Lanjutan..............
Kota
Aurora part II
Air
mulai surut, Rani memikirkan nasibnya dan masyarakat kota, jika cuaca ini tak
bisa di atasi, orang-orang harus meninggalkan kota ini. Rani mengacak-acak kamarnya, dia tidak bisa
melihat dengan jelas, tidak cukup cahaya di kamarnya, dia meraba-raba rak buku,
mencari sesuatu yang mungkin bisa membantu.
Tangannya
menemukan lembaran peta, Rani berlari keluar rumah mencari penerangan agar bisa
membaca peta itu. Kota Aurora di kelilingi air, hanya ada satu jembatan panjang
yang menghubungkannya dengan kota lain.
Rani
menemui Risa menjelaskan apa yang tengah ia pikirkan, “Rani..!! jembatan itu tengah rusak dan belum ada perbaikan, kita hanya
mengandalkan jalur air dan udara beberapa tahun ini” Risa meragukan rencana
Rani, tapi Rani terus menetapkan temuannya, “kita
tidak bisa naik kapal karena gelombang tinggi, kita juga tidak naik pesawat
karena cuaca buruk, satu-satunya jalan adalah jembatan itu.”
Berita
pesawat evakuasi telah menyebar di seluruh kota, semua masyarakat panik dan
marah, kenapa hanya ada satu pesawat evakuasi, kenapa tidak mengumumkannya
sejak awal. Masayrakat mendesak Walikota untuk bertanggungjawab atas nasib para
masyarakat.
Di
hari keberangkatan pesawat itu, Rani datang ke bandara, namun para petugas
mencegahnya masuk, para masyarakat juga memaksa masuk dan ingin naik pesawat
itu, tapi penjagaan begitu ketat, tubuh Rani terdorong dan jatuh, bersamaan
dengan jatuhnya air mata yang membasahi pipi.
Rani
lemas tak sanggup bangun, ia sedih atas sikap Riko yang mengabaikannya di
tengah keadaan seperti ini, Rani sedih Riko akan pergi tanpa penjelasan apapun.
Risa membantunya berdiri sembari menenangkan Rani yang menangis tersedu-sedu.
Orang-orang
meratapi nasibnya, berserah pasrah dengan apa yang akan terjadi pada mereka,
dari kejauhan terdengar teriakan untuk berkumpul, pak Walikota akan menyampaikan pesannya, semua kaget Walikota
masih ada disini.
Walikota
itu menyampaikan permintaan maaf, dan penyesalan, ia berjanji akan tetap
melindungi warganya, meski tak banyak yang bisa dilakukan ia akan tetap tinggal
bersama warganya.
Seseorang
maju ke podium dan mulai menyampaikan informasi, Riko.. yaa, dia adalah Riko,
dia mengumumkan pada masyarakat untuk berjalan menuju jembatan merah, jika
semua bisa melaluinya maka semua akan selamat.
Rencananya
sama dengan apa yang di pikirkan Rani, Rani tak percaya Riko masih disini. Rani
menutup wajah dan mengusap-usapnya mencoba menyadarkan diri. Riko menghampirinya,
memegang tangannya dan meminta maaf, membuatnya menunggu sangat lama.
Riko
tidak naik pesawat itu karena tak mau meninggalkan kekasihnya dan orang-orang
yang ada disini, ia dan Walikota telah memutuskan untuk mencari jalan untuk
menyelamatkan seluruh warga tanpa terkecuali.
Perjalanan
di mulai, hujan kembali mengguyur kota, butuh berhari-hari agar sampai di
pinggir kota, air sudah sampai pinggang, menghambat langkah kaki yang kaku
karena kedinginan.
Tak
banyak yang kuat dalam perjalanan ini, beberapa warga tumbang. Langkah mereka
terhenti, semua bingung mencari-cari dimana letak jembatan itu, Riko
mencari-cari dan menemukan tiang besar yang merupakan ujung dari jembatan itu.
Jembatan
telah terendam air, entah bagian mana jembatan yang rusak, jembatan itu tak
terlihat hanya ada air dimana-mana. Rani memberi saran untuk tetap menyebarang,
semua harus bergantung pada tali jembatan itu meraih apapun yang ada di
jembatan, dan berjalan menyebranginya.
Tak
ada pilihan lain, semua mengikuti saran Rani, saling berjajar dan mulai
meraba-raba sesuatu sebagai pegangan. Banyak yang tak kuat dengan perjalanan
itu, Walikota merasa sangat sedih karena sebagian warganya tak dapat
terselamatkan.
Gelombang
air semakin tinggi, angin kencang semakin menjadi-jadi, tak banyak yang masih
bertahan di tengah air, di terjang ombak, di guyur hujan, di serang angin
kencang, mustahil untuk bertahan lama dalam keadaan seperti ini.
Setidaknya
tak ada yang tenggelam, semua memakai pelampung, apapun yang terjadi kita akan
di temukan. Angin semakin ribut orang-orang terlepas dari pegangannya,
terombang-ambing dan terpisah-pisah, semua berteriak minta tolong, semua
ketakutan, tak ada yang bisa di lakukan selain memasrahkan diri.
Riko
memegang erat tangan Rani, Riko meminta maaf tak ada di sampingnya selama ini,
Riko juga menjelaskan dia menolak perjodohan itu, Riko juga menolak naik
pesawat itu, selama bekerja menyelesaikan pesawat, Riko hanya memikirkan Rani.
Sekarang apapun yang terjadi, Riko akan tetap bersama Rani tangannya tak melepas
genggaman tangan Rani.
Rani
tak mampu lagi menjawab, matanya berat, sekujur tubuhnya kaku, dia tak mampu
membuka matanya, wajahnya pucat, bibirnya membiru. Riko tak kuasa melihat Rani
tak bergerak, Riko mulai terpejam, dia berharap ketika matanya terbuka, ini
semua hanyalah mimpi, tak ada kota Aurora.
-tamat-
#Yogyakarta_13/11/2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar