belum memahami segala yang ada, aku akan melakukan semuanya dengan lebih baik lagi mas, semoga suasana hatimu lekas membaik ya. 



#imajinasi

Senin, 29 Maret 2021

Diary "Hari Pertamaku"

 Mas, hari ini aku berangkat untuk bekerja, namun aku berangkat ke tempat lain, tempat dimana aku tak lagi bisa melihatmu. Mas, kamu tahu? Hari pertama ini terasa sepi dan aku masih menimbang antara tempatmu dan tempatku saat ini. Jujur aku tak begitu semangat, tapi ini baru pertama, aku yakin kedepannya akan lebih baik. Sebenarnya aku takut, karena terbesit pertanyaan dalam hatiku, tapi aku takut, bahkan untuk mengatakannya dalam hati.

Pastinya kamu tidak akan merasa kehilangan, mungkin sedetik saja kamu menyadari tiadanya keberadaanku. Tapi itu bukan masalah bagimu. Berbeda dengan perasaanku, apakah semua akan baik-baik saja atau harus ada perubahan lagi. Disini tentunya lebih baik mas, aku tak begitu berkeringat, karena masih belajar dengan pekerjaan baru. Tapi aku tidak tertarik membahasnya. Pikiranku pergi ke tempatmu mas, apakah disana baik-baik saja. Apakah banyak canda tawa serta ketegangan seperti biasanya?

Disini aku belum mengenal siapapun, bahkan aku mendapat jadwal baru dalam jam kerja, pergi terang pulang gelap, begitu mas. Bagaimana teman-teman disana? Semoga semua baik-baik saja ya, dan semoga kamu menyadari ketiadaanku. 



#jogja #batang

Minggu, 27 September 2020

Mimpi Santa I

Asmara kemana lagi akan ku cari siapa yang kan mengusir sepi disaat ku sendiri asmara mungkinkah kau sampaikan padanya walau hatiku penuh derita aku masih selalu cinta..... (Asmara-Novia Kolopaking)

Santa menutup wajahnya menggunakan selimut menyembunyikan matanya yang sembab dan hidung yang memerah. Rian pulang lebih awal malam ini, pekerjaan hari ini tak sepadat biasanya. Gemericik air terdengar samar, Santa melepas headset yang terpasang di telinga, mematikan lagu yang tengah ia dengarkan dan kembali menutup dirinya dengan selimut. Santa tak berniat menyapa Rian dengan mata sembabnya., mungkin besok pagi saja.

Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari, Santa terbangun dari tidurnya, membalikkan tubuh dan menatap Rian, semua masih sama, seperti malam malam biasanya.. Menu sarapan sudah siap di meja makan, Rian bersiap menyantap hidangan untuk kemudian bergegas ke kantor. Santa menatap Rian hendak menanyakan sesuatu, namun dia ragu. Sebaiknya bertanya atau tidak kalau dia pulang lebih awal semalam, namun Santa bingung karena dia pura-pura sudah tidur. Tinggal suapan terakhir seperti biasa Rian memuji masakan Santa, nasi gorengnya enak, ditambah telor ceplok setengah matang, menu andalan Santa yang merupakan makanan favorit Rian.

Santa tersenyum, dia menawarkan lagi nasi goreng buatannya. Rian menolak karena harus segera berangkat. Santa membawakan tas Rian seraya mengantarnya sampai pintu. Tidak ada rencana apapun hari ini, seperti biasa, Santa menatap layar HP melihat lihat kegiatan teman-temannya yang dibagikan melalui sosial media. Oh iya ini hari Sabtu, beberapa orang menghabiskan waktu untuk jalan-jalan, berkumpul dengan keluarga, atau membelanjakan sesuatu. Santa tersenyum getir, matanya mulai berkaca, Rian harus bekerja dia jarang libur bahkan hari Minggu sekalipun. Bagi Rian pekerjaannya harus diutamakan, banyak lemburan yang dia ambil untuk tambah-tambah tabungan. Santa harus mengerti, Santa tidak lagi bekerja semenjak pindah rumah mengikuti Rian.

Tidak hanya pekerjaan, teman-teman dan keluargapun ia tinggalkan semua berada di Jogja, sedangkan kini ia harus tinggal di Malang mengikuti Rian. Sebenarnya Santa ingin kembali bekerja, namun beberapa lamarannya belum ada panggilan hingga akhirnya Rian menyuruh Santa untuk di rumah saja. Sudah hampir empat tahun pernikahannya dengan Rian, keduanya belum diberi momongan. Hal itu membuat Santa merasa canggung pada keluarga Rian, merasa tak sempurna dihadapan Rian, dan berusaha menahan kesedihan dari kedua orangtuanya.

Tiga tahun hari-harinya dilalui dengan duduk di sofa ruang tamu, menggeser geser menu HP, membaca, postingan sosial media, atau sesekali menonton film. Santa jarang keluar rumah, ia belum hafal betul jalan kota atau tempat wisata, mau pergi pun tak tahu harus dengan siapa, sesekali mengajak kawan lama namun nampaknya kesibukan jadi alasan. Masih membayangkan mimpi apa saja yang belum terwujud Santa meneteskan air mata. Entah harus mulai darimana lagi ia menata hidupnya agar nampak baik-baik saja. Ada badai berkecamuk dalam dadanya, terasa menusuk nusuk kepalanya, matanya kabur, dunia bak berputar lebih cepat. Santa menyenderkan tubuhnya mencoba menenangkan diri dan memejamkan mata.

Kepalanya masih pusing ketika Santa membuka mata, waktu menunjukkan pukul satu siang, Santa pergi ke warung membeli makanan dan obat sakit kepala. Rian pulang lebih awal lagi. Santa bangkit dari temoat tidur sembari memegangi kepalanya. Menyiapkan makan malam dan meminta Rian untuk libur esok hari. Rian bersikukuh tetap bekerja, ada hal yang harus dia capai. Santa mencoba membuka percakapan lebih dalam ia hendak membahas perihal anak dan sakit kepalanya yang akhir-akhir ini terus kambuh. Rian menyela ucapan Santa, dia tak ingin mengobrol panjang lebar malam ini. Besok harus kembali bekerja. Rian menyuruh Santa untuk santai saja di rumah, jika sudah waktunya Rian akan mulai memikirkan perihal anak., atau hal lain yang menjadi impian Santa.

Santa mengangguk, dan membereskan sisa makan malam. Kepalanya masih terasa berputar, Santa membaringkan tubuhnya. Pagi itu ibunya menelepon, Santa memegang kepalanya, ia enggan menjawab pertanyaan ibu. Sudah tidak bekerja apalagi yang dikerjakan kalau tidak mengurus anak. Harus ada usaha dan disegerakan, agar punya kesibukan dan tidak terlalu lambat untuk melahirkan. Santa tak tahu harus menjelaskan apa. Memang belum dikasih mau bagaimana lagi, kerjaan juga sudah diusahakan memang belum ada kesempatan lagi, Santa menjawab dengan suara bergetar.

Mencoba mencari kegiatan yang lebih produktif untuk mengalihkan pikiran negatif, Santa pergi ke taman kota. Sekeliling nampak lalu lalang kendaraan, setiap orang sibuk dengan segala aktivitasnya. Santa kembali menatap layar HP semua nampak baik-baik saja, keluarga, teman, tetangga, dan Rian. Kepalanya kembali terasa berputar, Santa memegangi kepalanya yang serasa ingin ia benturkan ke tembok. Santa menghubungi Rian. Lima kali panggilannya tak diangkat oleh Rian.

___
Santa terbaring dengan jarum infus menancap ditangannya. Matanya terpejam dengan wajah pucat, tidak ada gerakan sedikitpun. Rian menatapnya diam, tatapannya kosong, ia enggan mengalihkan pandangannya. Wanita paruh baya mendekat dan menarik tubuh lemas Rian, langkahnya terseret seret nampak tak ada tenaga sedikitpun untuk menegakkan kepalanya. Dia sakit, mungkin lebih dari itu tak hanya kepalanya yang sakit, perasaannya juga sakit, pikiran dan pribadinya sudah sakit. Orang perlu bicara, berbagai kisah dan saling menyemangati, Santa tidak punya teman bicara, dia kesepian, banyak hal tertahan di ujung kerongkongannya, beban dia tak nampak namun dia tumpuk dikepala dan dadanya. Kamu tahu? Orang yang kesepian, dia akan menjadi tua sendirian, sering menangis, tak bercahaya, banyak diam, dan akhirnya dia menemui sakit yang tak tertahankan.

Ibu Santa tak kuasa menahan tangis ia tak mampu melanjutkan kata-katanya. Ia menjauh dari Rian, beranjak pergi meninggalkan Rian yang terdiam.

Dokter menerangkan kalau Santa menderita aneurisma. Makin besar ia, makin mudah pecah karena makin tipis. Hanya menunggu waktu semoga ada keajaiban bagi Santa.

Senja itu bergemuruh, langit diangkasa seakan bergetar, dada Rian bagai tersambar kilat. Hujan mengguyur perasaan Rian, nafasnya tersengal, menurunkan tubuh Santa ke tempat peristirahatan terakhir. Isakan tangis mengiringi kepergian Santa. Kini ia tak lagi menangis sendiri. Namun ia tetap diam sampai akhir hidupnya.



Bumi 27 September 2020
@dwy_rr

Kamis, 23 November 2017

Wanita Penulis .4 (cerita si Tunanetra)



Wanita Penulis .4 (cerita si Tunanetra)



Hujan mengguyur kota di pagi hari, ahh.. aku sedikit trauma dengan hujan yang orang katakan ini merupakan hujan yang syahdu, tidak deras tidak juga kunjung reda, sedari gelap pagi tadi turun rintik-rintik bersamaan.

Jam menunjukkan pukul 10, aku ada janji dengan Ari, yahh.. tunanetra itu bernama Ari nama yang bagus dan singkat. Aku bersiap-siap menemuinya di tempat yang sudah di tentukan, semoga hujan cepat reda. Waah... di warung terlihat ramai pengunjung, entah karena hujan atau memang sudah kebiasaan, Ari duduk di kursi tanpa meja.

“kenapa duduk disini ?”

“oh..kan sedang menunggu kakak, jadi aku di sediakan kursi khusus, hehe..”

Mataku berkedip-kedip dan tersenyum mendengar jawaban Ari, pemiliki warung memang baik hati pada pelanggannya yang satu ini. Hujan belum juga reda, kami belum bisa pergi kemana-mana.

“namanya Riris, dia satu Universitas denganku, entah kapan pertama kali kita bertemu, mungkin sesekali papasan namun tak saling sadar”

Ari mulai menceritakan gadis itu, rasa-rasanya dia tengah curhat padaku, ahh.. aku harus merombak rencana ceritaku.

“tapi pertama kita berkenalan, itu di hari difabel Internasional, ia menjadi relawan di acara Lasik (layar bisik), aku ikut dalam acara itu dan bertemu dengan Riris”

“oohh .. dia jadi relawan ? apa yang membuat kalian jadi dekat ?”

“awalnya biasa, tanya-tanya dan ngobrol ringan, saat film diputar, Riris sangat antusias membisikkan setiap adegan di film itu, aku sangat terhibur”

Emm..... menarik, tapi bukankah setiap relawan seperti itu ..? bersikap baik, ramah dan perhatian pada difabel ?, aku bergumam dalam hati. “saat acara selesai dia mengajak pulang bareng, katanya arah tujuan kita sama, sepanjang perjalanan kami ngobrol banyak, dari situ lah kami menjadi dekat”

Ooohhh..... bagus relawan itu memang harus dekat dengan para difabel agar bisa lebih mengerti tentang mereka, lalu apa ? aku masih bergumam dalam hati.

“hari itu dia bercerita banyak tentang dirinya, selama kami dekat, ia selalu menceritakan apapun yang ia alami, dan aku setia mendengarkan.”

Aku mulai membuka laptopku mengetik setiap apa yang aku dengar, dan membuatnya menjadi kalimat-kalimat fantasi. Apapun ceritanya aku bisa memodifikasinya di rumah nanti.

“hal yang paling ia suka adalah bernyanyi, dia selalu bernyanyi dan menggerak-gerakkan tubuhku untuk menari, aku bisa mendengar nyanyiannya, tapi tak bisa melihat ia menari.”

Riris bercerita, sebelumnya ia tak pernah jadi relawan, beberapa waktu terakhir adalah hari-hari buruk untuknya, ia tak punya kawan yang benar-benar ada untuknya, berkenalan denga Ari, membuatnya senang bisa menemukan teman baru yang selalu ada untuk dia.

Setiap pulang kuliah, Riris dan Ari jalan bersama, makan bersama, belajar bersama, Riris nampak bahagia bisa bernyanyi dan didengar oleh Ari, ia akan memutar tubuhnya di bawah uluran tangan Ari, seperti sedang berdansa.
 
Suatu hari Riris bercerita, mengapa ia suka bersama Ari, Riris mengaku lega apabila ia mencurahkan segalanya pada Ari namun Ari tak melihat keadaan yang sebenarnya. Riris tak suka kawan-kawannya yang tidak perduli dengan kesedihannya. Riris tak bisa curhat pada kawan-kawannya, tapi Riris bisa curhat tentang segalanya pada Ari, banyak yang bilang nyanyian  Riris tak ada iramanya, tapi bagi Ari nyanyian Riris sangat menghibur. Sampai pada hari dimana Ari melupakan satu hal yang pernah Riris sampaikan

“aku ingin mendapat seorang teman, aku ingin punya teman yang selalu ada satu sama lain, membantu satu sama lain, mengerti satu sama lain dan saling mendukung, entah mengapa aku menjatuhkan pilihanku padamu, yang pasti aku ingin kita berteman, maksudku menekan kata berteman, apapun yang terjadi pada kita nanti, jangan pernah menaruh perasaan padaku, oke .. Ari ? kita hanya akan berteman selamanya”

Pesan Riris pada Ari yang sampai pada hari itu Ari melupakannya, entah apa yang membuatnya lupa, ia mempunyai perasaan lebih pada Riris, bahkan sebelumnya ia tak pernah merasakannya. Sejak ungkapan perasaan Ari pada Riris, entah apa yang terjadi pada Riris, ia hilang bak ditelan bumi, meski mereka satu kampus sekalipun, Riris tak pernah muncul di hidup Ari, atau mungkin ia tak ingin muncul di hadapannya. Sangat mudah untuk Riris menghindar, dan sangat sulit bagi Ari untuk menemukannya.

Saat itulah Ari mengerti kesalahannya, Riris hanya butuh teman, Riris hanya menginginkan seorang teman untuk selalu ada di hari-harinya. Sedangkan Ari yang tak pernah merasakan bahagia itu, terlalu jauh memupuk perasaannya. Tapi bulan demi bulan berlalu, tak ada yang kembali datang, tak ada kisah yang sama menghampiri, hanya Riris seorang yang menoreh kisah bahagia itu di hidup Ari.

Ari mengatakan pada dirinya, hey.. tunanetra sadar dirilah siapa dirimu, sejuta kelebihan yang kau miliki dan bahkan berusaha untuk kau tunjukkan, tak akan bisa menutupi satu kekuranganmu, yang meski tak ingin kau tunjukkan tapi semua orang tahu kekurangan itu. Mungkin tak ada masalah dengan kekurangan Ari bagi Riris karena ia hanya menganggapnya seorang teman, tapi akan berbeda jika Riris menganggapnya lebih, kekurangan itu tak akan mudah di terima.

“tapi apa yang salah ..? setiap orang diciptakan berpasang-pasang, pasti ada seseorang di luar sana yang diciptakan untukmu, meski bukan Riris, ia pasti jauh lebih baik, beberapa kali aku putus hubungan, mungkin beberapa kali juga akan terjadi padamu”. Aku tak terima atas sikap Riris dan berusaha menguatkan Ari. 

“hehe.... tidak mau kak ahh.. putus hubungan kok berkali-kali, cukup sekali saja bagiku, hehe...”.








#Yogyakarta/23/11/2017
 

Selasa, 21 November 2017

Wanita Penulis .3



Wanita Penulis .3

Pagi ini aku terusik dengan mimpi semalam, entah mimpi atau bukan atau sekedar khayalanku saja, tunanetra yang kemarin kuikuti hadir dalam mimpiku, mungkin karena aku terlalu memikirkannya hari kemarin.

Sudah kuputuskan, ia akan jadi tema tulisanku kali ini, bergegas menghabiskan roti lapis dan teh manis, aku segera menuju Universitas kemarin, yaahh... agak ekstrim memang menemukan seseorang yang tak kukenal di Universitas yang luas.

Setengah jam nongkrong di depan gerbang, belum ku temukan orang yang kucari, tak ada niatan untuk bertanya, kubiarkan semua berjalan begitu saja. Hmmmm..... belum juga kutemui sampai setengah hari.

Baiklah mungkin bukan hari ini, aku pergi ke tempat makan untuk istirahat dan mengisi energi. Belum juga pesananku datang, orang itu muncul dengan santai saat aku tak lagi bersemangat.

Aah......... haruskah aku kesana ?? belum selesai berfikir tubuhku beranjak mengejarnya. “awass.. ada besi !!” ku berteriak dan menarik tangannya. “oh.. terimakasih, tapi gak biasanya ada besi di jalan?” ia mengucapkan terimakasih dan bertanya bingung.

Jalan sedang di perbaiki jadi ada besi penghalang agar tidak ada yang melewatinya, ku jelaskan apa yang ku lihat padanya. Dia kembali berterimakasih dan memintaku untuk menunjukkan jalan yang bisa di lalui.

Haaaaaaa............... kesempatan !! ku tanya kemana dia akan pergi, dan menawarkan diri untuk mengantarnya, wahh.. tapi dia menolak dia merasa sudah biasa jalan sendiri.

Tak mau mengalah aku tetap mengantarnya, ku ajukan beberapa pertanyaan agar suasana jadi akrab. Di tengah perjalanan ia berhenti dan tertawa, duhh..... cacing-cacing di perutku sungguh kasar !!

Ia mengajak ku mampir di warung langganannya, dengan senang hati aku mengikutinya. Memang benar ia sudah hafal jalan, tak ada kendala kecuali besi tadi. Terimakasih besi ..? hehe..

Sembari menunggu makanan, aku memperkenalkan diri berbicara ini dan itu tak sungkan aku langsung mengatakan tujuanku untuk menulis cerita tentang dia. Yaah.. tanpa basa-basi aku ceritakan pula kejadian kemarin.

Ia merespon dengan baik, ia juga tak keberatan dengan kehadiranku. Tapi mengatakan hal lain yang membuatku bingung. “kakak ingin membuat cerita tentang aku? tentang bagaimana seorang tunanetra seperti ku bisa berjalan sendiri menuju kampus dan pulang ?” ia menanyakan pertanyaan yang membuatku agak canggung, apakah ia keberatan? “bagaimana kalau kita ganti temanya?, dibanding bagaimana aku bisa menghafal jalan, aku memiliki cerita yang lebih menawan.” Belum juga aku menjawab, ia melanjutkan kata-katanya.

Cerita lain? aku menegaskan kata-katanya, “ya.. aku pernah memiliki kisah yang indah sebelumnya, aku pernah mengalami cerita yang mungkin bagus untuk di tuliskan” kata-katanya membuatku berfikir, apa sebelumnya ia bisa melihat ?.

“kakak ingin menjadikan ku tema tulisan kakak, aku menerimanya, tapi bisakah kakak membantuku ?” dia bertanya agak serius padaku. Tanpa ragu ku jawab bisa saja jika aku sanggup.

“aku pernah mengenal seorang gadis yang membuat hidupku bahagia meski dalam waktu singkat, aku tak ingin menceritakan bagaimana aku bisa melanjutkan hidup disini dengan keadaanku seperti ini, aku ingin menceritakan kisahku dan gadis itu saja” ia mau membantuku tapi dengan cerita lain. Aku tak keberatan, karena ia juga sudah bersedia membantu.

Tapi sebelumnya aku menanyakan alasan kenapa ia ingin cerita tentang seorang gadis, apakah urusan asmara ? aku kurang tertarik sebenarnya.

“yaa... mungkin ada kisah asmara di dalamnya ? jika kakak menuliskan kisahnya itu akan membuat kenangan ku menjadi abadi dalam sebuah karya tulisan, apa seorang seperti ku tak pantas membicarakan asmara ?” kata-katanya membuatku kagum, hingga ku jawab aku tak bermaksud demikian, apapun itu aku akan mendengarkan ceritanya.

Makanan datang, kami menghentikan pembicaraan dan melahap makanan, dalam hati ku berkata, aahh... cerita seperti apa yang akan ia ceritakan, nampaknya aku harus mengganti judul cerita ku. Haaeemmm...






#Yogyakarta 21 November 2017