Wanita
Penulis .2
Belum
lama dari kejadian kemarin, aku kembali menata diri, lebih fokus dan mencoba
menempatkan diri sebagai penulis yang sesungguhnya. Beberapa rekan memang tak
terlalu memperdulikanku, tapi semangatku tetap pada jalan ini.
Bukan
tanpa alasan aku memutuskan jadi penulis, mengingat beberapa tahun lalu aku
mencoba menjadi apa yang aku inginkan tapi tak kudapatkan. Melelahkan memang
mengejar sesuatu yang terus menjauh. Menulis
bukan hal yang buruk, setelah aku terjun ke dalamnya ini adalah dunia yang
menyenangkan, alih-alih aku tak bisa menjadi apa yang kuinginkan, dengan
menulis aku bisa dengan bebas menempatkan siapa peran utamanya sesuai keinginan
ku.
Dalam
perjalanan ke perpustakaan, tak jauh dari hadapanku berjalan seorang tunanetra dengan
tongkat ditangannya yang menuntunnya, ia berjalan dengan yakin terlihat dari
langkah kakinya yang panjang tanpa terseret-seret.
Aku kagum
melihat pemandangan ini, aku mempercepat langkah kakiku agar bisa lebih dekat
berjalan di belakangnya. Sesekali tongkatnya mendapati halangan, ia bergeser
menghindarinya, wahh… seakan hafal jalan ia memperbaiki arah dengan akurat ,
penasaran kemana tujuannya aku terus mengikutinya.
Sampai
pada gerbang Universitas, ia mempercepat langkah kakinya, oohh………….. anak
kuliahan ?? sepertinya bagus untuk tulisan ku, tapi harus ada pendekatan agar
aku bisa menulis kisahnya lebih detail dan nyata. Aku
membiarkannya menjauh, sepertinya ia terburu-buru, aku melanjutkan perjalanan
ke perpustakaan, membaca-baca menambah referensi, melihat keadaan sekitar mencari
bahan mengarang cerita.
Keluar
dari perpustakaan, mataku menemukan sosok yang tadi pagi ku ikuti, waah…
sepertinya sudah takdir kami di pertemukan. Aku kembali mengikutinya, menunggu
waktu yang tepat untuk menyapanya. Aku
mendekatinya bersiap menyapa, belum juga aku beraksi seorang pengendara motor
memanggilnya, nampaknya mereka saling kenal mungkin teman, laki-laki itu pergi
membonceng pengendara motor itu.
Ahh…..
aku kehilangan kesempatan menyapanya, okeee tidak papa, mungkin nanti atau
besok akan bertemu lagi. Dering nada pesan masuk, dari redaktur majalah
menagih cerita yang sudah dua minggu ini belum ku kirim, bukannya belum aku
kirim tapi aku belum menulis sebuah cerita untuk di kirim.
Lagipula
belum tentu, naskah cerita yang kukirim dimuat, biasanya redaktur akan
mengkritik tiap tulisanku sebelum memuatnya, atau menggantinya dengan cerita
dari penulis lain. Atau lebih parah lagi editor yang mengubah ceritaku hampir
lebih dari setengahnya. Karena
terikat kontrak dan perjanjian yang sudah kusepakati, aku tak bisa melakukan
apa-apa. Malam ini aku mulai menulis, sebuah judul sudah terlintas dalam benakuku, tinggal mengetiknya dan lihat apakah judul ini menarik.
Ditemani
semangkuk mi instan, aku bolak-balik mengedit judul yang terpikirkan, dibanding mengedit judul-judul itu, aku lebih menikmati mi instanku. Mungkin aku
bisa nambah, lagipula persediaan mi instanku banyak.
Bersamaan
dengan habisnya mi instan, jariku kembali mengetik judul yang kali ini sudah
ku tentukan dan tak akan diubah lagi. Yaaahh…. Setidaknya malam ini aku
benar-benar mendapat judul untuk cerita ku. “Tunanetra
Yang Ku Ikuti”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar