Kota
Aurora
Rani
sedang memasak untuk sarapan pagi, sembari mendengarkan berita di tv, dia
mendengarkan dengan seksama berita yang menyangkut keselamatan kotanya, awan
hitam masih menyelimuti kota, tidak ada sinar matahari, padahal ini sudah
berlangsung selama dua bulan.
Walikota
menyampaikan pada masyarakat agar jangan terlalu cemas dan panik, fenomena alam
ini sedang dalam penelitian yang memerlukan waktu lama. Ia meminta doa agar ini
tidak berkepanjangan dan segera berkahir.
Selesai
dengan telur gulungnya, Rani melahap dengan cepat, ia mencari teleponnya, dan
berbicara pada Risa, “sudah ada
perkembangan ?” Rani bertanya dengan suara yang sedikit cemas. “Tim cuaca sudah melakukan pengukuran suhu,
dan mengirim pesan pada kantor pusat, tapi belum ada perkembangan.” Risa
menjawab dengan nada menyesal.
Sudah
dua bulan awan hitam menyelimuti kota Aurora, penelitian baru di lakukan dua
minggu lalu, tapi tak ada perkembangan, Rani menghela nafas, dan bergegas pergi
ke kantor. Rani bekerja di layanan pengaduan masyarakat, hari ini dia sangat
sibuk mengangkat telepon dan membaca surat, sesekali ia terjun langsung untuk
menenangkan masyarakat yang mulai resah.
Rani
menatap teleponnya, ia menunggu seseorang yang sedari dua minggu lalu tak
pernah mengabarinya. Rani penasaran apa yang Riko lakukan, kenapa belum juga
mengabari perkembangan penelitiannya.
Seketika
kantor gelap, tak ada cahaya, semua panik, nampaknya listrik seluruh kota
padam, masyarakat panik apa yang tengah terjadi di kota ini. Seluruh sambungan
telepon mati, tidak ada koneksi.
Rani
keluar kantor menuju laboratorium tempat Riko bekerja, disana juga nampak
gelap, Rani bertanya bisakah ia bertemu dengan Riko. Tapi tak seorangpun di
ijinkan masuk, Rani keluar dengan rasa kecewa, banyak pertanyaan yang ingin ia
ajukan pada lelaki yang ia cintai itu.
Seharian
tak ada cahaya lampu di kota Aurora, sebagian masyarakat berkumpul di titik
evakuasi, berharap tidak akan terjadi hal buruk, beberapa orang menyalakan api
unggun untuk menghangatkan tubuhnya, nampak raut kecemasan di wajah para
masyarakat itu.
Rani
menghampiri mereka memberi informasi yang dapat membuat mereka sedikit tenang.
Rani duduk terdiam, mengingat berita perjodohan Riko dan anak Walikota, Riko
belum memberikan penjelasannya, tapi ia menghilang di sibukkan dengan keadaan
kota yang mencemaskan ini.
Rani
juga penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada cuaca kota selama dua bulan
ini, mengapa Riko dan tim nya belum menemukan penyebab dan solusi. Jika ini
terus berlanjut apa yang akan terjadi pada kota ini, banyak pertanyaan yang
berputar-putar di kepala Rani.
Kegelapan
ini terjadi beehari-hari, orang-orang mulai bingung, dan tak tahu jam berapa
sekarang, siang atau malam, pagi atau sore, semua semakin cemas. Kegiatan
sehari-hari mulai terhambat, tak ada yang bisa bekerja, masyarakat mulai
kesulitan mendapat makanan.
Risa
mendatangi rumah Rani, ia bertanya apa Riko sudah mengabarinya soal pesawat
evakuasi ? Rani tak tahu apa-apa, Riko tak pernah menghubunginya. Tim ramalan
cuaca tak bisa memecahkan masalah ini, mereka tak menemukan jawaban apapun,
sejak seminggu lalu mereka memutuskan untuk membuat pesawat evakuasi yang akan
membawa orang-orang pergi dari kota ini.
Rani
terkejut dengan kabar itu, apa yang terjadi jika kita tidak pergi ?, “entahlah mungkin kota ini tak lama lagi
akan terjadi bencana atau akan hancur” Risa berasumsi, bahwa kota ini tak
lagi bisa di selamatkan. “Di tengah
kegelapan dan terhentinya seluruh koneksi, bagaimana mereka bisa membuat
pesawat ?” Rani penasaran dan bingung, apakah mereka akan berhasil.
Keadaan
kota semakin parah, masyarakat kekurangan makanan tak ada bantuan yang datang,
kota Aurora hilang kontak dengan dunia luar, tak ada yang tahu kami mengalami
kesulitan, stasiun, terminal, pelabuhan dan bandara tak bisa beroperasi.
Rani
mencoba menemui Riko menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi para petugas
tak memperbolehkan Rani masuk, kilat menyambar-nyambar, suara petir membuat
suasana kota semakin mencekam, ada apa lagi ini..!! semua orang panik.
Hujan
deras di sertai angin kencang mengguyur kota, cuacanya semakin buruk, hujan ini
bertahan lebih lama dari dugaan, seminggu berlalu belum juga reda, air mulai
menggenang, beberapa sudut kota di penuhi air, jika hujan tak segera reda kota
akan tenggelam.
Walikota
menyampaikan pidato di tengah masyarakat yang cemas, ia berusaha meyakinkan
masyarakat untuk tetap tenang dan akan menyelamatkan mereka. Tapi Rani heran,
kenapa Walikota tidak menyinggung soal pesawat itu?.
Enam
bulan berlalu, Rani bertemu dengan Risa, ia menangis ketakutan, Rani bertanya
apa yang terjadi, kita tidak akan selamat !! Rani tidak mengerti dengan
kata-kata Risa, Risa menjelaskan pesawat itu sudah siap, tapi tak semua orang
bisa naik pesawat itu.
Rani
meminta Risa menjelaskan lebih detail. Risa kembali menjelaskan pesawat itu
sudah di rancang sejak lama, ia akan menyelamatkan penumpangnya meski terbang
di cuasa yang buruk, pesawat itu hanya mampu menampung seratus duapuluh orang.
Pak Walikota sudah memberikan daftar penumpang itu, kita tidak ada dalam
daftar.
Rani
melihat daftar penumpang, dia melihat nama Riko masuk dalam daftar, apa karena
perjodohan itu ? Rani terdiam, apa yang akan terjadi selanjutnya, jika kita
tidak pergi dan tak ada yang tahu bagaimana mengatasi cuaca ini, apa yang akan
terjadi ?.
Tak
banyak masyarakat yang tahu tentang pesawat itu, hanya orang-orang berpengaruh
yang mengetahuinya, Walikota juga tidak pernah mengumumkannya secara langsung
pada masyarakat.
“Lalu kapan pesawat itu akan
kembali menjemput yang lain ?” Rani mempertanyakan semoga masih
ada harapan, “tidak ada kepastian untuk
itu” Risa menjawab dengan nada rendah.
#bersambung...........................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar