Senin, 20 November 2017

cerpen "Bus Sekolah"



Bus Sekolah


Jadi siswi baru di sekolah menengah atas membuatku banyak berimajinasi tentang berbagai hal, hari ini memakai rok abu-abu dan di pandang sebagai siswi SMA yang menawan.

Yaahh… aku masih ingat kala aku masih duduk di sekolah dasar, sepulang dari pasar menemani ibu untuk berbelanja, duduk di samping dua siswi SMA yang mengobrol seru, ada beberapa istilah yang tidak aku mengerti, tapi mendengar obrolan mereka sepertinya sangat menarik.

Imajinasiku bergerak, andai nanti aku jadi siswi SMA mungkin aku akan seperti mereka, pulang sekolah naik bus bersama teman-teman, mengobrol ceria membahas tentang sekolah dan kisah cinta.

Tidak butuh waktu lama untuk mewujudkannya, entah kemana hari-hari kemarin pergi, aku sudah berada di sekolah ini. Meski belum ada hal istimewa terjadi, aku berusaha membuat hariku indah dan bersemangat.

Berangkat pagi agar tidak terlambat, berada di pinggir jalan tepat pada jam keberangkatan bus yang sama, menghirup udara pagi yang masih sepi kendaraan. Jam enam lebih sepuluh bus langganan akan lewat, warnanya hijau dengan kondektur ramah, supir yang asik dan selalu memutar lagu-lagu pop.

Kursi langganan pula, aku duduk di kursi samping jendela. Butuh lima belas menit untuk sampai di sekolah, sepanjang perjalanan mendengarkan musik, dan melihat pemandangan pagi, betapa banyak anak-anak yang berangkat sekolah.

Belum ada yang istimewa dalam sekolah, kecuali teman-teman baru yang menyenangkan. Beberapa siswsi memperhatikan kaka kelasnya, tebar-tebar pesona agar dapat perhatian.

Entahlah, sesuatu yang ku cari belum aku temukan,, menjadi siswi SMA tak se hebat yang aku bayangkan. Sama saja belajar, mengerjakan tugas, ulangan, upacara dan kegiatan sekolah lainnya.

Pulang sekolah naik bus langganan yang sama, tapi tak ada yang menarik untuk di bicarakan bersama teman-teman. Aku memilih duduk sendiri dekat jendela, meletakkan daguku ke jendela, melihat sekeliling siswa-siswi yang menggunakan seragam sekolah masing-masing.

Berbagai raut wajah terlihat, letih, lelah, capek, ngantuk, di sisi lain terlihat ceria, ekspresif, bersemangat dan banyaaakkk raut wajah lain yang terlihat. Para motivator berteriak jadilah pemain jangan hanya jadi penonton.

Aku tersenyum tentu saja aku setuju, namun karena saat ini aku belum mendapat peran utama, aku putuskan untuk jadi penonton lebih dulu, belajar dari orang-orang yang kuperhatikan.

Jauh meninggalkan lingkungan sekolah aku masih berada pada posisiku sampai hp ku berdering tanda pesan masuk, “jangan menengok keluar jendela terus, nanti masuk angin” pesan yang membuatku terkejut agak aneh.

Nomor tidak di kenal, ku tengok teman-teman yang sibuk mengbrol, emmm .. bukan mereka, ku tengok seisi bus, tak ada yang memperhatikan ku, lalu dari siapa pesan ini. Aku membalas bertanya siapa dia, tapi sampai aku turun dari bus, ia tak lagi mengirim pesan.

Rutinitas yang sama setiap hari, berangkat pagi berdiri di pinggir jalan menanti bus sekolah langganan. Sembari menunggu bus datang aku bernyangi-nyanyi lirih, satu lagu favorit dari koes plus berjudul bus sekolah.

“bus sekolah yang ku tunggu ku tunggu.. tiada yang datang.. ku lelah berdiri berdiri.. menanti nanti.. bila ku pergi bersama..” belum selesai bernyanyi bus sudah datang, nampaknya bus ini tak membiarkan ku bernyanyi sampai bait kekasihku hehe…

Hari yang singkat karena semua berjalan normal dan lancer, taka ada rencana sepulang sekolah ini aku langsung pulang kerumah naik bus, di tengah perjalanan aku kembali mendapat pesan yang sama.

Aku mulai berfikir kenapa ia mengetahui apa yang sedang ku lakukan, asumsi ku mengatakan apakah aku seperti orang aneh karena menengok ke jendela dan senyum-senyum sendiri ?? aku memang beberapa kali melakukannya, itu karena saat aku memperhatikan seseorang dan bergumam dalam hati, tapi aku tak bisa tersenyum dalam hati.

Aku membalas dengan pertanyaan sama seperti kemarin, tapi tak juga mendapat balasan. Aaaahhhhhhhhhh………………. Apakah kondektur bus yang mengirim pesan itu ?!!! Ahhrrrrrr.. mana mungkin .. mana mungkin ? haha.. pendapat macam ini, atau mungkin supir ??........... plakkk lebih tak mungkin LAGI ..!!

Seperti biasa aku mendapat pesan yang sama, kali ini aku tak membalasnya, biarlah anggap taka da pesan itu, bus belum berangkat penumpang masih sepi, mataku menyorot pemuda yang sedang mengemas cimol.

Dia menatapku tak berpaling, aku mengedipkan mataku, ia masih menatapku, aku mengalihkan pandanganku, ada apa tukang cimol itu ? sepertinya aku bersikap normal kali ini.

Di hari berikutnya, aku tak sengaja mendapati dia kembali menatap ku, saking penasarannya, aku tantang saja dengan menatapnya balik, waahhh…………… entah berapa lama kami saling bertatapan, tapi karena ramai pembeli ia jadi sibuk dengan cimolnya dan mengalihkan pandangannya.

Haha… aku merasa menang ..!! pesan itu tetap datang meski aku mengabaikannya, tapi kali ini pesannya berbeda, “senyuman yang manis setiap menengok melalui jendela” pesan dari orang tak di kenal.

Haaaaaaa……. !!!! jangan-jangan tukang cimol itu ..?!!! ah yang benar saja, beli disana aku tak pernah, saling menyapa aku tak pernah, apalagi memberi nomor hp ku ke dia.

Pulang sekolahku di sibukkan dengan adegan dalam bus yang sama, memperhatikan tukang cimol apakah ia memperhatikan ku lagi, dan menunggu kiriman pesan apa untuk hari ini.

Awalnya aku berusaha mengabaikannya saja, tapi nampaknya aku mendapat peran utama, di pasangkan dengan orang yang mengirim pesan misterius serta pemuda tukang cimol. Haha…. mungkin ini cerita yang penuh teka-teki.





#Yogyakarta_20 November 2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar