Senin, 13 November 2017

cerbung " Kota Aurora part II "

Lanjutan..............




Kota Aurora part II



Air mulai surut, Rani memikirkan nasibnya dan masyarakat kota, jika cuaca ini tak bisa di atasi, orang-orang harus meninggalkan kota ini.  Rani mengacak-acak kamarnya, dia tidak bisa melihat dengan jelas, tidak cukup cahaya di kamarnya, dia meraba-raba rak buku, mencari sesuatu yang mungkin bisa membantu.

Tangannya menemukan lembaran peta, Rani berlari keluar rumah mencari penerangan agar bisa membaca peta itu. Kota Aurora di kelilingi air, hanya ada satu jembatan panjang yang menghubungkannya dengan kota lain.

Rani menemui Risa menjelaskan apa yang tengah ia pikirkan, “Rani..!! jembatan itu tengah rusak dan belum ada perbaikan, kita hanya mengandalkan jalur air dan udara beberapa tahun ini” Risa meragukan rencana Rani, tapi Rani terus menetapkan temuannya, “kita tidak bisa naik kapal karena gelombang tinggi, kita juga tidak naik pesawat karena cuaca buruk, satu-satunya jalan adalah jembatan itu.”

Berita pesawat evakuasi telah menyebar di seluruh kota, semua masyarakat panik dan marah, kenapa hanya ada satu pesawat evakuasi, kenapa tidak mengumumkannya sejak awal. Masayrakat mendesak Walikota untuk bertanggungjawab atas nasib para masyarakat.

Di hari keberangkatan pesawat itu, Rani datang ke bandara, namun para petugas mencegahnya masuk, para masyarakat juga memaksa masuk dan ingin naik pesawat itu, tapi penjagaan begitu ketat, tubuh Rani terdorong dan jatuh, bersamaan dengan jatuhnya air mata yang membasahi pipi.

Rani lemas tak sanggup bangun, ia sedih atas sikap Riko yang mengabaikannya di tengah keadaan seperti ini, Rani sedih Riko akan pergi tanpa penjelasan apapun. Risa membantunya berdiri sembari menenangkan Rani yang menangis tersedu-sedu.

Orang-orang meratapi nasibnya, berserah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada mereka, dari kejauhan terdengar teriakan untuk berkumpul, pak Walikota akan  menyampaikan pesannya, semua kaget Walikota masih ada disini.

Walikota itu menyampaikan permintaan maaf, dan penyesalan, ia berjanji akan tetap melindungi warganya, meski tak banyak yang bisa dilakukan ia akan tetap tinggal bersama warganya.

Seseorang maju ke podium dan mulai menyampaikan informasi, Riko.. yaa, dia adalah Riko, dia mengumumkan pada masyarakat untuk berjalan menuju jembatan merah, jika semua bisa melaluinya maka semua akan selamat.

Rencananya sama dengan apa yang di pikirkan Rani, Rani tak percaya Riko masih disini. Rani menutup wajah dan mengusap-usapnya mencoba menyadarkan diri. Riko menghampirinya, memegang tangannya dan meminta maaf, membuatnya menunggu sangat lama.

Riko tidak naik pesawat itu karena tak mau meninggalkan kekasihnya dan orang-orang yang ada disini, ia dan Walikota telah memutuskan untuk mencari jalan untuk menyelamatkan seluruh warga tanpa terkecuali.

Perjalanan di mulai, hujan kembali mengguyur kota, butuh berhari-hari agar sampai di pinggir kota, air sudah sampai pinggang, menghambat langkah kaki yang kaku karena kedinginan.

Tak banyak yang kuat dalam perjalanan ini, beberapa warga tumbang. Langkah mereka terhenti, semua bingung mencari-cari dimana letak jembatan itu, Riko mencari-cari dan menemukan tiang besar yang merupakan ujung dari jembatan itu.

Jembatan telah terendam air, entah bagian mana jembatan yang rusak, jembatan itu tak terlihat hanya ada air dimana-mana. Rani memberi saran untuk tetap menyebarang, semua harus bergantung pada tali jembatan itu meraih apapun yang ada di jembatan, dan berjalan menyebranginya.

Tak ada pilihan lain, semua mengikuti saran Rani, saling berjajar dan mulai meraba-raba sesuatu sebagai pegangan. Banyak yang tak kuat dengan perjalanan itu, Walikota merasa sangat sedih karena sebagian warganya tak dapat terselamatkan.

Gelombang air semakin tinggi, angin kencang semakin menjadi-jadi, tak banyak yang masih bertahan di tengah air, di terjang ombak, di guyur hujan, di serang angin kencang, mustahil untuk bertahan lama dalam keadaan seperti ini.

Setidaknya tak ada yang tenggelam, semua memakai pelampung, apapun yang terjadi kita akan di temukan. Angin semakin ribut orang-orang terlepas dari pegangannya, terombang-ambing dan terpisah-pisah, semua berteriak minta tolong, semua ketakutan, tak ada yang bisa di lakukan selain memasrahkan diri.

Riko memegang erat tangan Rani, Riko meminta maaf tak ada di sampingnya selama ini, Riko juga menjelaskan dia menolak perjodohan itu, Riko juga menolak naik pesawat itu, selama bekerja menyelesaikan pesawat, Riko hanya memikirkan Rani. Sekarang apapun yang terjadi, Riko akan tetap bersama Rani tangannya tak melepas genggaman tangan Rani.

Rani tak mampu lagi menjawab, matanya berat, sekujur tubuhnya kaku, dia tak mampu membuka matanya, wajahnya pucat, bibirnya membiru. Riko tak kuasa melihat Rani tak bergerak, Riko mulai terpejam, dia berharap ketika matanya terbuka, ini semua hanyalah mimpi, tak ada kota Aurora.


-tamat-




#Yogyakarta_13/11/2017



Tidak ada komentar:

Posting Komentar