Senin, 13 November 2017

cerbung "Kota Aurora"



Kota Aurora

Rani sedang memasak untuk sarapan pagi, sembari mendengarkan berita di tv, dia mendengarkan dengan seksama berita yang menyangkut keselamatan kotanya, awan hitam masih menyelimuti kota, tidak ada sinar matahari, padahal ini sudah berlangsung selama dua bulan.

Walikota menyampaikan pada masyarakat agar jangan terlalu cemas dan panik, fenomena alam ini sedang dalam penelitian yang memerlukan waktu lama. Ia meminta doa agar ini tidak berkepanjangan dan segera berkahir.

Selesai dengan telur gulungnya, Rani melahap dengan cepat, ia mencari teleponnya, dan berbicara pada Risa, “sudah ada perkembangan ?” Rani bertanya dengan suara yang sedikit cemas. “Tim cuaca sudah melakukan pengukuran suhu, dan mengirim pesan pada kantor pusat, tapi belum ada perkembangan.” Risa menjawab dengan nada menyesal.

Sudah dua bulan awan hitam menyelimuti kota Aurora, penelitian baru di lakukan dua minggu lalu, tapi tak ada perkembangan, Rani menghela nafas, dan bergegas pergi ke kantor. Rani bekerja di layanan pengaduan masyarakat, hari ini dia sangat sibuk mengangkat telepon dan membaca surat, sesekali ia terjun langsung untuk menenangkan masyarakat yang mulai resah.

Rani menatap teleponnya, ia menunggu seseorang yang sedari dua minggu lalu tak pernah mengabarinya. Rani penasaran apa yang Riko lakukan, kenapa belum juga mengabari perkembangan penelitiannya.

Seketika kantor gelap, tak ada cahaya, semua panik, nampaknya listrik seluruh kota padam, masyarakat panik apa yang tengah terjadi di kota ini. Seluruh sambungan telepon mati, tidak ada koneksi.

Rani keluar kantor menuju laboratorium tempat Riko bekerja, disana juga nampak gelap, Rani bertanya bisakah ia bertemu dengan Riko. Tapi tak seorangpun di ijinkan masuk, Rani keluar dengan rasa kecewa, banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan pada lelaki yang ia cintai itu.

Seharian tak ada cahaya lampu di kota Aurora, sebagian masyarakat berkumpul di titik evakuasi, berharap tidak akan terjadi hal buruk, beberapa orang menyalakan api unggun untuk menghangatkan tubuhnya, nampak raut kecemasan di wajah para masyarakat itu.

Rani menghampiri mereka memberi informasi yang dapat membuat mereka sedikit tenang. Rani duduk terdiam, mengingat berita perjodohan Riko dan anak Walikota, Riko belum memberikan penjelasannya, tapi ia menghilang di sibukkan dengan keadaan kota yang mencemaskan ini.

Rani juga penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada cuaca kota selama dua bulan ini, mengapa Riko dan tim nya belum menemukan penyebab dan solusi. Jika ini terus berlanjut apa yang akan terjadi pada kota ini, banyak pertanyaan yang berputar-putar di kepala Rani.

Kegelapan ini terjadi beehari-hari, orang-orang mulai bingung, dan tak tahu jam berapa sekarang, siang atau malam, pagi atau sore, semua semakin cemas. Kegiatan sehari-hari mulai terhambat, tak ada yang bisa bekerja, masyarakat mulai kesulitan mendapat makanan.

Risa mendatangi rumah Rani, ia bertanya apa Riko sudah mengabarinya soal pesawat evakuasi ? Rani tak tahu apa-apa, Riko tak pernah menghubunginya. Tim ramalan cuaca tak bisa memecahkan masalah ini, mereka tak menemukan jawaban apapun, sejak seminggu lalu mereka memutuskan untuk membuat pesawat evakuasi yang akan membawa orang-orang pergi dari kota ini.

Rani terkejut dengan kabar itu, apa yang terjadi jika kita tidak pergi ?, “entahlah mungkin kota ini tak lama lagi akan terjadi bencana atau akan hancur” Risa berasumsi, bahwa kota ini tak lagi bisa di selamatkan. “Di tengah kegelapan dan terhentinya seluruh koneksi, bagaimana mereka bisa membuat pesawat ?” Rani penasaran dan bingung, apakah mereka akan berhasil.

Keadaan kota semakin parah, masyarakat kekurangan makanan tak ada bantuan yang datang, kota Aurora hilang kontak dengan dunia luar, tak ada yang tahu kami mengalami kesulitan, stasiun, terminal, pelabuhan dan bandara tak bisa beroperasi.

Rani mencoba menemui Riko menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, tapi para petugas tak memperbolehkan Rani masuk, kilat menyambar-nyambar, suara petir membuat suasana kota semakin mencekam, ada apa lagi ini..!! semua orang panik.

Hujan deras di sertai angin kencang mengguyur kota, cuacanya semakin buruk, hujan ini bertahan lebih lama dari dugaan, seminggu berlalu belum juga reda, air mulai menggenang, beberapa sudut kota di penuhi air, jika hujan tak segera reda kota akan tenggelam.

Walikota menyampaikan pidato di tengah masyarakat yang cemas, ia berusaha meyakinkan masyarakat untuk tetap tenang dan akan menyelamatkan mereka. Tapi Rani heran, kenapa Walikota tidak menyinggung soal pesawat itu?.

Enam bulan berlalu, Rani bertemu dengan Risa, ia menangis ketakutan, Rani bertanya apa yang terjadi, kita tidak akan selamat !! Rani tidak mengerti dengan kata-kata Risa, Risa menjelaskan pesawat itu sudah siap, tapi tak semua orang bisa naik pesawat itu.

Rani meminta Risa menjelaskan lebih detail. Risa kembali menjelaskan pesawat itu sudah di rancang sejak lama, ia akan menyelamatkan penumpangnya meski terbang di cuasa yang buruk, pesawat itu hanya mampu menampung seratus duapuluh orang. Pak Walikota sudah memberikan daftar penumpang itu, kita tidak ada dalam daftar.

Rani melihat daftar penumpang, dia melihat nama Riko masuk dalam daftar, apa karena perjodohan itu ? Rani terdiam, apa yang akan terjadi selanjutnya, jika kita tidak pergi dan tak ada yang tahu bagaimana mengatasi cuaca ini, apa yang akan terjadi ?.

Tak banyak masyarakat yang tahu tentang pesawat itu, hanya orang-orang berpengaruh yang mengetahuinya, Walikota juga tidak pernah mengumumkannya secara langsung pada masyarakat.

“Lalu kapan pesawat itu akan kembali menjemput yang lain ?” Rani mempertanyakan semoga masih ada harapan, “tidak ada kepastian untuk itu” Risa menjawab dengan nada rendah.



#bersambung...........................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar