Minggu, 11 Maret 2018

Petikan Isi PikiranKu



Who Is It


Aku tau dia jauh sebelum aku dewasa dan ia pernah begitu mengusikku  ketika itu,  bahkan aku tak dapat tidur sebelum menangis memikirkannya  dan itu berlanjut dalam waktu yang lama.
Sesaat bahagia untuk  melihatnya,  seketika juga sedih mengenangnya,  sampai ketakutan karena  kepergiannya. 

Waktu berlalu,  aku hampir tak pernah memikirkannya lagi,   sesekali hanya melintas untuk menyapa bahwa aku masih ingat dengannya,   tahun berlalu sampai angka usiaku bertambah banyak.  Seseorang  tak sengaja mengingatkanku padanya,  pada sosok yang mengusik pikiranku  bertahun tahun lalu.  Ia kembali menggedor hatiku dan mencabik cabik  isi pikiranku.  Mengiang ngiang di gendang telingaku,  menguras air mata  hampir setiap waktu.

Aku kembali memikirkannya dengan pengetahuan yang  lebih dalam dari sebelumnya.  Semakin aku tahu semakin itu pula aku tak  tenang.  Beberapa kali ku coba melupakannya dan berusaha tak  memikirkannya,  tapi ia terus saja ada dalam khayalku,  bahkan aku  terjerat pada lingkungan yang terus membahasnya dan itu membuatku  terganggu.  Aku jatuh cinta padanya aku mengaguminya tapi kalian tak  tahu bagaimana perasaan itu sangat mengganggu. Melihat kalian terus  membahas tentang sosoknya,  itu membuatku tak bisa berpendapat banyak.  

Aku mencintainya dengan caraku,  dan kalian tahu caraku berbeda,  aku  mencintainya tapi aku tak merasa harus ada dia di setiap nafasku.   Biarkan saja dia pergi, doakan saja yang terbaik baginya,  jangan kalian  terus genggam kehidupannya untuk kepuasan kalian. Entah ada atau tidak  dia di dunia, doa adalah yang terbaik yang dapat menolongnya dimanapun  dia berada,  jangan memaksakan dia untuk tetap hadir demi kesenangan  kalian.  Pikirkan betapa dia sudah cukup banyak memberi untuk dunia ini,  saat dia pergi biarkan saja, biarkan dia pergi entah benar atau tidak,  cukup doakan saja dia.  Doakan semampu kalian untuknya yang terbaik.

 Dan saat aku menyelesaikan tulisan panjang ini,  aku berharap pikiranku  tenang,  dan jangan lagi mengganggu maupun mengusik isi pikiranku.  Aku  mencintainya ketika dia telah tiada,  aku harus bagaimana?  sepertinya  mengharap agar dia tak datang lagi dalam pikiranku jika hanya untuk  membuatku bersedih dan penuh tanya. Jangan mengada ada, lanjutkan saja  hidup seperti dia pernah hidup.

#foryou

Minggu, 25 Februari 2018

DiaryKu "Kejenuhan ini Makin Memuncak"



Kejenuhan Ini Semakin Memuncak

Dunia semakin meninggalkanku, jika aku tidak mengejarnya kemana aku harus pergi dan dimana aku tinggal ?, bahkan sampai kini aku belum menemukan siapa diriku ? berkali aku memilih untuk menjadi satu dalam diriku, hasrat lain muncul memisahkan diri, pemberontakan demi pemberontakan semakin membuatku goyah.

Dari sudut sana, kumpulan manusia yang mempunyai ambisi kuat, pertarungan apapun yang siap mereka hadapi apapun cara dan bagaimanapun hasilnya harus membuatnya puas.

Aku yang terdiam disini hampir-hampir sudah tak terlihat lagi, sepi sendiri, bagaimana rasanya ditinggalkan dunia? Sekeras apa kau bisa mengejarnya ? sejauh mana kau bisa bertahan ?

Aku mengunci diri didalam kamar, tak seorangpun tau bagaimana keadaanku, ahh... bagaimana akan tahu, bahkan aku tak diberi kesempatan untuk mengutarakannya atau menumpahkannya saja dijalanan.

Hatiku beku tak dapat bergerak aku sudah tak punya rasa, terus saja mereka meneriaki ku tak guna berada diantara mereka. Tak ada lagi yang ku cari disini, untuk apa tetap bertahan ..?

Kejenuhan ini semakin memuncak, aku tak dapat mengendalikan diri, bukan ini..bukan ini diriku yang sebenarnya. Bukan ini yang ingin ku tunjukan, bukan ini titik nyaman ku.

Lalu bagaimana aku harus pergi, daripada ditinggalkan bagaimana caraku untuk pergi , bagaimana ..?

Sabtu, 17 Februari 2018

PUISI |BUKU|



BUKU

Tertutup rapat penuh debu
Tak ada yang menyentuhku
Diam sendiri terbelenggu
Tiada yang memperdulikanku
Kapan terakhir aku dibuka
Aku tak ingat waktunya
Dulu selalu berguna
Sebelum benda itu tiba
Sampulku hampir tak terbaca
Tertutup debu dan noda
Sendiri di ruang berkaca
Tak satupun yang membuka



#Yogyakarta, 17 Feb 2018

Minggu, 11 Februari 2018

Anak Gadis Ayah


<script async src="//pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js"></script>
<script>
  (adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({
    google_ad_client: "ca-pub-5390189565408946",
    enable_page_level_ads: true
  });
</script>

Puisi
Anak Gadis Ayah
Oleh : Syta Dwy Riskhi

Harum Bunga Melati Merebak
Memberi Khas Indahnya Hari ini
Bibir merah yang terus tersenyum
Hiasan rambut yang menawan
Gaun indah yang begitu anggun
Membalut diri dalam kebahagiaan
Ucapan sumpah janji sehidup semati
Penantian yang berujung pada tujuan

Ayah.. ini anak gadismu Telah tergenggam tangannya
Oleh seorang laki-laki .. Ayah.. ini anak gadismu
Hati, dan jiwa nya menyatu bersama seorang laki-laki
Aku dibesarkan dalam ayunan kasih sayangmu ayah
Dan kini aku akan meninggalkan rumahmu ayah
Begitu sulit untuk melepas diri dari kenangan
Aku akan mengingat suka duka bersamamu ayah
Seluruh kerja keras dan pengorbanan mu ..
Terimakasih ayah...