Di Pesta Pernikahan
Pesta yang meriah, suasana yang ramai penuh kebahagiaan
dan rasa haru, Nia sah menjadi seorang istri dari lelaki yang sudah dipacarinya selama tiga tahun. Tamu undangan terus berdatangan, aku duduk di barisan
paling depan, memandangi temanku yang kini tengah duduk di singgasana bak
seorang raja dan ratu.
Kursi sebelah kiriku kosong, mungkin seharusnya itu di
tempati oleh pasanganku yang entah kini ada dimana, sebelah kanan ku Via yang
tentu saja disandingnya pacar tersayang. Agak canggung memang hadir di
pernikahan dengan teman yang memiliki gandengan, lantas aku harus menggandeng
siapa?.
Beberapa orang di belakang bergumam ribut, bukan kepedean
tapi merasa mereka menggunjingku di belakang. Sesekali pasangan pengantin itu
bergurau saling tersipu malu, membuatku senyum-senyum sendiri melayangkan
imajinasi.
“Marisa ..!!”
Aku menengok ke arah panggilan itu, yap.. orang-orang
yang duduk di belakang ku, aahh... ternyata dari alumni SMP yang sama. Aku hanya
tersenyum, yaahh...beberapa dari mereka aku tak tahu namanya, bahkan aku tak
yakin apa aku ingat namanya.
“gimana kabarnya ?” belum juga aku menjawab, seseorang
menimpali pertanyaan lagi. “sama Iyan?” haa.... maksudnya kabarku sama Iyan ?!!, aku bergumam lirih.
Entah bagaimana ekspresi kala itu, aku hanya membalikkan
badan dan kembali pada posisi semula, yahh.. mereka adalah teman-teman Iyan,
tapi sejak kapan dan sejauh mana mereka tahu hubunganku dengan Iyan. Bahkan aku sudah tidak berhubungan lagi dengan dia,
tiba-tiba datang lagi nama itu, aku harus memberinya kesempatan atau aku harus
menunggu lebih lama lagi.
“Marisa..!!” panggilan itu terdengar lagi, aku
menghembuskan nafas panjang mempersiapkan sebuah senyuman terbaik dan kembali
menengok, tepat di depan mataku wajah Iyan yang semakin menawan. Tapi senyumanku
langsung terbang hilang entah kemana, perlahan aku membalikkan tubuhku.
Aku tidak ingin banyak berkomentar baik dalam hati maupun
dalam pikiranku di kepala. Via berbisik padaku “kamu sama Iyan ?” haha..
pertanyaan yang menohok rupanya, dengan tegas aku menjawab “enggak..!! enggak
sama sekali ..”
Kursi sebelah kiriku terisi, aku hanya melirik siapa
orang yang duduk, belum yakin siapa orangnya, dia bersuara yang jelas
kata-katanya di tujukan padaku. “apa kabar..?” Iyan menanyakan kabarku, hah..!! kemana saja
selama ini. “baik,..” aku menjawab singkat tapi sok ramah. “jadi kalian berteman dekat ?? kamu dan Nia?”. Tanya Iyan padaku.
Aku menengok ke arahnya, menatapnya dengan perasaan heran, apa
maksud pertanyaan ini, untuk memulai percakapan atau hanya sekedar pertanyaan basa-basi. “yaa.. kami berteman sejak SMA, kenapa ? aku bahkan tau
hubungan kalian yang dulu juga pernah dekat”. Jawabku mendesak, entah angin apa yang membawa jawaban ini, entah kata-kata itu
keluar begitu saja dari mulutku.
“enggak... kita gak deket, Cuma pernah kenal aja”. Iyan menjelaskan. “ya.. pernah kenal sampai dia harus memanggilmu saat
motornya mogok di jalan”. Aku paham betul hubungan keduanya. “dia minta bantuan, ya pasti aku bantu”. Iyan menjelaskan seolah tak ingin aku marah padanya. “karena hanya kamu di pikirannya jadi dia minta bantuan
mu”. Jawabku sengit. “itu tidak lebih dari apapun dibanding pacaran sama
Andri”. Mulutku tertutup rapat, mataku melebar, perasaan aneh
yang membuatku tidak nyaman, apa !! perasaan bersalah? mana mungkin, apa
salahku ? tidak.. tidak.. tidakk..!! itu terjadi jauh sebelum kedekatan ini.
“kenapa bahas itu ..?!”, aku menaikkan nada suaraku. “kamu yang mulai.. ya kenapa mendebatkan itu, bukannya kita gak lagi ada
hubungan..?”. Aku kembali diam, yaa.. kita memang tidak ada hubungan
apapun yang pantas membahas masalah itu, aahh... obrolan macam apa ini?!!. Sejenak aku disadarkan dengan hubungan yang tidak pernah terjadi, lalu untuk apa
meladeni kata-kataku, kenapa menunjukkan hubungan yang berbeda pada
teman-temannya, membuatku bingung dan frustasi.
Aku mengambil kadoku, bergegas bangun dan berpamitan
pada Via untuk pulang lebih awal, aku berjalan sendiri menuju pelaminan ,
mengucapkan selamat dan mendoakan yang terbaik bagi si pengantin, dan berlalu
meninggalkan kebahagiaan itu. Tak hanya kebahagian, aku juga dengan ikhlas meninggalkan masa lalu.
#Yogyakarta/25/11/2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar