Malam II
Hari
ini mata kuliah penuh dari pagi sampai sore, aku melihat jam menunjukkan pukul
lima, aku bergegas pulang ke kost, mengambil flash disk yang tertinggal dan
berjalan menuju halte. Tak lama bus yang aku tunggu datang, bus yang
mengantarku, ke tempat percetakan, nasib saja percetakan dekat kampus ada
kendala mesin.
Sampai
di percetakan, aku bergegas masuk dan mengedit tugasku, urusan edit saja
meghabiskan dua jam, menunggu proses cetak hampir satu jam, setengah sembilan
malam aku keluar dari percetakan, berjalan menyusuri kota pelajar yang
istimewa.
Sampai
di halte, aku menunggu bus yang mengantarku pulang, sembari menunggu aku
melihat hasil cetakan tugaku, aahh.... nasib ada kesalahan cetak. Aku tak bisa
berhenti mengomel dalam hati. Seandainya aku lebih teliti mungkin ini tak akan
terjadi.
Sampai
di kost, aku melempar tugas itu dan membiarkannya berserakan, aku tak mau
melihat hasil tugas itu. Aku berendam di bak mandi, mungkin dapat mengurangi
rasa panas di hati pikirku.
Aku
menyisir rambutku di depan cermin, seandainya dia ada, aku tak akan se kesal
ini, seandainya aku punya satu saja, mungkin aku tak se kesusahan ini. Aku
meraih jaketku, menengok jam yang sudah menunjukkan pukul setengah sebelas
malam.
Aku
keluar kost, mencari sesuatu yang bisa menenangkan pikiranku, meski aku belum
makan sehari ini, tapi aku tak nafsu memakan apapun. Aku membeli coklat panas,
yaa... coklat bisa meredakan stres.
Aku
duduk di pinggir taman, suasana nya tidak terlalu sepi juga tidak ramai, ada
beberapa orang duduk di tengah taman, ada beberapa orang makan di angkringan.
“ada masalah ?” suara
cowok yang mengagetkanku, aku menoleh dan bertanya apa yang dia katakan. Dia
tersenyum dan menanyakan apa aku baik-baik saja. Dengan rasa bingung, aku
mejawab iya.
“kenapa nangis ?”
mendengar pertanyaan nya, aku terkejut, hah... aku menangis ? aku memegang
pipiku, aahh.. ternyata pipiku basah, aku bahkan tak ingat kapan aku
mengeluarkan air mata ini.
Malam
semakin larut, tapi aku tak ingin menghadapi hari esok. Cowok itu masih duduk
di sampingku. Menatapku dengan rasa kasihan, mungkin wajahku memang terlalu ngenes.
“cerita aja, mungkin itu bisa
membantu, aku bukan orang iseng kok, ngeliat kamu sendirian dan nangis, aku
jadi gak tega” dia kembali berbicara, aku merasa malu dan marah,
aku tak perlu di kasihani apalagi kita gak saling kenal. “bukan apa-apa, cewek sendirian, di tengah malem gini, kan bahaya ?” kata-katanya membuatku makin malu.
Jangankan
menjawab kata-katanya, tubuhku saja jadi kaku tak bisa bergerak, suasana yang membuatku
canggung. “baru putus ?” dia kembali
bertanya, kali ini pertanyaan nya mengundang jawaban dariku.
“Hah ..!? emang cewek nangis
selalu karena putus ? karena cowok atau karena cinta ?? emang hidup di usia ini
melulu soal pacar ?, aku malah gak ada waktu untuk hal seperti itu, meski aku
sangat ingin punya, dan merasakannya juga, tapi aku gak punya kesempatan. Aku
disini mau buang rasa penatku untuk hari tadi, apa orang-orang melihatku segitu
mirisnya nangis karena pacar ? “
Wahh.....
aku meluapkan emosiku, apa iya orang-orang melihatku begitu ? haiishh.... nasib
sekali aku ini. Benar-benar tidak ada yang mengerti, aku meninggalkan cowok
itu, dan beranjak pergi.
#Yogyakarta_11Oktober2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar