Wanita Penulis
Udara
dingin menyelimuti kota hari ini, setelah tiga jam bersembunyi di dalam kamar. Aku
mengambil jaketku lalu mengenakannya, memeluk laptop dan beberapa lembaran
kertas. Ku raih tas slempangku dan memasukkan dompet ke dalamnya. Ku buka pintu
kamar udara itu memaksa masuk dan menyerang tubuhku. Rintik-rintik hujan masih
terasa, aku melangkah pelan agar genangan air tidak menyiprat.
Meja
bundar yang kosong dengan dua kursi tanpa penghuni, aku memesan coklat panas
menikmatinya sendiri, menggenggam gelas itu agar tanganku merasa hangat. Laptop yang menyala menampilkan
kursor yang berkedip-kedip menanti ketikan kata dari jari-jariku. Mataku berlarian
memandang sekeliling kesana kemari, berharap mendapat inspirasi sebagai bahan
menulis.
Aaahh....
jadi penulis haruslah pandai-pandai mengamati, karangan cerita yang tercipta
mesti dapat diterima oleh pembaca. Mataku berhenti berlari, aku menyorot
pandangan yang biasa terjadi. Pasangan muda-mudi yang di mabuk asmara, di bawah
rintikan gerimis berjalan bergandengan, sesekali merangkul dan berpelukan,
bercengkerama dan saling menebar senyum. Ini dia sepasang remaja jatuh cinta,
saling ikat janji setia, bermimpi kelak membina rumah tangga, suka duka
bersama, bagai dunia milik berdua. Nafasku berhembus sinis, semua karena mereka
adalah remaja, belum mengerti rintangan hidup yang sebenarnya. Jariku sudah
jenuh menuliskan kata-kata cinta puitis yang di kehidupan nyata tidaklah benar
terjadi. Paling-paling hubungan macam itu tak akan bertahan lama.
Mataku
menangkap pemandangan lain, seorang bocah melompat-lompat gembira, bermain-main
genangan air, di belakangnya ada seorang ibu yang mengawasi. Yaa .. ibu dan
anak, mungkin sang anak berumur lima tahun, berjalan dengan riang, tanpa beban,
ibunya tersenyum menjaga dari belakang. Sesekali sang anak menoleh, memberi
tanda apakah ia boleh melompat ke genangan air, tanpa ragu si ibu mengangguk,
ia memberi kebebasan yang menyenangkan. Pasti dalam hari si ibu berdoa, semoga
kelak sang anak menjadi orang yang hebat. Ia memberikan kasih sayang penuh
tanpa pengekangan. Semua anak yang punya orang tua pasti mendapat kasih sayang
serupa. Hubungan mereka terlihat harmonis dan baik-baik saja. Harusnya ada
kisah lain yang berbeda untuk aku tulis.
Aku kembali
mencari hal lain, di sudut jalan terlihat penjual ice cream yang kebingunan,
mungkin ia berfikir kemana ia harus menjual dagangannya di cuaca dingin begini.
Beberapa kali tengak-tengok, ia menemukan tempat, berhentilah ia disitu tidak jauh
dari gerbang taman kota, beberapa murid sekolah menghampiri, memilih dan
membeli ice creamnya, belum jauh dari si pedagang mereka membuka bungkus ice
cream dan berpose di depan handphone, Oohh.. mengambil gambar sedang makan ice
cream di cuaca begini, lalu di unggah ke media sosial, pasti mendapat like dan
komentar cukup banyak. Anak sekarang memang suka cari sensai. Aku tersenyum dan
bersyukur ada anak-anak seaktif itu, setidaknya mereka sudah membantu si
penjual ice cream.
Tidak ada
yang istimewa hari ini, jari-jariku belum bergerak menari-nari di atas
keyboard. Aku tidak menemukan sesuatu yang bisa ku tulis. Gelas coklat panasku
sudah kosong, aku menoleh ke dalam kedai, haruskah aku memesan segelas lagi dan
duduk disini lebih lama. Aku beralih pikiran, di kaca kedai itu terlihat sosok
wanita berjaket merah yang duduk sendiri, umurnya sekitar 25 tahun, dia hanya
duduk, tidak melakukan aktivitas apapun, tidak pula menunjukkan ia sedang
menunggu seseorang, gelas yang ada di mejanya juga tidak dia sentuh. Duduk terdiam
dengan tatapan kosong, seolah melamunkan sesuatu, atau merenungkan sesuatu. Beberapa
detik kemudian matanya sayu, kepalanya
merunduk perlahan. Sepertinya ia mencari sesuatu tapi tidak dia temukan. Ia menarik
nafas dan menyadarkan diri, membereskan meja, menutup laptopnya, menata
lembaran kertas untuk disatukan. Wanita itu berdiri dari kursi memeluk laptop
dan lembaran kertasnya kemudian pergi dari kedai. Aku kembali ke kamarku,
bersembunyi dari dinginnya udara luar. Meninggalkan inspirasi yang bahkan belum
aku temukan.
#Yogyakarta_27/10/2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar