Senin, 21 September 2020

Remot FM "Toko Kaset"

 --Bukan sekedar wajah jelita dan bukan pula emas permata sebagai upaya dalam bercinta..... Sungguhpun bumi berkeping dua ombak di laut jadi bencana tiada sesakit hati terluka,,, luka nan tiada pengobatnya.. Jangan kau tawar lagi cinta tak dapat dibeli tinggalkan aku sendiri........--

"Nah satu tembang lagu dari Endang S Taurina 'Cinta Jangan Dibeli' mengawali perjumpaan kita dimalam ini, selama dua jam kedepan Kiki akan menemani para pendengar dengan tembang tembang kenangan... Oh ya sekedar info yah pendengar malam ini hujan turun cukup deras,,,bagaimana dengan daerah pendengar? Bisa diinfokan nanti via sms di nomor 009673657888 pendengar bisa kirim salam dan juga minta lagu yang akan Kiki putarkan untuk menemani malam yang dingin ini.. Kita kembali ke tembang berikutnya, ada Annie Carera dengan 'Terperangkap Dalam Duka' special for you, tetap stay tune di sembilan poin tujuh remot FM, selamat mendengarkan.. "

--Mengapakah perpisahan terjadi antara kita berakhir dengan deraian air mata..... Tak kuasa ku melawan kehendak ayah dan bunda akhirnya ku terperangkap dalam duka.............--

"Kembali bersama kiki, wah sepertinya hujannya awet ini, hawanya juga sudah dingin dingin merinding... Pas banget kalau kalian minta tembang tembang kenangan, biasanya kan hujan ini waktu yang amat mendukung untuk kita kembali mengenang masa masa dulu ya, entah itu masa menyenangkan, menyedihkan, mengecewakan, atau apapun itu, nah sembari menunggu sms dari para pendengar Kiki mau cerita sedikit nih, kalau bahas masa masa dulu, Kiki jadi ingat satu moment ketika Kiki masih jaman sekolah menengah pertama, jadi ceritanya waktu itu nemenin bapak beli kaset di sebuah toko.

Kanan kiri rak kayu susun warna original tanpa cat warna disitu berjajar kaset pita, nuansanya masih sepi meski ada di pinggir jalan karena lalu lalang kendaraan ngga seramai sekarang. Penerangannya juga agak remang remang, kalau keluar toko,, cahaya bulan dilangit malam lebih terang. Waktu itu yang dibeli kaset pita Ratih Purwasih. Kiki suka aja gitu membayangkan kembali toko kaset jaman dulu itu, di langit langit toko bergantungan poster poster penyanyinya, dan beberapa papan harga berhiaskan debu tipis juga tergantung. Sayang tokonya sekarang sudah ngga ada, Kiki juga sudah lupa si tempat pastinya"

"jadi gitu pendengar, mungkin sekarang udah jarang ya, karena kan lebih mudah gitu kalau mau dengar lagu tinggal pakai HP aja, betul ngga pendengar? Boleh kasih pendapat kalian ya.. Oke sekarang kita bacakan sms yang sudah masuk ya, ada dari Rika, 'hai Kak Kiki, mau kirim salam ya buat keluarga dan semua yang masih mendengarkan remot FM, minta lagunya dari Ebiet G Ade yang Menjaring Matahari, pas banget ditempatku juga lagi hujan, sekian terimakasih' oke sama-sama Rika, terimakasih juga atas infonya, sepertinya beberapa wilayah Gerlang diguyur hujan merata ya.. Yuk langsung saja kita dengarkan bersama satu tembang dari Ebiet G Ade 'Menjaring Matahari' special for you....... 

--Kabut, sengajakah engkau mewakili pikiranku?

Pekat, hitam berarak menyelimuti matahari...Aku dan semua yang ada di sekelilingku........Merangkak menggapai dalam gelap..........Mendung, benarkah pertanda akan segera turun hujan?......... Deras, agar semua basah yang ada di muka bumi........Siramilah juga jiwa kami semua..Yang tengah dirundung kegalauan......--




____________


21/09/2020



Minggu, 13 September 2020

Puisi Senja

Tadi masih terang bercahaya, bumi yang kupijak masih terlihat subur

Entah apa yang sudah kulalui, entah bagaimana hari ini berlalu pergi

Cahaya itu sudah meredup berganti warna, merah atau jingga disebutnya??

Senja... Sebut dia Senja. Kepakan sayap burung memanggil dia Senja

Mereka bilang senja indah? Banyak bait puisi tecipta dari senja??

Lalu kenapa puisiku terkesan suram, warnanya redup hampir menghitam

Remang-remang hingga gelap dominan menyertai hari ini,,hari yang segera berganti



_____

Jawa Tengah 13 Sepetember

Sabtu, 12 September 2020

Puisi "Malam Minggu"

 

Eh langit sudah gelap

Mataku mulai terlelap

Eh itu mereka berdua

Tangannya mulai meraba

Eh bintang di langit nampak bertebaran

Sama seperti mereka saling bergandengan

Eh Aku teguk lagi botol ditangan

Mulutku mengumpat pada setiap pasangan

Eh ini Malam Minggu..!!! 

Hanya aku yang duduk termangu

_______

Sabtu 12 September 2020

Jawa Tengah

Lirik Lagu "Api Kehidupan" Nike Ardila

 Api cintaku yang membara nyaris hilang dihempas badai prasangka

Haruskah pasrah dan selalu mengalah

Dari keinginan yang berbeda.. 

Cinta ku putih hanyalah untukmu

Takkan berubah sampai akhir dunia

Namun kau tak pernah mengerti aku menang sendiri..

Haruskah hidupku menurut mengalah mendengar apa kata mu

Sampai kapankah ku harus begini

Mentari berikan sinarmu biarkan terang hidup ini

Nyalakan api kehidupan hangatkan cinta yang membara ho hoooo...  Mata hatiku

Ayunkan langkah pasti dalam cinta

____________________________________

Jumat, 11 September 2020

Komentar Dalam Hati

 

pinterest

Warna merah atau abu-abu ya, aku bergumam dalam hati menentukan warna baju yang akan ku kenakan ke pesta pernikahan teman. “10 menit lagi kita sampai dilokasi” ku baca pesan dari teman yang janjian datang bareng. “yuk jalan, siapa yang tahu jalan sini”. Aku mengegas pelan motorku memberi aba-aba disetiap belokan dan memperhatikan teman-teman yang melaju di belakangku. Kenapa acaranya sepi sekali, kenapa juga diadakan di rumah, oh ya kamu dapat undangannya? Aku cuma dikirimi pesan singkat. Aku ngga dapet undangan cetaknya tapi dapat undangan digitalnya. Eh aku malah dikasih tau Ica, katanya disuruh dia.

Begitu seterusnya teman-teman memperbincangkan sang pengantin wanita. Sesekali aku mendengarkan tapi tak menjawab apapun. Pandanganku mengawasi tiap meja, mencari seseorang yang mungkin aku cari. “Ris..!!!” aku menoleh mencari sumber suara. Afi teman Sekolah Dasar dulu, beberapa bulan lalu dia mampir ke rumahku bersama pacarnya.

“kamu udah lama disini?” tanyaku. “iya dari sore, aku nemenin Wulan. Aku ngirim pesan ke kamu Ris, biar kita sama-sama disini, Wulan ngga ada temennya”. Aku mengecek ponselku. “kamu sendiri” tanyaku melihat sekitar. “iya aku sendiri, makanya aku kirim pesan ke kamu”. Masih basa basi, aku bertanya “ngga sama pacar?”. “aku udah putus, udah lama malah”. Kaget, padahal hubungannya terlihat indah, dan sudah amat dekat. “sedih banget sumpah, tapi ya gimana lagi, dia udah sama yang lain”.

Aku berkomentar dalam hati, Wulan juga sempat putus, bahkan katanya musuhan, tapi tiba-tiba balikan sekalian nikah. Afi yang tanpa masalah dan keduanya bak tidak ada kekurangan satu sama lain, tiba-tiba putus. Komentarku terhenti, “Ris..!!! kamu kapan nyusul? Dari jaman sekolah katanya mau nikah paling dulu?”. Sentil kawan-kawan, aku hanya tersenyum namun lengkungannya kebawah. “ih capek banget ya, kerja di lapangan tiap hari kesana kemari ngejar target,” tapi kan gajinya lumayan, gumamku dalam hati. “loh lihat tuh Nia sampai sekarang belum ada panggilan, batuin gih biar cepet dapet kerja” “iya nih udah lama nganggur, kayaknya mamah udah mulai bosen lihat aku makan tidur, makan tidur doang”.

Tapi ... fotonya jalan-jalan terus, enak juga makan tidur, makan tidur, tapi duit buat jalan lancar terus, sinisku dalam hati. “kemarin aku dapat kabar dari Lila yang merantau, katanya sampai sekarang juga belum dapet kerja”. “loh terus biaya hidup dia selama disana, gimana”. Kan dia ada pacar disana, mungkin ikut pacarnya, aku menjawab dalam hati. “pengen keluar cari kerjaan yang nyaman, demi apa, atasanku sukanya marah-marah, enak banget cuma nyuruh-nyuruh, kalau ada kesalahan tinggal nglimpahin ke bawahan”. Ucapannya tegas menggambarkan kekecewaannya. “si Tata loh dia kan udah naik jabatan tuh, ya ampun sombongya ngga ketulungan,kemarin aku ketemu di depan cafe”. Sejak lahir juga dia udah sombong, aku terkekeh dalam hati. “mungkin ada transferan khusus” hahahahahah hahahah ahahaha...... tawa riuh ramai memecah suasana sepi disini. “kalian udah jenguk Vian, udah lahir tuh anaknya, tapi katanya pisah, trus anaknya dirawat kakek neneknya” hemmm itu kan kecelakaan, resiko nikah mudah juga begitu, ucapku dalam hati sambil manyun.

Wah wah semakin banyak saja perbincangan teman-temanku ini, aku hanya diam namun berdebat dalam hati. Aku menemui Wulan, basa basi biasa dan berpamitan. Teman-teman protes kenapa aku pergi duluan, aku berdalih ada janji dengan seseorang, hanya alasan supaya aku tidak terus berkomentar karena obrolan-obrolan mereka, bagaimanapun komentarku juga pedas dan begitulah kehidupan ini. Hingga aku melangkah berjarak dua meja, sudah terdengar lirih namaku disebut sebut. Mungkin akulah tema selanjutnya bagi pembicaraan mereka. Kali ini aku tidak ikut berkomentar.

 

 

11 September 2020

Jawa Tengah



Rabu, 09 September 2020

Rabbit Radio “Suara Malam”

 

“96 poin 9 Rabbit Radio, special for you..kembali bersama Riris yang akan menemani malam kalian selama 3jam kedepan dengan lagu-lagu kenangan pop rock pop melayu yang dapat pendengar request via sms di nomor 08967365733.. jangan lupa cantumkan nama, alamat, silahkan kirim-kirim salam untuk orang terkasih dan lagu keinginan pendengar, yuk sembari menunggu sms dari pendengar, Riris akan kasih sebuah lagu untuk membangkitkan semangat kita di malam ini, Poppy Mercury ft. Abiem Ngesti - Kugenggam Dunia,, special for you !!”

Waktu menunjukkan pukul 22.45, aku bergegas mengenakan jaket dan meraih tas jinjingku. Beberapa lampu sudah padam, ruangan terkesan remang-remang dengan kesunyian melengkapi malam ini. Tinggal empat orang di kantor, aku berpamitan dan melangkah keluar kantor. Sayup-sayup terdengar suara entah darimana terdengar seperti meneriakan nama ku.

“Riris..!! Riris,,,!! Sebelah sini..!!”

Aku menoleh kanan kiri mencari sumber suara. Tidak ada siapa pun, hanya sudut sudut gelap dan angin malam yang berhembus. Aku berjalan menuju parkiran motor, enggan memikirkan hal lain, aku fokus mencari letak motorku. Menyalakan mesin dan tancap gas, keluar gerbang seperti biasa disapa pak satpam dengan ucapan selamat malam. Ku balas dengan senyum dan anggukan kepala. Jalan sudah sepi, tentu ini bukan kali pertama, sudah hampir satu tahun bekerja disini, dua kali dalam seminggu dapat jadwal malam.

“Riris..!!”

Aku kaget dan menoleh ke belakang, aku sendirian di jalan ini, apakah halusinasi saja, aku bergumam dalam hati. Suaranya kali ini terdengar jelas dan keras, mungkin pikiranku sedang terganggu. Motorku tetap melaju, sesekali kembali kudengar suara-suara seolah memanggil namaku, suara riuh ramai seperti tengah ada perkumpulan didekatku. Mataku mulai sayu, pandanganku sedikit kabur. Ngantuk sekali rasanya, perjalanan masih sekitar 15 menit lagi.

“Riris...!!! Riris..!! ayo Ris..!!”

Apakah seseorang tengah menangis? Suaranya sesenggukan memanggil namaku, haruskah aku menghentikan laju motorku dan menenangkan diri. Aku tak kuat mataku ingin terpejam, ia hampir tertutup.

“Riris..!!!!!!!”

Mataku terbelalak, ku lihat beberapa orang disampingku, beberapa tidak ku kenal, dua lainnya ku kenal mereka adalah teman kerjaku, tubuhku terguncang beberapa orang fokus kedepan mereka tengah mendorong ku, aku tengah berbaring entah dimana, lampu-lampu lorong itu menyilaukan mataku, aku tak kuat mataku terus mengantuk. Mereka berteriak, satu orang melompat keatasku, ia menekan dadaku. Seseorang berteriak aku kehilangan banyak darah. Temanku berbicara via telepon menjelaskan kronologi kecelakaan yang mengerikan. Kali ini aku benar-benar tidak kuat lagi melihat dan mendengar. Semuanya semakin gelap dan sunyi. Aku tak lagi merasakan tubuhku, semuanya hilang dan tak dapat ku rasakan lagi.

 

#cerpen #fiksi #radio #suara #malam #jalan #rabbitradio

Selasa 8 September 2020

Jawa Tengah

Rabu, 04 Maret 2020

Puisi | Wajah Semalam

Foto Pinterest 

Haruskah hati memulai dari awal
Ketika rasa tak lagi mau memaafkan
Haruskah hati melupa sakit
Ketika rasa tak kunjung pulih

Rindu atau dendam yang kau bawa
Setelah pergi kini datang kembali
Harapan atau bosan yang kau rasa
Kembali menoreh kisah lalu

Biarkan hilang, biarkan semua sirna
Bagaimana tangan kan menyambut
Saat mata tak sudi melihat wajah itu
Wajah semalam yang hadir ditengah hujan
Dikala langit penuh bintang bersinar
Namun deras air mengalir membasah pipi


Bumi, 04 Maret 2020