Tampilkan postingan dengan label #malam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label #malam. Tampilkan semua postingan

Kamis, 17 Desember 2020

Air Luka

Bergetar kilat di angkasa, deras hujan mengguyur bumi dia masih terpaku dalam sunyi..

Hujan semakin deras, titik-titik air itu jatuh menggebu gebu, seakan inilah puncak penyimpanan hati..

Dia tak mampu mendongak dan membuka mata, butiran air yang lembek itu rupanya bisa menyakiti..

Serupa rasa yang pernah terukir dalam relung hati, ia begitu indah dan penuh harap pasti..

Hingga ukiran itu, semakin menyayat, menggores luka menciptakan tetesan darah tiada henti.. 




_____

Batang, Desember 2020


Minggu, 13 September 2020

Puisi Senja

Tadi masih terang bercahaya, bumi yang kupijak masih terlihat subur

Entah apa yang sudah kulalui, entah bagaimana hari ini berlalu pergi

Cahaya itu sudah meredup berganti warna, merah atau jingga disebutnya??

Senja... Sebut dia Senja. Kepakan sayap burung memanggil dia Senja

Mereka bilang senja indah? Banyak bait puisi tecipta dari senja??

Lalu kenapa puisiku terkesan suram, warnanya redup hampir menghitam

Remang-remang hingga gelap dominan menyertai hari ini,,hari yang segera berganti



_____

Jawa Tengah 13 Sepetember

Sabtu, 12 September 2020

Puisi "Malam Minggu"

 

Eh langit sudah gelap

Mataku mulai terlelap

Eh itu mereka berdua

Tangannya mulai meraba

Eh bintang di langit nampak bertebaran

Sama seperti mereka saling bergandengan

Eh Aku teguk lagi botol ditangan

Mulutku mengumpat pada setiap pasangan

Eh ini Malam Minggu..!!! 

Hanya aku yang duduk termangu

_______

Sabtu 12 September 2020

Jawa Tengah

Jumat, 11 September 2020

Komentar Dalam Hati

 

pinterest

Warna merah atau abu-abu ya, aku bergumam dalam hati menentukan warna baju yang akan ku kenakan ke pesta pernikahan teman. “10 menit lagi kita sampai dilokasi” ku baca pesan dari teman yang janjian datang bareng. “yuk jalan, siapa yang tahu jalan sini”. Aku mengegas pelan motorku memberi aba-aba disetiap belokan dan memperhatikan teman-teman yang melaju di belakangku. Kenapa acaranya sepi sekali, kenapa juga diadakan di rumah, oh ya kamu dapat undangannya? Aku cuma dikirimi pesan singkat. Aku ngga dapet undangan cetaknya tapi dapat undangan digitalnya. Eh aku malah dikasih tau Ica, katanya disuruh dia.

Begitu seterusnya teman-teman memperbincangkan sang pengantin wanita. Sesekali aku mendengarkan tapi tak menjawab apapun. Pandanganku mengawasi tiap meja, mencari seseorang yang mungkin aku cari. “Ris..!!!” aku menoleh mencari sumber suara. Afi teman Sekolah Dasar dulu, beberapa bulan lalu dia mampir ke rumahku bersama pacarnya.

“kamu udah lama disini?” tanyaku. “iya dari sore, aku nemenin Wulan. Aku ngirim pesan ke kamu Ris, biar kita sama-sama disini, Wulan ngga ada temennya”. Aku mengecek ponselku. “kamu sendiri” tanyaku melihat sekitar. “iya aku sendiri, makanya aku kirim pesan ke kamu”. Masih basa basi, aku bertanya “ngga sama pacar?”. “aku udah putus, udah lama malah”. Kaget, padahal hubungannya terlihat indah, dan sudah amat dekat. “sedih banget sumpah, tapi ya gimana lagi, dia udah sama yang lain”.

Aku berkomentar dalam hati, Wulan juga sempat putus, bahkan katanya musuhan, tapi tiba-tiba balikan sekalian nikah. Afi yang tanpa masalah dan keduanya bak tidak ada kekurangan satu sama lain, tiba-tiba putus. Komentarku terhenti, “Ris..!!! kamu kapan nyusul? Dari jaman sekolah katanya mau nikah paling dulu?”. Sentil kawan-kawan, aku hanya tersenyum namun lengkungannya kebawah. “ih capek banget ya, kerja di lapangan tiap hari kesana kemari ngejar target,” tapi kan gajinya lumayan, gumamku dalam hati. “loh lihat tuh Nia sampai sekarang belum ada panggilan, batuin gih biar cepet dapet kerja” “iya nih udah lama nganggur, kayaknya mamah udah mulai bosen lihat aku makan tidur, makan tidur doang”.

Tapi ... fotonya jalan-jalan terus, enak juga makan tidur, makan tidur, tapi duit buat jalan lancar terus, sinisku dalam hati. “kemarin aku dapat kabar dari Lila yang merantau, katanya sampai sekarang juga belum dapet kerja”. “loh terus biaya hidup dia selama disana, gimana”. Kan dia ada pacar disana, mungkin ikut pacarnya, aku menjawab dalam hati. “pengen keluar cari kerjaan yang nyaman, demi apa, atasanku sukanya marah-marah, enak banget cuma nyuruh-nyuruh, kalau ada kesalahan tinggal nglimpahin ke bawahan”. Ucapannya tegas menggambarkan kekecewaannya. “si Tata loh dia kan udah naik jabatan tuh, ya ampun sombongya ngga ketulungan,kemarin aku ketemu di depan cafe”. Sejak lahir juga dia udah sombong, aku terkekeh dalam hati. “mungkin ada transferan khusus” hahahahahah hahahah ahahaha...... tawa riuh ramai memecah suasana sepi disini. “kalian udah jenguk Vian, udah lahir tuh anaknya, tapi katanya pisah, trus anaknya dirawat kakek neneknya” hemmm itu kan kecelakaan, resiko nikah mudah juga begitu, ucapku dalam hati sambil manyun.

Wah wah semakin banyak saja perbincangan teman-temanku ini, aku hanya diam namun berdebat dalam hati. Aku menemui Wulan, basa basi biasa dan berpamitan. Teman-teman protes kenapa aku pergi duluan, aku berdalih ada janji dengan seseorang, hanya alasan supaya aku tidak terus berkomentar karena obrolan-obrolan mereka, bagaimanapun komentarku juga pedas dan begitulah kehidupan ini. Hingga aku melangkah berjarak dua meja, sudah terdengar lirih namaku disebut sebut. Mungkin akulah tema selanjutnya bagi pembicaraan mereka. Kali ini aku tidak ikut berkomentar.

 

 

11 September 2020

Jawa Tengah



Rabu, 09 September 2020

Rabbit Radio “Suara Malam”

 

“96 poin 9 Rabbit Radio, special for you..kembali bersama Riris yang akan menemani malam kalian selama 3jam kedepan dengan lagu-lagu kenangan pop rock pop melayu yang dapat pendengar request via sms di nomor 08967365733.. jangan lupa cantumkan nama, alamat, silahkan kirim-kirim salam untuk orang terkasih dan lagu keinginan pendengar, yuk sembari menunggu sms dari pendengar, Riris akan kasih sebuah lagu untuk membangkitkan semangat kita di malam ini, Poppy Mercury ft. Abiem Ngesti - Kugenggam Dunia,, special for you !!”

Waktu menunjukkan pukul 22.45, aku bergegas mengenakan jaket dan meraih tas jinjingku. Beberapa lampu sudah padam, ruangan terkesan remang-remang dengan kesunyian melengkapi malam ini. Tinggal empat orang di kantor, aku berpamitan dan melangkah keluar kantor. Sayup-sayup terdengar suara entah darimana terdengar seperti meneriakan nama ku.

“Riris..!! Riris,,,!! Sebelah sini..!!”

Aku menoleh kanan kiri mencari sumber suara. Tidak ada siapa pun, hanya sudut sudut gelap dan angin malam yang berhembus. Aku berjalan menuju parkiran motor, enggan memikirkan hal lain, aku fokus mencari letak motorku. Menyalakan mesin dan tancap gas, keluar gerbang seperti biasa disapa pak satpam dengan ucapan selamat malam. Ku balas dengan senyum dan anggukan kepala. Jalan sudah sepi, tentu ini bukan kali pertama, sudah hampir satu tahun bekerja disini, dua kali dalam seminggu dapat jadwal malam.

“Riris..!!”

Aku kaget dan menoleh ke belakang, aku sendirian di jalan ini, apakah halusinasi saja, aku bergumam dalam hati. Suaranya kali ini terdengar jelas dan keras, mungkin pikiranku sedang terganggu. Motorku tetap melaju, sesekali kembali kudengar suara-suara seolah memanggil namaku, suara riuh ramai seperti tengah ada perkumpulan didekatku. Mataku mulai sayu, pandanganku sedikit kabur. Ngantuk sekali rasanya, perjalanan masih sekitar 15 menit lagi.

“Riris...!!! Riris..!! ayo Ris..!!”

Apakah seseorang tengah menangis? Suaranya sesenggukan memanggil namaku, haruskah aku menghentikan laju motorku dan menenangkan diri. Aku tak kuat mataku ingin terpejam, ia hampir tertutup.

“Riris..!!!!!!!”

Mataku terbelalak, ku lihat beberapa orang disampingku, beberapa tidak ku kenal, dua lainnya ku kenal mereka adalah teman kerjaku, tubuhku terguncang beberapa orang fokus kedepan mereka tengah mendorong ku, aku tengah berbaring entah dimana, lampu-lampu lorong itu menyilaukan mataku, aku tak kuat mataku terus mengantuk. Mereka berteriak, satu orang melompat keatasku, ia menekan dadaku. Seseorang berteriak aku kehilangan banyak darah. Temanku berbicara via telepon menjelaskan kronologi kecelakaan yang mengerikan. Kali ini aku benar-benar tidak kuat lagi melihat dan mendengar. Semuanya semakin gelap dan sunyi. Aku tak lagi merasakan tubuhku, semuanya hilang dan tak dapat ku rasakan lagi.

 

#cerpen #fiksi #radio #suara #malam #jalan #rabbitradio

Selasa 8 September 2020

Jawa Tengah