Kamis, 23 November 2017

cerpen "Sunyi Sepi di Balik Tembok"



Sunyi Sepi di Balik Tembok


“Baiklah para pendengar setia, lagu-lagu kenangan telah saya putarkan menemani malam minggu pendengar setia, naah... kini tiba waktunya Merly undur suara dari ruang dengar pendengar setia, tapi jangan khawatir Merly akan kembali lagi besok di jam yang sama, selamat istirahat dan semoga mimpi indah,,, byee ..!”

Merly lega tak ada telepon misterius malam ini, beberapa minggu terakhir tiap siaran malam selalu ada telepon misterius entah dari mana dan siapa dia. Merly pamitan dengan rekan-rekan kerjanya.

Sudah jam 11 malam, Merly harus jalan kaki sampai ujung gang, motor yang rusak tadi sore belum selesai diperbaiki, jam segini susah mendapat ojek, ia harus berjalan sampai dekat jalan besar supaya cepat mendapat ojek.

Suasana sunyi sepi, hanya ada beberapa kucing liar yang berlalulalang. Lampu jalan yang mati menambah kegelapan malam ini, dari kejauhan seseorang berjalan dari arah berlawanan, Merly tetap tenang dan berjalan santai.

Mereka berpapasan, tanpa menyapa tanpa melirik, Merly menundukkan kepalanya, tak terjadi sesuatu, semua baik-baik saja, sampai beberapa jarak yang belum jauh, seseorang menarik tangannya.

Merly kaget dan hampir berteriak, namun mulutnya terbungkam telapak tangan, tubuhnya tak dapat bergerak dalam pelukan seseorang yang tubuhnya lebih besar dan kuat. Ia terseret ke semak-semak belakang gedung besar yang kosong, Merly dihempaskan ke tembok yang menjulang tinggi tanpa pencahayaan.

Dalam balik tembok itu Merly memasrahkan diri, sesuatu mencabik-cabik tubuhnya, perlawanan yang ia lakukan tak berarti apa-apa, suasana tetap sunyi sepi, ia berusaha mengigit dan menendang, pandangannya buyar, sesaat ia tak sadarkan diri, kepalanya dibenturkan ke tembok, darah mengalir melintasi wajahnya. Tak ada yang tahu sesuatu telah terjadi, dan suasana tetap sunyi sepi.




#Yogyakarta/23/November/2017
Syta dwy riskhi

Selasa, 21 November 2017

Wanita Penulis .3



Wanita Penulis .3

Pagi ini aku terusik dengan mimpi semalam, entah mimpi atau bukan atau sekedar khayalanku saja, tunanetra yang kemarin kuikuti hadir dalam mimpiku, mungkin karena aku terlalu memikirkannya hari kemarin.

Sudah kuputuskan, ia akan jadi tema tulisanku kali ini, bergegas menghabiskan roti lapis dan teh manis, aku segera menuju Universitas kemarin, yaahh... agak ekstrim memang menemukan seseorang yang tak kukenal di Universitas yang luas.

Setengah jam nongkrong di depan gerbang, belum ku temukan orang yang kucari, tak ada niatan untuk bertanya, kubiarkan semua berjalan begitu saja. Hmmmm..... belum juga kutemui sampai setengah hari.

Baiklah mungkin bukan hari ini, aku pergi ke tempat makan untuk istirahat dan mengisi energi. Belum juga pesananku datang, orang itu muncul dengan santai saat aku tak lagi bersemangat.

Aah......... haruskah aku kesana ?? belum selesai berfikir tubuhku beranjak mengejarnya. “awass.. ada besi !!” ku berteriak dan menarik tangannya. “oh.. terimakasih, tapi gak biasanya ada besi di jalan?” ia mengucapkan terimakasih dan bertanya bingung.

Jalan sedang di perbaiki jadi ada besi penghalang agar tidak ada yang melewatinya, ku jelaskan apa yang ku lihat padanya. Dia kembali berterimakasih dan memintaku untuk menunjukkan jalan yang bisa di lalui.

Haaaaaaa............... kesempatan !! ku tanya kemana dia akan pergi, dan menawarkan diri untuk mengantarnya, wahh.. tapi dia menolak dia merasa sudah biasa jalan sendiri.

Tak mau mengalah aku tetap mengantarnya, ku ajukan beberapa pertanyaan agar suasana jadi akrab. Di tengah perjalanan ia berhenti dan tertawa, duhh..... cacing-cacing di perutku sungguh kasar !!

Ia mengajak ku mampir di warung langganannya, dengan senang hati aku mengikutinya. Memang benar ia sudah hafal jalan, tak ada kendala kecuali besi tadi. Terimakasih besi ..? hehe..

Sembari menunggu makanan, aku memperkenalkan diri berbicara ini dan itu tak sungkan aku langsung mengatakan tujuanku untuk menulis cerita tentang dia. Yaah.. tanpa basa-basi aku ceritakan pula kejadian kemarin.

Ia merespon dengan baik, ia juga tak keberatan dengan kehadiranku. Tapi mengatakan hal lain yang membuatku bingung. “kakak ingin membuat cerita tentang aku? tentang bagaimana seorang tunanetra seperti ku bisa berjalan sendiri menuju kampus dan pulang ?” ia menanyakan pertanyaan yang membuatku agak canggung, apakah ia keberatan? “bagaimana kalau kita ganti temanya?, dibanding bagaimana aku bisa menghafal jalan, aku memiliki cerita yang lebih menawan.” Belum juga aku menjawab, ia melanjutkan kata-katanya.

Cerita lain? aku menegaskan kata-katanya, “ya.. aku pernah memiliki kisah yang indah sebelumnya, aku pernah mengalami cerita yang mungkin bagus untuk di tuliskan” kata-katanya membuatku berfikir, apa sebelumnya ia bisa melihat ?.

“kakak ingin menjadikan ku tema tulisan kakak, aku menerimanya, tapi bisakah kakak membantuku ?” dia bertanya agak serius padaku. Tanpa ragu ku jawab bisa saja jika aku sanggup.

“aku pernah mengenal seorang gadis yang membuat hidupku bahagia meski dalam waktu singkat, aku tak ingin menceritakan bagaimana aku bisa melanjutkan hidup disini dengan keadaanku seperti ini, aku ingin menceritakan kisahku dan gadis itu saja” ia mau membantuku tapi dengan cerita lain. Aku tak keberatan, karena ia juga sudah bersedia membantu.

Tapi sebelumnya aku menanyakan alasan kenapa ia ingin cerita tentang seorang gadis, apakah urusan asmara ? aku kurang tertarik sebenarnya.

“yaa... mungkin ada kisah asmara di dalamnya ? jika kakak menuliskan kisahnya itu akan membuat kenangan ku menjadi abadi dalam sebuah karya tulisan, apa seorang seperti ku tak pantas membicarakan asmara ?” kata-katanya membuatku kagum, hingga ku jawab aku tak bermaksud demikian, apapun itu aku akan mendengarkan ceritanya.

Makanan datang, kami menghentikan pembicaraan dan melahap makanan, dalam hati ku berkata, aahh... cerita seperti apa yang akan ia ceritakan, nampaknya aku harus mengganti judul cerita ku. Haaeemmm...






#Yogyakarta 21 November 2017



cerbung "Wanita Penulis .2"



Wanita Penulis .2


Belum lama dari kejadian kemarin, aku kembali menata diri, lebih fokus dan mencoba menempatkan diri sebagai penulis yang sesungguhnya. Beberapa rekan memang tak terlalu memperdulikanku, tapi semangatku tetap pada jalan ini.

Bukan tanpa alasan aku memutuskan jadi penulis, mengingat beberapa tahun lalu aku mencoba menjadi apa yang aku inginkan tapi tak kudapatkan. Melelahkan memang mengejar sesuatu yang terus menjauh. Menulis bukan hal yang buruk, setelah aku terjun ke dalamnya ini adalah dunia yang menyenangkan, alih-alih aku tak bisa menjadi apa yang kuinginkan, dengan menulis aku bisa dengan bebas menempatkan siapa peran utamanya sesuai keinginan ku.

Dalam perjalanan ke perpustakaan, tak jauh dari hadapanku berjalan seorang tunanetra dengan tongkat ditangannya yang menuntunnya, ia berjalan dengan yakin terlihat dari langkah kakinya yang panjang tanpa terseret-seret.

Aku kagum melihat pemandangan ini, aku mempercepat langkah kakiku agar bisa lebih dekat berjalan di belakangnya. Sesekali tongkatnya mendapati halangan, ia bergeser menghindarinya, wahh… seakan hafal jalan ia memperbaiki arah dengan akurat , penasaran kemana tujuannya aku terus mengikutinya.

Sampai pada gerbang Universitas, ia mempercepat langkah kakinya, oohh………….. anak kuliahan ?? sepertinya bagus untuk tulisan ku, tapi harus ada pendekatan agar aku bisa menulis kisahnya lebih detail dan nyata. Aku membiarkannya menjauh, sepertinya ia terburu-buru, aku melanjutkan perjalanan ke perpustakaan, membaca-baca menambah referensi, melihat keadaan sekitar mencari bahan mengarang cerita.

Keluar dari perpustakaan, mataku menemukan sosok yang tadi pagi ku ikuti, waah… sepertinya sudah takdir kami di pertemukan. Aku kembali mengikutinya, menunggu waktu yang tepat untuk menyapanya. Aku mendekatinya bersiap menyapa, belum juga aku beraksi seorang pengendara motor memanggilnya, nampaknya mereka saling kenal mungkin teman, laki-laki itu pergi membonceng pengendara motor itu.

Ahh….. aku kehilangan kesempatan menyapanya, okeee tidak papa, mungkin nanti atau besok akan bertemu lagi. Dering nada pesan masuk, dari redaktur majalah menagih cerita yang sudah dua minggu ini belum ku kirim, bukannya belum aku kirim tapi aku belum menulis sebuah cerita untuk di kirim.

Lagipula belum tentu, naskah cerita yang kukirim dimuat, biasanya redaktur akan mengkritik tiap tulisanku sebelum memuatnya, atau menggantinya dengan cerita dari penulis lain. Atau lebih parah lagi editor yang mengubah ceritaku hampir lebih dari setengahnya. Karena terikat kontrak dan perjanjian yang sudah kusepakati, aku tak bisa melakukan apa-apa. Malam ini aku mulai menulis, sebuah judul sudah terlintas dalam benakuku, tinggal mengetiknya dan lihat apakah judul ini menarik.

Ditemani semangkuk mi instan, aku bolak-balik mengedit judul yang terpikirkan, dibanding mengedit judul-judul itu, aku lebih menikmati mi instanku. Mungkin aku bisa nambah, lagipula persediaan mi instanku banyak.

Bersamaan dengan habisnya mi instan, jariku kembali mengetik judul yang kali ini sudah ku tentukan dan tak akan diubah lagi. Yaaahh…. Setidaknya malam ini aku benar-benar mendapat judul untuk cerita ku. “Tunanetra Yang Ku Ikuti”