Kesetiaan di
Atas Segalanya
Hari ini dia tidak datang, sudah janjian jam delapan,
sekarang sudah jam sepuluh pasti dia tidak datang, Rara mengomel dalam hati,
sudah maklum kalau dia telat, tapi sampai tidak datang, Rara jengkel.
Setengah jam lagi, mungkin memang terlambat yang begitu
amat terlambat, yaahh.. menit-menit sudah berlalu, Rara tak tahan lagi, kakinya
sudah berasa merakar ke dalam tanah karena lama menunggu.
Namanya juga menunggu pasti lama, tapi menunggu yang
tidak pasti datang begini sangat menjengkelkan. Rara mengemasi barangnya dan
beranjak pergi. Sengaja dia tidak membuka hp atau menghubunginya sekedar
memastikan janji harus di tepati tak perlu tagih-menagih.
Sampai di kantor, Rara ngambek sapaan teman sejawatnya
tak ia gubris, bahkan panggilan dari atasannya. Ah,,, yang lain sudah maklum
dengan sikap dingin Rara sewaktu-waktu.
“dia ingkar
janji lagi .. ? dia tidak datang .. ?”
“yaa..
mungkin dia sibuk atau benar-benar tidak bisa datang”
“sudah
berapa kali ..? dan sudah berapa lama ..? ada yang tidak beres, meski dia sudah
kembali, sepertinya hanya jasadnya saja, jiwanya entah kemana..”
Rara tak lagi menanggapi kata-kata Bayu, baginya tak ada
yang aneh dengan Riko, mungkin dia memang sedang sibuk. Terakhir komunikasi pun
sehari yang lalu saat membuat janji ketemuan.
Sudah beberapa hari semenjak kepulangan Riko dari Jepang,
mereka belum bertemu, hanya sesekali berkomunikasi via telepon. Keduanya sudah
pacaran sejak lima tahun lalu, dan tak ada masalah apapun meski berhubungan
jarak jauh. Jarang bertemu dan jarang bertukar kabar. Hanya kepastian kesetiaan yang Rara pegang, tak perlu sampai harus telepon berjam jam atau memaksa meluangkan waktu bertemu.
Kali ini entah angin apa yang membuat Rara ragu, meski
berusaha keras tak memikirkan hal negatif, tapi angin keraguan itu terus
berhembus, dia pergi menemui Riko memastikan tak terjadi sesuatu.
Sampai ujung gang tepat depan rumahnya, mobil Riko melaju
pesat meninggalkan rumah, Rara berlari membenarkan itu mobil Riko atau bukan,
tapi memang betul itu mobilnya.
Rara menyetop taksi dan mengikuti mobil itu. Rupanya mobil berhenti di
restoran tidak terlalu jauh, ohh... dia menemui seorang wanita, Rara panas
dingin, pikirannya campur aduk haruskah ia melabrak atau bertanya baik-baik
atau pergi saja dari kenyataan itu.
Rara mengirim pesan pada Riko menanyakan keberadaan dan
sedang apa dia, sontak Rara kaget membaca balasan Riko, kebohongan yang
menjijikan, Rara memutuskan untuk pergi saja.
Rara belum tahu pasti bagaimana harus menyikapi kejadian hari ini. Ia tahu meski hubungan mereka sudah lima tahun berjalan, ternyata lamanya waktu malah memberi
dampak buruk bagi keduanya, kesetiaan di atas segalanya, Rara hampir tak mau bertemu lagi dengan
Riko. Seketika ia sadar, langkanya komunikasi keduanya membuat jarak menjadi lebih jauh. Bukan tidak mungkin wanita tadi hanya sekedar teman. Setia harus setia baginya tak ada teman yang jadi prioritas hingga Riko tak menepati janji temu dengan Rara.
Pisah dengan baik-baik saja pikir Rara, dia tak mau
ribut-ribut soal hubungannya. Lima tahun memang lama, tapi tak memberikan
kesan memupuk cinta lebih dalam malah menggerogoti cintanya sampai tak lagi mengenali, apakah perasaannya masih sama seperti dulu. Biar sakit asal tidak menjatuhkan diri,
yang baik akan bertemu yang baik, yang buruk tidak akan mendapat yang baik. Pikirannya campur aduk, ingin menyalahkan Riko, tapi ia belum tahu kebenarannya. Tidak, tak perlu dipikirkan lagi, ingkar janji, tidak menemuinya, dan malah bertemu dengan wanita lain, baginya sudah jadi masalah besar. Benar lima tahun berlalu, bukan memberi waktu untuk saling menerima dan mendalami cinta, ia hanya memberi waktu untuk untuk saling melupakan.
Rara masih bergumam dengan dirinya, baiklah ia akan diam, terserah apapun yang dijelaskan Riko, setia harus setia. Tepat janji juga adalah setia. Rara menatap dirinya di kaca, matanya tidak membendung airmata, hanya amarah yang memenuhi dada. Rasa itu sudah tak lagi sama.
#Yogyakarta01/12/2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar