Mimpi
Semalam
Mengingat
mimpi semalam, mencari-cari alurnya dari awal sampai akhir, aku menampilkannya
lagi di angan-anganku. Sempat terbangun dalam keadaan yang sama seperti dalam
mimpi, raut wajah sedih, menangis hingga terasa nyata dan terbawa dalam bangun
saat aku menangis dalam mimpi.
Teringat dengan
jelas pula malam itu listrik padam, lampu tiada yang bersinar, gelap gulita
menambah kecemasan yang di rundung pilu. Ku putar ingatanku lebih jauh sebelum
aku mendapat mimpi itu.
Sore hari
yang di selingi hujan sedari siang, suasana hati memang tengah galau, aku
memainkan hp jadul nokia seri 1208, yang aku miliki sejak sekolah menengah
pertama.
Aku membuka-buka
daftar kontak, tidak banyak yang tersimpan, hanya nomor ayah, ibu dan beberapa
saudara. Tetapi aku masih ingat daftar kontak di zaman sekolah dulu, aku ingat
tiga huruf nama seseorang yang sering berkirim pesan denganku.
Ya… aku
masih mengingatnya dengan jelas hanya tiga huruf. Ingatan itu keluar bersamaan
dengan air mata, masa sekolah yang menyenangkan hingga mengharukan.
Menjelang
tidur, aku memutar lagu jadul dari Rano Karno & Nella Regar yang berjudul ‘jangan
lagi kau menangis untuk ku’ suasana semakin sendu, hingga mimpi itu hadir dalam
malamku.
Seseorang
yang ku kenal baik, ia hadir dalam mimpiku membawa cerita nyata yang tengah
terjadi di antara kita, keadaan yang sama persis dalam nyata, ia datang padaku,
namun tak bisa ku temui, ia memberi pesan yang sama dalam nyata.
Aku ingat
jelas bagaimana adegan dalam mimpi itu. Aku ingat jelas siapa saja tokoh di
dalamnya, namun yang mengusik ku, sebelum mimpi itu datang, aku mengingat sosok
dengan tiga huruf yang ku ingat saat bermain hp.
Yang datang
dalam mimpiku bukan dia sosok yang ku ingat sebelumnya, yang datang dalam
mimpiku adalah orang lain yang beberapa tahun ini tidak aku ingat. Sama dengan
sosok itu iapun memiliki nama dengan tiga huruf.
Siapa yang
aku ingat sebelum tidurku, namun siapa yang hadir dalam mimpiku. Lebih mengusik
ku lagi, suasana mimpi yang sedih hingga menangis, di tengah sadar dan tidak
sadar aku merasakan tangisan yang nyata ada dalam raut wajahku malam itu.
Suara keras
dalam mimpi pula mengagetkan ku hingga terbangun dalam kegelapan, seakan
menentang cerita dalam mimpi, aku tak mau bangun hingga pagi, ku lanjutkan
mimpi ku dan merubahnya menjadi bahagia. Namun kesadaranku tak mengijinkan ku
melakukan itu.
#Yogyakarta
17 November 2017
Cerpen ini
juga tayang di
Tidak ada komentar:
Posting Komentar