Bus
Sekolah
Jadi
siswi baru di sekolah menengah atas membuatku banyak berimajinasi tentang
berbagai hal, hari ini memakai rok abu-abu dan di pandang sebagai siswi SMA
yang menawan.
Yaahh…
aku masih ingat kala aku masih duduk di sekolah dasar, sepulang dari pasar
menemani ibu untuk berbelanja, duduk di samping dua siswi SMA yang mengobrol
seru, ada beberapa istilah yang tidak aku mengerti, tapi mendengar obrolan
mereka sepertinya sangat menarik.
Imajinasiku
bergerak, andai nanti aku jadi siswi SMA mungkin aku akan seperti mereka,
pulang sekolah naik bus bersama teman-teman, mengobrol ceria membahas tentang
sekolah dan kisah cinta.
Tidak
butuh waktu lama untuk mewujudkannya, entah kemana hari-hari kemarin pergi, aku
sudah berada di sekolah ini. Meski belum ada hal istimewa terjadi, aku berusaha
membuat hariku indah dan bersemangat.
Berangkat
pagi agar tidak terlambat, berada di pinggir jalan tepat pada jam keberangkatan
bus yang sama, menghirup udara pagi yang masih sepi kendaraan. Jam enam lebih
sepuluh bus langganan akan lewat, warnanya hijau dengan kondektur ramah, supir
yang asik dan selalu memutar lagu-lagu pop.
Kursi
langganan pula, aku duduk di kursi samping jendela. Butuh lima belas menit
untuk sampai di sekolah, sepanjang perjalanan mendengarkan musik, dan melihat
pemandangan pagi, betapa banyak anak-anak yang berangkat sekolah.
Belum ada
yang istimewa dalam sekolah, kecuali teman-teman baru yang menyenangkan.
Beberapa siswsi memperhatikan kaka kelasnya, tebar-tebar pesona agar dapat perhatian.
Entahlah,
sesuatu yang ku cari belum aku temukan,, menjadi siswi SMA tak se hebat yang
aku bayangkan. Sama saja belajar, mengerjakan tugas, ulangan, upacara dan
kegiatan sekolah lainnya.
Pulang
sekolah naik bus langganan yang sama, tapi tak ada yang menarik untuk di
bicarakan bersama teman-teman. Aku memilih duduk sendiri dekat jendela,
meletakkan daguku ke jendela, melihat sekeliling siswa-siswi yang menggunakan
seragam sekolah masing-masing.
Berbagai
raut wajah terlihat, letih, lelah, capek, ngantuk, di sisi lain terlihat ceria,
ekspresif, bersemangat dan banyaaakkk raut wajah lain yang terlihat. Para
motivator berteriak jadilah pemain jangan hanya jadi penonton.
Aku
tersenyum tentu saja aku setuju, namun karena saat ini aku belum mendapat peran
utama, aku putuskan untuk jadi penonton lebih dulu, belajar dari orang-orang
yang kuperhatikan.
Jauh
meninggalkan lingkungan sekolah aku masih berada pada posisiku sampai hp ku
berdering tanda pesan masuk, “jangan
menengok keluar jendela terus, nanti masuk angin” pesan yang membuatku
terkejut agak aneh.
Nomor
tidak di kenal, ku tengok teman-teman yang sibuk mengbrol, emmm .. bukan
mereka, ku tengok seisi bus, tak ada yang memperhatikan ku, lalu dari siapa
pesan ini. Aku membalas bertanya siapa dia, tapi sampai aku turun dari bus, ia
tak lagi mengirim pesan.
Rutinitas
yang sama setiap hari, berangkat pagi berdiri di pinggir jalan menanti bus
sekolah langganan. Sembari menunggu bus datang aku bernyangi-nyanyi lirih, satu
lagu favorit dari koes plus berjudul bus sekolah.
“bus sekolah yang ku tunggu ku tunggu.. tiada
yang datang.. ku lelah berdiri berdiri.. menanti nanti.. bila ku pergi
bersama..” belum selesai bernyanyi bus sudah datang,
nampaknya bus ini tak membiarkan ku bernyanyi sampai bait kekasihku hehe…
Hari yang
singkat karena semua berjalan normal dan lancer, taka ada rencana sepulang
sekolah ini aku langsung pulang kerumah naik bus, di tengah perjalanan aku
kembali mendapat pesan yang sama.
Aku mulai
berfikir kenapa ia mengetahui apa yang sedang ku lakukan, asumsi ku mengatakan
apakah aku seperti orang aneh karena menengok ke jendela dan senyum-senyum
sendiri ?? aku memang beberapa kali melakukannya, itu karena saat aku
memperhatikan seseorang dan bergumam dalam hati, tapi aku tak bisa tersenyum
dalam hati.
Aku
membalas dengan pertanyaan sama seperti kemarin, tapi tak juga mendapat
balasan. Aaaahhhhhhhhhh………………. Apakah kondektur bus yang mengirim pesan itu
?!!! Ahhrrrrrr.. mana mungkin .. mana mungkin ? haha.. pendapat macam ini, atau
mungkin supir ??........... plakkk lebih tak mungkin LAGI ..!!
Seperti
biasa aku mendapat pesan yang sama, kali ini aku tak membalasnya, biarlah
anggap taka da pesan itu, bus belum berangkat penumpang masih sepi, mataku
menyorot pemuda yang sedang mengemas cimol.
Dia
menatapku tak berpaling, aku mengedipkan mataku, ia masih menatapku, aku
mengalihkan pandanganku, ada apa tukang cimol itu ? sepertinya aku bersikap
normal kali ini.
Di hari
berikutnya, aku tak sengaja mendapati dia kembali menatap ku, saking
penasarannya, aku tantang saja dengan menatapnya balik, waahhh…………… entah
berapa lama kami saling bertatapan, tapi karena ramai pembeli ia jadi sibuk
dengan cimolnya dan mengalihkan pandangannya.
Haha… aku
merasa menang ..!! pesan itu tetap datang meski aku mengabaikannya, tapi kali
ini pesannya berbeda, “senyuman yang
manis setiap menengok melalui jendela” pesan dari orang tak di kenal.
Haaaaaaa…….
!!!! jangan-jangan tukang cimol itu ..?!!! ah yang benar saja, beli disana aku
tak pernah, saling menyapa aku tak pernah, apalagi memberi nomor hp ku ke dia.
Pulang
sekolahku di sibukkan dengan adegan dalam bus yang sama, memperhatikan tukang
cimol apakah ia memperhatikan ku lagi, dan menunggu kiriman pesan apa untuk
hari ini.
Awalnya
aku berusaha mengabaikannya saja, tapi nampaknya aku mendapat peran utama, di
pasangkan dengan orang yang mengirim pesan misterius serta pemuda tukang cimol.
Haha…. mungkin ini cerita yang penuh teka-teki.
#Yogyakarta_20
November 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar